
Makasih buat reader yang udah sabar, ngasih komen, like, vote dan share nya. 🙏🙏
Sudah 3 hari yang lalu aku menelpon tetanggaku yang mengurus rumah di kota Caera.
Mengatakan maksudku untuk menjual rumahku, kebetulan anaknya bekerja di agent property.
"Maaf ya bu. Kalo ngerepotin, rumah mau saya jual. Tolong bantu kalo ada peminat"
" ... "
"Makasih"
\=\=\=
Hari ini aku kembali check kandungan. Alang menemaniku. Dia lebih excited daripada diriku.
Kandunganku kini sudah menginjak minggu ke-10. Perutku masih belum terlihat membesar. Hanya pada beberapa bagian terlihat mekar.
Dokter Dini mengatakan semua kondisi kami sehat. Baik janinnya juga ibunya. Alang terlihat lega mendengar penuturan dokter.
Seperti biasa biasa, Alang yang urus semua. Aku hanya duduk manis menunggu.
Kami langsung pulang ke apartement.
Setiba di apartemen, ku sodorkan katalog rumah padanya.
"Mau yang mana?" tanyaku padanya.
"Kamu aja yang pilih. Menurutmu mana yang bagus"
"Semua bagus"
"Beli aja semua" aku terkekeh mendengarnya.
"Bentar yaaaa. Kira-kira mana yang aku sreg" kulihat-lihat lagi dari penampilan, ukuran dan fasilitas.
"Menurutmu yang ini gimana?" tunjukku pada Alang.
"Bagus"
"Kalo yang ini?"
"Bagus juga"
"Ini ... Ini ..."
"Bagus"
"Jangan bagus, bagus doang. Kasih saran dong"
"Aku nggak ngerti beb"
"Aku tertarik pada 2 rumah ini. Nanti kita survey yaaa?" ucapku padanya.
"Ok"
\=\=\=
Akhirnya Sabtu pun tiba. Kami akan survey rumah yang sudah kami incar.
Janjian ketemu dengan pihak pemasaran setelah jam makan siang. Karena pagi nya Alang ngajak belanja keperluanku.
Sejujurnya aku merasa gak butuh. Pakaianku masih bagus dan layak pakai. Perut juga belum terlihat besar.
Tapi Alang kesal jika aku masih juga memakai baju yang nge-pas di badan. Hanya karena tubuhku mulai terlihat mekar. Bajuku mulai terlihat menyesakkan dimatanya.
Mulai dari paha, bokong, dada, lengan semuanya montok.
Kuikuti saja kemauannya, mungkin karena aku cuek jadi tidak terlalu memperhatikan.
Kami sudah berada di Plaza Dyvette. Alang langsung membawaku ke penjualan pakaian wanita.
Dia yang memilihkan dan aku hanya menyetujui atau tidak.
Baju kimono panjang, babydoll dress, lingerie, rok panjang beludru, dll. Jika aku tidak melarang belanja banyak, bisa semua dia beli.
"Nih orang kayak cewek, kalo belanja suka gelap mata" begitu pikirku.
Kemudin kami ke market, belanja untuk keperluan lainnya. Terutama susu untukku. Tidak ada belanjaan dapur, karena tidak ada yang akan memasak.
Rasanya, aku pun tidak ngidam apa-apa.
Belanjaan penuh di kursi belakang. Alang terlihat puas dengan belanjaannya.
kami pun pergi ke kantor pemasaran.
Aku memperhatikan lingkungan di lokasi.
Aku tidak suka yang terlalu sepi atau terlalu ramai. Didepan rumah ini ada taman buatan pemda setempat.
Memasuki rumah itu, terlihat ada garasi yang bisa memuat 3 mobil, dari garasi tembus ke dapur dan pintu samping juga tangga atas untuk jemur pakaian, ada 1 kamar diatasnya juga kamar mandi.
Masuk dari pintu samping langsung berada di ruang makan dan meja bar dengan kitchen set. Melewati ruang makan ada pintu menuju kebun belakang, bangunan gazebo pun terlihat kokoh, juga ada pintu menembus dapur.
__ADS_1
Menuju ruang tengah, ada 2 kamar terlihat. 1 kamar utama dan 1 kamar lagi. Lalu dibawah tangga ada toilet minimalis. Memasuki ruang tamu dengan kaca yang tinggi menghadap taman.
2 kamar tidur diatas, 1 toilet, ruang baca dan 2 pintu ke balkon. Balkon depan dan belakang.
Aku terkesan. Ku lirik Alang yang juga menyukai rumah ini. Rasanya aku sudah memutuskan memilih yang ini.
"Kau suka rumah ini?" bisik Alang padaku.
"Iya... Aku suka. Aku mau rumah ini. Kau bagaimana?"
"Aku juga suka"
Aku meneruskan melihat dan mengagumi rumah ini.
Ke taman belakang dan gazebo jadi perhatianku
Alang sibuk berdiskusi dengan orang pemasarannya. Dia berkonsultasi untuk merenovasi beberapa tempat. Dia tidak ingin ada kolam.
Setelah puas, aku mendatangi keduanya. Untuk transaksi harga dan pengurusan surat-surat.
"Pak Andi, saya suka rumah ini. Bisa kita bicara harga?" begitu ucapku langsung.
"Baik bu, silakan"
"Berapa harga rumah ini jika cash? Karena Penawaran anda secara termin (credit)"
"Penawaran dari kami Rp 2M"
"Termasuk tanda jadi?"
"Iya bu"
"Berapa tanda jadinya?"
