
"Vin, apa rencanamu disini?" tanya Laila padaku.
"Gua akan membuka usaha, lu bantu gua yak?"
Laila: "Beres, tapi usaha apa?"
Vina: "Dagang online, pakaian aja"
Laila: "Siaaap, kapan kita akan mulai?"
Vina: "As soon as possible, kerjaan lu?"
Laila: "Gua cuti seminggu, tenang saja"
Vina: "Dalam seminggu ini kita harus sudah mempersiapkan semuanya, minggu berikutnya sudah mulai beroperasi"
Laila: "Lu yang atur, gua ikutin aja"
Aku merasa hidup kembali, memijakkan kaki ku pada impianku.
Laila: "Vin, kandungan lu juga harus dijaga. Jangan lupa itu. Gua nggak mau kenapa-kenapa. Kalo sampe kenapa-kenapa gua rasa bersalah".
Vina: " Iya, gua tau batasan gua kerja"
Vina: "Ummmmm La, lu nggak penasaran kenapa gua disini? Bahkan mau buka usaha".
Laila: "Bukan urusan gua, bagi gua yang penting lu punya semangat"
Laila bukan sahabat yang mau tau urusan orang. Kalau ngomong didengerin, nggak ngomong juga dia nggak kepo.
Vina: "Besok gua mau sewa tempat. Kayaknya ruko, biar gua bisa tinggal disana juga"
Laila: "Kok gitu sih lu... Kan lu tinggal sama gua".
Vina: " Gua ingin mandiri, nggak bergantung La".
Laila: "Gak asik lu..." nada nya kesal.
Vina: "Jangan gitu dong..."
Laila: "Lu lagi bunting, sapa yang jagain lu. Gua kesel plus marah beneran kalo lu maunya begitu..!"
Vina: "Kita cari deket-deket sini"
Laila: "Nyesek gua lu maunya begitu. Dah, gua mau tidur. Besok aja ngobrolnya".
Laila pergi ke kamarnya karena ngambek sama gua.
\=\=\=
RS. Dyvette.
Iwan POV
Semua barang-barang sudah dikemas, bersiap untuk pulang. Tapi tuan lebih suka menunggu wanita ular itu.
"Kita pulang hari ini tuan" ujarku.
"Apa Tara akan menjemput?"
"Saya tidak tau tuan"
"Aku akan tunggu dia, baru kita pulang"
Jelang siang wanita itu baru datang, dan kami pulang ke apartemen Dyvette. Aku sudah menurunkan foto pernikahan tuan dan nyonya. Ku simpan dalam kamarku. Dan lemari nyonya sudah ku kunci.
Aku masih berharap nyonya kembali.
Tuan Alang masih ingin diruang tengah menonton tv, sedangkan aku mengikuti wanita itu melihat-lihat ruangan.
Tara: "Ini kamarmu?" setelah masuk ke dalam.
Iwan: "Iya nona, ini kamar saya"
Tara: "Hmmmm, kau buang kemana foto pernikahan mereka?"
Iwan: "Bukan urusan nona"
Tara: "Jika aku sudah menikahi Alang, kusuruh dia memecatmu..! Tak ada sedikitpun kau menghargaiku"
Iwan: "Silakan nona melakukannya"
Tara: "Berani kau padaku"
Aku pergi berdiri dan menunggunya dipintu, tidak berguna berdebat dengan ular betina.
Kemudian masuk ke kamar tuan.
__ADS_1
Tara: "Lemari ini terkunci?"
Iwan: "Iya nona, lemari itu memang sengaja dikunci"
Tara: "Kenapa dikunci?"
Iwan: "Itu lemari nyonya, semua pakaian serta pakaian calon anak tuan ada di dalamnya"
Tara: "Buang semua, sekalian lemarinya"
Iwan: "Tuan yang menyuruh saya merapikan dan menguncinya, sebelum tuan masuk RS"
Tara: "Ya sudah, toh jika aku menikahinya, aku tidak ingin tinggal disini"
Dia membuka kamar mandi dan memeriksa. Sebelumnya aku sudah membersihkan semua barang-barang nyonya yang tertinggal di laci dan kamar mandi.
Lalu wanita ular itu menghapiri tuan dan bersandar manja.
Alang: "Kau makan malam disini ya? Temani aku"
Tara: "Iya dong sayang, aku juga mau kalo kamu suruh aku menginap" sambil melirik tajam ke arahku.
Alang: "Nanti saja, kalo kita sudah menikah, kau pasti selalu bersamaku"
Mencium mesra Tara dan melingkarkan tangan dipinggang Tara.
Iwan: "Ekhemmmm"
Keduanya menoleh padaku.
