Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.6 Pengorbanan mu


__ADS_3

Dia langsung beranjak mengambil tas yang kutinggal di dalam mobil.


Dibalurkannya minyak angin pada leher dan hidungku.


Aku tak ingin dia terlalu kuatir. Sungguh aku merasa banyak berhutang budi padanya.


"Dah yuk makan. Aku minum jus aja"


"Ya udah. Ayok" dia menuntunku kembali. Dan menggeser kedua piring pesanan kami tadi serta bergeser duduk diujung meja.


"Kenapa pindah sih? Jijik sama muntah gua tadi?" omelku padanya.


"Lu gak usah bawel. Minum tuh jus, gua makan dulu, biar ada energi ribut sama lu" aku hanya tertawa sambil menjulurkan lidahku.


Aku tau, dia tidak ingin aku mual lagi.


Setelah menyelesaikan makan dia menggandengku.


"Makan lu banyak juga ya... Dua piring ludes bersih gitu" celetukku


"Kan gua bilang, biar gua punya energi buat ribut sama lu. Lu ke mobil duluan sana" sambil menyerahkan kunci dan dia mengantri di kasir.


Alang memberikan jus Alpukat setelah tiba di dalam mobil.


\=\=\=


Alang POV


Vin, mau lu hamil atau nggak, gua tetap nikahin lu. Yang gua takutin kalo lu masih mencintai laki-laki itu.


Lebih baik gua gak tau, daripada gua jadi cemburu.


\=\=\=


"Vin...Vinaaa gua udah sewa apartemen kita deket kantor lu. Kalo rumah kontrakan susah deket sana" ujarnya padaku.


"Kenapa nggak ngomong dulu?"


"Kalo ngomong juga buat apa. Toh akhirnya jadi pilihan terakhir juga" ujarnya untuk membela diri.


\=\=\=


Alang POV


"Wan, tolong kamu cari apartemen di sekitaran jalan Gumawan untuk saya. Secepatnya" perintah Alang ke asistennya.


"Siap pak" balas Iwan cepat.


\=\=\=


Seperti yang Alang bilang, kami pun mampir ke Rumah Sakit. Aku hanya disuruh duduk menunggu, dan dia yang urus semuanya.


"Nyonya Alang" panggil suster pada antrian pasien.


"Iyaaaa" jawab Alang dengan semangat pejuang 45.


"Sumpah gua malu banget dengernya. Dia malah girang" gumamku.


Kami pun sudah didepan meja dokter bagian obgyn.


"Ibu sudah test pack?" tanya dokter padaku.


"Sudah dok. Ada garis dua nya. Postif katanya"


"Silakan berbaring, kita cek lewat USG ya"


Akupun berbaring di ranjang yang tersedia.


Suster mengangkat bajuku, lalu membuka kancing celana jeansku.


Tarik menarik terjadi saat suster menurunkan celanaku. Sumpah... Aku malu dan risih. Dokter melihat perlawanan halusku.


"Apa dibantu suaminya aja bu?" sambil tersenyum.


Terpaksa ku mengalah saat dokter berkata seperti itu.


Dokter mulai membalurkan gel pada perutku. Rasanya dingin.


Dengan teliti dokter memeriksa posisi janin yang ada di dalam perutku lewat layar monitor. Aku hanya memperhatikannya walau tidak mengerti.

__ADS_1


"Pak, nggak mau lihat janin nya?" tanya dokter pada Alang. Alang terkejut dan berjalan ke arah ranjangku.


"Suster, tolong minta tisu nya" aku menerima tisu yang diberikan suster dan langsung menutup wajahku.


"Usia janinnya berapa?" tanya Alang antusias.


"Sekitar tujuh minggu-an"


Pemeriksaanpun akhirnya selesai. Suster membersihkan perutku.


"Pemeriksaannya sudah selesai bu" ujar suster yang melihatku masih terbaring. Aku malu jika Alang masih ada disampingku.


Seketika tangannya merengkuh tubuhku dan memelukku.


"Biasa aja. Jangan grogi bisa gak sih" berbisik padaku.


"Lu kesana dulu ya" Aku mendorongnya pelan.


Akupun menyusul Alang kembali ke meja dokter, setelah merapikan pakaianku.


"Ada keluhan dan pertanyaan bu?"


"Saya mual kalo ada bau nasi" jawabku singkat.


"Mual dipagi hari?"


"Belom ada"


"Saya kasih resep penguat kandungan dan vitamin. Jangan kerja berat ya bu. Usia janin masih rawan"


"Iya dok" aku mengangguk


Sambil melihat ke Alang dokter berkata.