"Rp 500.000.000,-"
"Beri kami waktu 1 minggu untuk bayar full" sambil kulirik Alang
Pak Andi menyerahkan kartu namanya, agar kami bisa langsung menghubungi.
Kami pun pamit dengan perasaan senang, juga mumet duitnya.
Mobil pun melaju kembali. Sesekali Alang mengusap pucuk kepalaku sambil tersenyum.
"Laaaang"
"Ya ..."
"Rambut gua berantakan kalo diacak-acak begini" rungutku
"Usap yang ini aja ya..." sambil mengusap perutku.
"Hemmmm" ku turunkan sedikit posisi sandaran. Kurasa mengantuk dan lelah. Beberapa kali mulutku menguap.
Akupun tertidur pulas.
.
.
"Apa Alang menggendongku?"
Aku terbangun sudah di dalam kamar. Akupun beranjak tuk mandi, kulihat jam sudah pukul 5.
Kupakai jurus mandi koboy, karena mager mandi.
Dengan kimono handuk yang masih kupakai, aku keluar kamar melihat Alang yang juga sudah mandi dan bersantai di sofa.
"Baju yang tadi dibeli mana? Koq gak ada dikamar?" tanyaku heran
"Langsung taro ke laundry. Kenapa?"
"Mau nyobain lagi"
Dia menghampiriku dan menggendongku ke kamar. Aku melingkarkan tanganku ke lehernya.
"Laaaang"
"Hemmm"
Lalu menurunkanku di ranjang.
"Tadi juga gendong gua dari mobil kesini?"
"Iya..."
Setelah menjawabku bibirnya sudah menyatu dengan bibirku. Tangannya melepaskan ikatan kimono yang melekat ditubuhku, menyingkapnya lalu menarik selimut untuk kami. Reaksi tubuhku tak bisa dikondosikan ketika menerima perlakuan Alang.
Rasanya bagai ke langit yang ke-7 ketika tubuhku bergetar karena pelepasan. Dia memuaskanku dengan for*play.
Diapun mengajariku melayaninya hingga pelepasan.
"Terima kasih" ujarnya sambil tersenyum kemudian mencium keningku. Dan berbaring disebelahku, mengatur ritme nafasnya.
__ADS_1
Ada rasa bahagia ketika kubisa memuaskannya.
Memainkan jarinya dikeningku jadi kebiasaan barunya. Aku menahan tangannya dan menciumnya.
"Udah gak ngerokok?" tanyaku
"Nggak. Kan ada debay, gak baik buat dia?"
"Oooo"
"Kenapa?"
"Pengen cium aroma tembakau ditangan"
"Aromaku aja ya..." timpalnya sambil kembali menciumku. Aku hanya mengangguk. Tangannya melengus perutku, aku merasakan ada sensasi yang berbeda. Aku ingin ada yang disentuh ulang seperti saat wajahnya terbenam disana.
"Ingin lagi?" tanya Alang padaku.
"Nggak" aku malu tuk menjawab aku mau lagi. Tapi reaksi tubuh dan nafasku berkata lain. Aku menikmati semua.
"Kamu mau lagi?" tanya Alang
"Nggak, kamu aja"
"Curang"
"Hemmmm ..."
Ku mengalami pelepasan yang kedua kali. Tubuhku lemas, nafasku tak beraturan, tenggorokanku kering.
Kembali Alang mencium bibirku, tapi aku menolaknya. Rasanya aku mengantuk.
"Jangan tidur, mandi lagi terus makan malam" katanya mengingatkanku.
Dia beranjak dan menelpon seseorang. Dari omongan hasilku menguping, dia memesan makanan.
Menghampiriku setelah panggilannya terputus.
"Mandi bareng yuk"
"Hemmm. Gendong"
Dia pun bangun menggendongku.
Memandikanku di shower. Aku selesai duluan dan menyiapkan pakaiannya. Kupakai bajunya yang kebesaran di badanku, dipadu rok putih pinggang karet motif bunga.
Alang tersenyum melihat pakaianku, mengacungkan 2 jempol tanda setuju.
Dia pun berganti pakaian, dan keluar begitu mendengar bell pintu.
Pesanan makanan sudah datang. Aku menyiapkan semua dimeja makan.
Menu seafood dan capcay meriah diatas meja.
Alang menyuapiku, entah kenapa aku ingin dimanja. Dia menuruti apa mauku.
"Lang"
"Hemmm"
"Hubungan kita aneh ya?"
"Kenapa begitu?"
"Kita kan sahabat. Lu nikahin gua karena nolong temen"
"Kalo bukan gua yang nikahin lu, kira-kira siapa lagi yang mau nikahin lu?"
Aku terkejut mendengarnya.
Mengingatkanku ke Indra.
Selera makanku menghilang.
Kubangkit dan menuju sofa.
Alang mengikutiku, dengan tetap memaksaku makan.
"Makan lagi, habiskan. Jangan ngambek terus" sambil menyodorkan sendok ke mulutku.
"Nggak mau, udah kenyang"
"Apa mau makan sama yang tadi di kamar?" godanya.
"Haaaa? Apaan?" aku bingung dengan ucapannya. Sambil mengingat-ingat.
"Diiiiih" sahutku sambil menyuap sendok.
\=\=\=
Aku terbangun pukul 2 pagi. Kuambil minum disamping ranjang. Melihat sosok yang terlelap.
Aku melangkah ke lemari, mengeluarkan travel bag-ku. Kubongkar amplop plastik tempat menyimpan dokumen. Kucari selembar kertas cek yang kusimpan. Mengambil dan merobeknya. Membuang ke tong sampah di kamar.
__ADS_1
\=\=\=