"Apalagi?" tanya Alang
"Saya ingin pesan makanan, tuan dan nona mau makan apa?"
"Terserah kamu saja sayang" sambil melihat Tara.
"Aku ingin makanan Jepang, terserah kau pesan dimana" sambil tersenyum sinis.
.
.
Setelah makan malam, wanita itu pulang dengan taksi. Aku harus menemani tuan.
"Wan... Ada masalah apa antara kau dan Tara? Kenapa seakan kalian tidak akur?"
"Tidak ada masalah tuan"
"Saya hanya merasa risih melihat tuan bermesraan dengan nona"
Mendengar omongan Iwan, Alang langsung tertawa lepas.
"Ooo hanya karena itu, baiklah aku tidak akan bermesraan dengannya di depanmu".
"Bantu aku masuk Wan, kepalaku sedikit berat. Aku mau istirahat"
Aku memapah tuan masuk kamar.
Setelah tuan di dalam, aku kembali melanjutkan pengintaianku.
Menemukan nyonya dan membawanya kembali. Sekalipun harus dengan paksaan!
\=\=\=
Alang POV
Aku tidak puas mendengar pengakuan Iwan tadi. Rasanya hanya dibuat-buat.
Kepalaku terasa sakit memikirkan ulah keduanya.
Kupejamkan mataku dengan lengan diatas kening.
Kubuka mataku karena aku merasa aku tak sendiri disini.
Ternyata tidak ada siapa-siapa.
Kupejamkan lagi dan perasaan itu datang lagi.
"Waaaannn" pangggilku.
"Ya tuan?" begitu Iwan masuk.
"Temani aku, aku tak bisa tidur"
Iwan menarik sofa single untuk menemaniku.
Kupejamkan mataku lagi, perasaan itu datang lagi.
__ADS_1
"Wan..."
"Ya tuan?"
"Apa kau merasakan sesuatu"
"Merasakan apa tuan?"
"Kita tidak berdua disini"
"....."
"Rasanya ada yang tidur disebelahku, memunggungiku tapi kenapa aku merasa sedih?"
"....."
Sesaat aku terdiam tak mampu mengatakan apa-apa.
"Apa tuan takut?"
"Saat mataku tertutup, perasaan itu ada. Ketika mataku terbuka semua hilang"
Sambil memejamkan matanya, tuan meraba kasur disampingnya.
"Dia disini Wan" seketika tuan menangis terisak-isak.
Kubiarkan tuan seperti itu. Mungkin itulah yang harus dirasakannya sekarang.
\=\=\=
Aku menggantikan nyonya menyiapkan pakaian. Dan membuat sarapan sebelum kami berangkat kerja.
Di kantor semua kerjaan tetap seperti biasa. Hanya saja wanita itu datang tidak tau waktu.
\=\=\=
Vina POV.
Aku dan Laila sudah siap mencari ruko untukku membuat usaha.
"Yuk, jalan. Kita cari ruko dengan harga terjangkau" seulas senyumku ke Laila. Karena dia masih kesal dengan niatku pindah.
Kugamit tangannya untuk berjalan.
"Ngambek aja, nanti dibeliin es krim deh" godaku.
"Gua do'a in, gak dapet ruko lu" kesalnya.
'Tega ih..."
Sudah beberapa ruko yang ku kunjungi. Dengan pilihan strategis dan harga terjangkau. Juga jarak yang tidak jauh dari rumah Laila.
"La, manurut lu yang mana?"
"Gua suka yang warna biru itu, gak gitu jauh dari rumah gua"
"Sama dong pilihan kita. Gua ambil itu juga ya?"
"Terserah lu. Klo udah sreg ya udah"
"Balik kesana yuk? Kita nego gitu"
"Yuk, kira-kira lu mau sewa berapa lama?"
"6 bulan dulu. Gimana oun juga, gua tetep mikirin baby gua"
"Ya udah, gitu aja"
.
.
Akhirnya aku sudah sudah menyewa ruko tersebut. Besok tinggal bersih-bersih, baru memikirkan isinya.
Seminggu ini semua harus sudah selesai.
"La, makan yuk? Udah laper perut gua"
"Yuk, mau makan apa lu?"
"Apa aja yang bisa dimakan. Perut gua udah siap tempur" candaku
"Sebentar, kita lihat sambil jalan".
Tak berapa lama, kami sudah memarkirkan mobil di rumah makan.
"Mau makan apa lu?" tanya Laila.
__ADS_1
"Gua mau makan kepala ikan kakap. Ngiler gua bayanginnya" sambil terkekeh dan masuk ke dalam.
\=\=\=