"Buat suami. Jangan sering-sering minta jatah dulu. Pelan-pelan saja"


Seketika wajah kami berubah merah dan menunduk.


"Ampuuuun gua pengen keluarin jurus langkah seribu denger bu dokter ngomong begitu" kukepalkan tanganku dengan kencang.


"Terima kasih dok" aku langsung bergegas pergi setelah dokter menyerahkan resep.


Alang langsung menuju loket kasir dan apotik.


"Tenang aja. Gua gak bakalan minta jatah" selorohnya padaku.


"Gak usah diungkit-ungkit. Gak usah dibilangin, gua juga tau" gerutuku.


"Nyonya Alang" Alangpun menuju ke apotik setelah mendengarnya.


\=\=\=


Tibalah kami di apartemen yang sudah disewanya.


Satu kamar tidur utama dengan toilet di dalam, satu kamar tidur toilet di luar. Ruang keluarga dengan tv dan home theatre. Ruang makan, dapur.


Alang langsung membawakan koperku ke dalam kamar dengan toilet di dalam. Dan ke kamar satunya dengan membawa kopernya.


"Lu kamar yang toilet di dalam. Gua kamar yang satu lagi" aku terkejut mendengarnya.


"Koq kita satu atap?" tanyaku


"Gimana pikiran orang kalo lu hidup sendiri dengan perut melendung?"


"Masih lama melendungnya" timpalku


"Kerjaan gua pindah ke kota ini" aku terkejut mendengarnya.


"Kok tiba-tiba pindah?"


"Gak tiba-tiba, udah lama perusahaan gua nyuruh. Tapi gua nunda terus" aku hanya manggut-manggut.


"Vin..." sambil menarikku ke sofa untuk duduk.


"Di mata orang, kita sudah menikah, sah sebagai suami - istri. Di dalam sini kita kamar masing-masing"


Akupun memahaminya, tapi rasa risih terus ada.


"Anggap aja kita lagi belajar berumah tangga. Jika kelak lu mempunyai pendamping yang lu cintai. Lu udah tau gimana bersikap" ucapan Alang menusuk hatiku begitu dalam. Tak ada pikiran itu terlintas dikepalaku.

__ADS_1


Aku berlari ke kamar dan mengunci pintu. Kubenamkan kepalaku dibalik bantal.


.


.


"Viiinn"


"Viiinaaa"


Aku tak menjawab saat Alang memanggil-manggilku sambil mengetuk pintu kamar.


Lalu langkah kakinya terdengar menjauh.


Setelah puas menangis, aku pun bergegas mandi. Menyegarkan pikiran dan tubuhku. Kubuka lemari pakaian dan semua sudah dia susun.


"Sial... Underwear gua juga dia pegang-pegang"


Suara dering panggilan telpon mengejutkanku. Kuangkat panggilan telpon dari Alang.


"Iyaaaa"


"Kenapa masuk kamar gak pamit?"


"Ngantuk"


"Bukannya nangis?"


"Kagak."


"Mau nikah dimana?"


"Di kantor KUA aja. Gak usah pake resepsi."


"Ok nyonya. Ya udah, jangan nangis lagi"


Langsung kumatikan panggilan telponnya.


Dan berdering lagi.


"Kenapa di matiin telponnya?"


"Pulsanya habis"


"Kan gua yang nelpon"


"Hemmmm"


Aku tidak ingin dia mendengar tangisku, akupun belum bisa menghadapi omongannya. Bagiku ini hanya formalitas. Dia layak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.


"Makan dulu, terus minum obat sama susu ibu hamilnya. Tadi gua beli di RS. Cepetan keluar. Gua juga laper"


Kubuka pintu kamar dengan wajah bersungut.


Deg


Jantungku berdebar dengan keras. Kupandang pria dihadapanku dengan gugup.


"Matiin lagi telponnya" perintahnya sambil memperhatikan telpon yang masih ditelingaku.


"Lu ngeselin banget sih" sambil kutekan lambang merah.


"Lu keras kepala kalo dibilangin"


"Mau makan dimana?"


"Disini aja. Gua capek jalan keluar" sambil melirikku.


"Tadi udah pesen delivery order. Bubur ayam dan jus Alpukat tanpa susu buat lu"


"Lu pesen apaan?"


"Sate Padang. Dua porsi" sahutnya.


Gua langsung ngiler, gitu dia bilang sate padang.


\=\=\=


Kalau kalian suka, kasih jejak Like ya.

__ADS_1


makasih atas komentarnya, kritik dan saran.


😊 amatiran yang menyalurkan hobi


__ADS_2