
Hari ini aku keluar Rumah Sakit. Setelah 2 malam diopname. Sekalian periksa kandungan, Alang terlihat lebih khawatir dari sebelumnya. Bahkan dia yang lebih rewel dibandingkan diriku. Heboh.
Aku berpamitan pada Laila dan Rio.
"Ku tunggu kabar baik dari kalian..." godaku pada keduanya.
Dita pun ikut denganku ke kota Dyvette. Selama perjalanan aku hanya tiduran, Alang menggenggam tanganku dan mengusap perutku.
Dita yang duduk didepan, terlihat tampak tertidur pulas. Sesekali Iwan harus mengurangi kecepatan untuk menahan kepala gadis itu.
Setelah sampai di kota Dyvette aku terkejut, kami pulang ke rumahku yang dulu. Kupikir ke apartement.
Iwan mempersilakan aku dan Dita masuk. Masih ada bi Mun dan bi Sri dirumah ini. Keduanya menyambutku dengan penuh senyum dan rasa haru.
Aku memeluk keduanya.
Alang sudah mengatur semuanya, dari mulai toko yang pindah, kamar baby, kamar Dita.
"Lang kenapa Iwan tidak ikut tinggal dengan kita disini?" tanyaku.
"Iwan itu laki-laki dewasa, punya keputusan sendiri. Yang penting kamu sudah memintanya, jangan didesak untuk mengikuti mau kamu" kata Alang menjelaskan. Artinya Iwan akan tetap tinggal di apartement.
Keesokannya....
Kami sudah memulai aktifitas seperti biasa, setelah Alang dan Iwan berangkat, giliran aku dan Dita berangkat ke toko baru kami.
Dita dengan cekatan seakan tidak ada perubahan suasana. Cara dia berkomunikasi dengan pelanggan juga baik. Walau sedikit bawel dengan keadaanku.
"Bu... orderan pelanggan kita sudah diterima. Tapi ada beberapa yang minta di retur. Karena minta ganti warna, bagaimana bu?" tanya-nya jika butuh kebijakan toko.
"Kasih aja, nggak apa-apa" sambil ku lihat catatan rincian order.
Jika makan siang tiba, biasanya diantar ke toko oleh bi Sri atau bi Mun. Kami tutup jelang sore. Tapi kadang Dita lebih suka agak malam.
Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Dia pun menganggapku seperti seorang kakak. Semakin aku mengenalnya, Dita adalah gadis yang menarik. Sedikit watak tomboy namun sisi feminimnya tetap ada.
Tidak terasa, sudah beberapa minggu usaha toko kami berjalan. Usia kandungan-ku semakin dekat.
Tapi aku tetap beraktifitas, hamil bukan sakit. Jadi sebisa mungkin aku ingin lahir normal. Dokter pun mengatakan tidak ada masalah.
\=\=\=
Aku lebih dulu tiba dirumah, ada kiriman paket yang kupesan sudah tiba. Mainan gantung anak dan lampu putar "Lucuuuu...." bisikku.
"Laaaang, bisa bantu pasangkan lampu ini?" tanyaku padanya.
Waktu melahirkan tinggal beberapa minggu, aku ingin kamar ini sudah siap dan cantik ketika malaikat kecilku datang.
Alangpun memasangkannya dekat lampu, dan mencoba hasilnya, "Bagus juga..." katanya tersenyum sambil memelukku.
"Beb, udah lama kita nggak mandi bareng" bisiknya ditelingaku. Akupun menarik Alang menuju kamar.
"Bu..." sapa Dita yang baru masuk rumah. Menyerahkan hape yang tertinggal. "Makasih..." sambil tersenyum. Dita pun menuju ruang tamu dengan buku transaksi toko.
Kulihat Alang yang sudah dikamar mandi.
"Kemarilah..." sambil menarik tanganku. Dilepaskan pakaianku sambil terus menatap mataku. Wajahku merona ditatap seperti itu.
Diciumnya keningku, dan melepaskan semua tanpa sisa.
__ADS_1
Tangannya mulai bergerilya menelusuri t*b*hku, dengan sabun cair mengikuti l*k*k tub*hku.
Sesekali ciuman mendarat di bahuku.
"Laaaang... I Love you" bisikku sambil menikmati sent*hannya.
"I Love you more beb..." bisiknya.
"Don't leave me again..." sambil lidahnya bermain telingaku.
"Hemmmm" desahku halus merasakan j*rinya bermain di intiku.
Pancuran air shower yang hangat membilas bulir-bulir busa sabun ditub*hku.
Aku menahan tangannya untuk tetap di area intiku saat kami berciuman, tanganku m*r*mas pinggangnya. Ciumannya menjalar pada leherku, menimbulkan sensasi tersendiri.
Membenamkan wajahnya didadaku yang membusung, memberi tanda merah dan usapan lidah yang lembut.
Des*h*nku bergema saat masuk kedalam intiku dibarengi lidahnya menekan pucuk d*d*ku dengan gigitan kecil menarik lembut.
Membuatku refleks berjinjit dan menarik rambutnya.
