
Sayup-sayup aku mendengar ada yang sedang berbicara. Aku mengenali suara keduanya. Laila dan Alang ..!
Kubuka mataku untuk meyakinkan pendengaranku.
Kulihat tepat mata Iwan sedang memperhatikanku.
Ku hanya menggeleng untuk dia tidak memberitahu Alang aku sudah bangun.
Kupejamkan mataku, berpura-pura tidur kembali.
Iwan berdehem "Nona Laila mari kita makan malam" ajak Iwan pada Laila.
Tampak Laila mengiyakan ajakan Iwan, keduanya terdengar melangkah dan menutup pintu.
Aku menggerutu dalam hati atas sikap Iwan meninggalkanku hanya berdua dengan Alang.
Selepas keduanya pergi, Alang sudah berada disampingku. Aku masih berpura-pura tidur. Tiba-tiba dia menciumku, membuatku refleks menahan nafas.
"Aku tau kamu sudah bangun beb" katanya masih tetap menempelkan bibirnya padaku.
Aku mendorong-nya dan memunggungi-nya.
"Katanya udah nggak ngambek lagi?" godanya sambil mencium leher dan telingaku dengan lembut.
Ku tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.
Alang hanya tertawa melihat tingkahku.
Alang malah naik keatas kas**ku, masuk kedalam selimut dan berbaring sambil memelukku dari belakang.
"Aku dan Tara tidak terjadi apa-apa, dia menjebakku saat diruang meeting. Iwan punya bukti pengakuannya saat mereka bertengkar di apartement, sewaktu makan malam kutegaskan bahwa kau istriku, dan dia masa lalu bagiku" jelasnya padaku.
"Dia tau penyebab aku pergi..!!" bisikku kalut dalam hati.
"Aku mau istirahat, jangan berisik" ucapku. Aku luluh pada ucapannya, tapi ku malu mengakui aku salah sangka, lagi.
Sambil menarik selimut kebawah Alang berkata, "Aku temani ya..." rayunya.
"Tapi kan di ruang meeting kamu menikmatinya" tambahku mencari pembenaran untukku.
"Nggak begitu beb, dia menarik leherku dengan paksa. Aku nggak bisa gerak kalo nggak aku dorong keras".
"Ya udah sana, sempit nih" ketusku.
Aku masih malu untuk bertemu apalagi menatap dirinya.
Ada yang mengetuk dan membuka pintu, beberapa perawat masuk membawakan makan dan obat untukku. Aku gelagapan karena posisi Alang s*r*nj*ng denganku.
"Maaf ya suster, pasiennya ngambekan, harus dirayu dulu" kekehnya mencandai suster.
"Geniiitt" kataku ketus.
Alang semakin tertawa, "Cemburuan juga pasien satu ini" godanya
"Ampuuunn nih orang masih seneng bikin gua malu" gerutuku.
Kamipun kembali hanya berdua, Alang bangkit dan mengambil makanan untukku, ingin menyuapiku, "Nggak mau, belom laper" kataku.
"Yang laper debay nya, mama nya udah kenyang liat papa nya dateng" godanya padaku.
"Jadi ngeselin banget, bikin gua keki mulu dari awal. Rasanya mau kabur keluar kamar, gak ketemu dia" sungutku dalam hati.
Akhirnya aku menurut disuapi olehnya. Tak berapa lama Laila dan Iwan sudah kembali. Aku menyuruh Alang untuk makan, biar aku lanjutkan makan sendiri. Dia tidak menggubrisku.
"Makasih udah nurut sama aku beb", ucapnya sambil menciumku, setelah menyelesaikan makanku.
__ADS_1
Lalu Alang keluar mencari makan ditemani Iwan si soulmate.
Laila memperhatikanku dengan pandangan menyelidik.
Dan kubingung harus bercerita dari mana. Lebih baik diam.
"Vin, tadi Rio nelpon. Kayaknya mau kemari jenguk lu" ujarnya.
Aku hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan di pintu. Dan Laila membukakan serta mempersiakan Rio untuk masuk.
"Vinaaa, gimana keadaanmu sekarang?" sambil memegang punggung tanganku.
"Udah baik-kan kok, makasih udah repot-repot jengukin".
Laila memberikan kursi untuk Rio duduk disampingku. Dan kembali sibuk menyiapkan buah yang dibawa Rio.
Kupanggil Laila sambil menepuk kasur untuk ikut mengobrol dengan kami. Laila paham kode-ku, agar suamiku tidak salah paham.
Obrolan sebagai teman dan partner kerja, sesekali aku menyindir untuk keduanya saling mengenal. Biasanya Laila mengalihkan pembicaraan, sedangkan Rio mencandai sindiranku.
Alang dan Iwanpun kembali. Pandangan matanya langsung mengarah pada tangan yang memegang tanganku.
"Alang, kenalin ini Rio kekasih Laila. Rio kenalin dia Alang suami saya" kataku sambil tersenyum yang dipaksakan.