Dia mulai bergerak berjongkok dan mengangkat satu kakiku berada di bahunya. Permainannya membuatku m*r*mas d*daku. Semakin lama membuatku mengapit p*h*ku, kumenerima juluran tangannya, merapatkan jariku pada ruas jarinya.
Semakin kencang ku meremas jarinya semakin dalam l*m*tannya. Hingga kurasakan pelepasan menegangkan tubuhku.
Alang memelukku yang melemah sambil mencium pucuk kepalaku.
Aku hanya mampu bersandar dan mengatur nafasku. "Love You beb...".
Memasangkan kimono lalu menggendongku ke kamar.
Ku lingkarkan tanganku di lehernya, menarik wajahnya "Love you Alang..." dan menciumnya lembut.
Tanganku mulai bergerilya di d*danya lalu menyentuh lembut kep*milikannya. Des*h*nnya membuatku semakin mel*mat bibirnya. "Aku nggak tak tahan beb..."
Ku ubah posisinya dia yang tel*ntang.
Mengapit kep*milikannya di dadaku. "Siapa yang ngajarin kamu begini beb" tanyanya sambil tersenyum atas ulahku. "Sshhhhtt..." bisikku.
Lalu permainanku dipangkal p*h*nya, mencium dan menelusuri dengan lid*hku. Masuk ke dalam mulutku dan bergerak berirama. Kur*mas pahanya hingga dia merasakan sensasinya. Kumerasakan denyutan yang akan keluar, semakin kubenamkan hingga Alang menyingkirkan kepalaku dan kugantikan dengan tanganku. Dia pun merasakan pelepasan diiringi suara yang tercekat dengan nafas tak beraturan.
Alang menarik tanganku, merangkul ku, "Gaya tadi siapa yang ajarin beb..." bisiknya dengan wajah yang terlihat puas. "Naluriku saja yang mau begitu" sambil mencium hidungnya.
"Laang, makasih atas semuanya..."
"Aku yang makasih beb..."
Air mataku menggenang, betapa kumerasa bersyukur memilikinya yang sangat sabar dengan ku.
"Heeeey, kenapa nangis..." sambil mengusap air mataku.
"Padahal kamu bisa dapat wanita yang lebih dariku Lang"
"Aku beruntung mendapatkanmu Vin"
"Apa yang beruntung? Kau harus menerimaku karena..."
"Itu nggak penting beb" ucapnya memotong perkataanku.
__ADS_1
"Tatap aku beb..." katanya sambil tersenyum.
"Kau dan debay membuatku jatuh cinta dan patah hati"
"Kalian cintaku... Jangan berfikiran buruk tentang dirimu Vin. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku memperjuangkanmu"
\=\=\=
Alang POVĀ
Aku menyusul Vina yang sudah ada di ruang bersalin. Wajahnya terlihat sumringah melihat kedatanganku.
Kugenggam tanggannya, melihat dalam matanya ada rasa sakit yang ditahannya.
Aba-aba dari dokter Dini membuat Vina menjerit "tarik nafas, ngeden, dorong, jangan angkat pinggulnya, ayo terus..." entah sesakit apa dia, ku hanya menahan tarikan pada rambutku, juga cakaran di tanganku.
Akhirnya terdengar lengkingan tangisan bayi di ruangan ini lalu
Vina melemah tak bertenaga.
Hatiku seketika penuh haru, kutatap wajah Vina yang berderai air mata dengan buliran keringat diwajahnya.
Semakin mempesona diriku.
"Love you beb... I love you so..." ku kecup semua wajahnya sebagai pelampiasan kebahagiaanku. Saat sedang mendapatkan jahit*n, dan bayi kami dimandikan.
Perawat memberi waktu untuk melihat sebentar bayi kami. Kemudian membawa pergi bayi kami ke ruangan khusus bayi.
Akupun keluar ruangan karena Vina akan ditangani lagi.
Kutemui Iwan untuk mengatakan :
"Its A Boy..." ucapku sambil tertawa bangga.
Kami menuju ruang tempat bayi. Aku ingin melihat debay lagi.
Bayi merah mungil itu terpejam sambil memainkan raut wajah yang berubah-ubah.
Setelah puas melihat debay, akupun menuju ruang rawat Vina.
Kulihat dia yang masih terkulai lemah dengan senyum hangatnya.
"Beb... Makasih kamu beri saya jagoan mungil. Makasih beb..." sambil mencium keningnya.
"Sudah siapkan nama buat jagoan?" tanya Vina mengingatkan.
Akupun baru memikirkannya.
"Dimas Arya Asmadi" sambil menoleh ke Vina, meminta pertimbangan.
"Iya, itu boleh juga..." sambil tersenyum mengusap pipiku.
Iwan yang sedari tadi disampingku begitu terlihat banyak menyimpan haru. "Wan..." tolehku.
"Ponakan lu namanya Dimas Arya Asmadi..." kataku tersenyum.
Tak ada kata-kata yang bisa Iwan ungkapkan. Iwan mengalami kehidupan keluarga kami sedari awal.
Emosi yang sama dengan kami.
__ADS_1
\=\=\=