Alang segera mendekati dan menjulurkan tangannya, dan memutar posisi tepat disamping ranjangku.
Ku tarik ujung bajunya agar duduk di kasurku, dan Laila menggeser kursi untuk Rio duduk, sambil mendelik mempertanyakan ucapanku tadi.
Aku hanya mengangkat alis.
"Rasanya saya pernah melihat Anda" ujarnya mencoba menebak.
Kemudian Alang menoleh padaku.
"Dia suami bohonganmu di cottage, aku melihatnya" astaga dia masih ingat hal itu.
Rio bingung tidak mengerti apa yang Alang bicarakan. Hanya mengerutkan kening sebagai tanda tanya.
"Kau punya hutang penjelasan untukku" kata Alang tegas sambil memicingkan matanya padaku.
Setelah berbasa-basi Rio pun pulang, diantar Laila dan Iwan ke tempat parkiran. Dan tibalah waktunya menerima interogasi.
"Siapa laki-laki tadi?"
"Rekan kerja, pelanggan toko ku"
"Kenapa waktu di cottage pantai Santania kalian begitu mesra?"
"Mesra apanya? Itu hanya perasannmu saja"
"Dia merangkulmu, dengan jelas aku melihatnya. Dan kenapa seolah-olah nggak kenal?"
"Kan aku kabur. Kamu juga nggak kenal aku, buat apa aku sok kenal..!" sungutku ketus.
"Ooh iya ya. Tapi kenapa mesra-mesraan begitu?"
"Udah deh jangan dibahas kalo bikin berantem" nadaku mulai kesal.
"Kan wajar aku nanya begitu beb"
"Kan biar kamu mikir aku orang lain saat itu. Antisipasi kalo kamu ingat aku"
"Jadi kalo aku nggak ingat, kamu begitu dibelakang aku?"
__ADS_1
"Kalo mantan kamu nggak bertingkah apa aku disini?" kataku sinis.
"........."
Ku menarik ujung bajunya untuk menoleh padaku, "Kalo Laila nanya soal kita gimana?" tanyaku.
"Apa nya yang gimana? Kan aku udah bilang kalo aku suami dan ayah nya debay" katanya menjelaskan.
"Kamu ngomong begitu?"
"Emang mau ngomong apa lagi?" sambil merapikan rambutku ke belakang telinga.
Aku hanya diam dan melingkarkan tanganku dipinggangnya.
.
.
Iwan pun kembali masuk ruangan dan mengabarkan kalau Laila ikut balik diantar Rio.
Aku senang mendengarnya. Bagiku keduanya pasangan yang cocok.
Alang beranjak dari kasurku, tapi aku menahannya, "Masih kangen ya..?" godanya sambil tersenyum dan menciumku.
"Ada yang harus aku bicarakan dengan Iwan, sabar ya..." sambil merapikan selimut ke dadaku, dan mengelus perutku.
Aku memperhatikannya yang kemudian duduk disamping Iwan.
📨: Kenapa harus bicara sembunyi-sembunyi?
Kukirim pesan padanya. Entah kenapa rasanya aku tidak ingin jauh darinya. Kulihat dia membaca pesanku. Sambil tertawa menuju arahku, Iwan pun mengikuti.
Alang naik ke ranjang, bersandar dan ku menopang pada pahanya. Lalu diusap-usapnya kepalaku.
"Wan, tolong kau urus semua. Begitu Vina bisa keluar kita langsung pulang, bawa pegawai toko ikut bersama kita. Semua sudah aku bicarakan dengan Laila" katanya sambil menoleh padaku.
"Dita mau tidur dikamar sama kita atau kamar Iwan?" tanyaku merasa heran.
Alang menaruh telunjuknya di bibirku. "Kamu diam saja, biar saya yang atur..."
"Gimana kamu yang atur, ini aja sulit untuk dibayangin..."
"Kau istirahatlah Wan, aku urus wanita bawel satu ini"
"Baik tuan, saya permisi"
"Heeey Wan, mau tidur dimana? Itu ada sofa" saat kulihat Iwan menuju pintu.
"Saya ada urusan diluar sebentar. Nanti saya kembali nyonya" lalu melangkah keluar.
"Jangan dipikirkan, Iwan harus mengurus semua. Menghubungi orang-orang yang akan membantunya besok" sambil mengangkat kepalaku, dan berbaring menghadapku.
"Kamu kalo lagi manja, manjaaaaa banget. Kalo lagi ngambek kayak nggak peduli" gerutunya.
"Kenapa? Nggak suka?" ketusku.
"Sukaaaa banget" sambil tertawa meledekku. Menciumi keningku bertubi-tubi.
"Viiin, panggil aku sayang dong..."
"Nggak mau, risih, aneh" ketusku.
"Bobok yuk, aku udah capek banget" lalu memelukku erat.
\=\=\=
__ADS_1