
Silakan jejak komen kritik dan sarannya.
Belakangan ini Iwan selalu mengawasi semua gerak-gerik ku.
"Wan, aku wanita berbadan dua, kau pikir aku bisa bergerak leluasa?" tegurku yang merasa dimata-matai seperti seorang kriminal.
"Saya tidak bisa menebak jalan pikiran nyonya, bagaimana cara nyonya pergi" kilahnya.
"Akupun tidak memikirkan bagaimana caranya" ketusku menyahut.
Panggilan telpon mengalihkan pembicaraan kami.
"Ada yang bisa saya bantu tuan Niko?" sapa Iwan pada penelpon
"Gua dapet kabar dari relasi gua di Kota Caera, Alang kecelakaan. Apa bener?" cecarnya
"Benar tuan"
"Dimana dia sekarang?"
"Setelah keluar dari RS. Caera kami kembali ke Dyvette"
"Kenapa nggak dateng ketempat gua?"
"Tuan Alang menolak"
"Paksa dia ketemu gua besok"
"Baik tuan"
Panggilan berakhir, Iwan terlihat memikirkan sesuatu. Menghembuskan nafasnya dengan berat.
Alang keluar dari kamar dan menghampiri kami di sofa sambil menonton tv. Keduanya kembali berkutat dengan laptop didepannya.
Aku hanya menemani sambil membuka hape ku.
"Tuan" panggil Iwan
"Tadi tuan Niko menelpon, menyuruh besok tuan harus datang" lanjutnya.
"Kenapa dia nyuruh gua dateng?"
"Soal kecelakaan kemarin, tuan Niko mau memeriksa tuan lagi"
"Bilang sama dia, gua nggak kenapa-kenapa"
"Besok juga jadwal check, sekalian aja temui dokter Niko" sergahku menimpali keduanya.
"Ya sudah kalo begitu" Alang menjawab singkat.
\=\=\=
Kami pun tiba di Rs. Dyvette.
Setelah mengantar ku, Alang menemui dokter Niko diruangannya.
Aku menunggunya di kantin RS ditemani Iwan si soulmate.
\=\=\=
Di ruangan dokter Niko
Niko: "Lu kenapa nggak langsung kesini?"
Alang: "Gua cuma lecet doang, ini juga udah sembuh"
Niko: "Ingatan lu ke bini lu gimana?"
Alang: "Belum ingat"
Alang pun menceritakan kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.
Niko: "Gila lu ya, ngomong begitu..!"
Alang: "Gua emosi dengar omongan ba****an itu..!!"
Niko: "Terus lu mau ikutin omongan dia? Lu cere-in bini lu?"
Alang: "Lu sama Iwan otaknya sama aja..! Gua nggak pernah mikirin buat cere-in bini gua"
Niko: "Iwan nanya begitu?"
Alang: "Iya"
Niko: "Bini lu dimana sekarang?"
__ADS_1
Alang: "Di kantin sama Iwan, tadi check up rutin"
Niko: "Sejak kejadian itu, sikap bini lu gimana?" selidik Niko antusias.
Alang: "Biasa aja, kayak nggak ada kejadian itu"
Niko: "Kalo bini lu yang minta pisah gimana? Setelah anak lahir".
Alang: "Do'a lu jelek amat ke gua".
Niko: "Bukan begitu maksud gua"
Alang: "Jadi gimana kondisi gua menurut pemeriksaan lu?"
Niko: "Kalo ada yang lu inget, ikutin aja ingetan lu itu, entah nama seseorang, tempat, situasi apapun itu".
Alang: "Kira-kira berapa lama ingetan gua balik lagi?"
Niko: "Nggak bisa diprediksi"
Keduanya terdiam.
Tak berapa lama akhirnya Alang pamit, "Ok, gua pergi dulu"
"Jaga diri lu baek-baek, jangan lupa lu kasih gua kabar kalo ada perkembangan"
Alang pun pergi menuju kantin RS.
\=\=\=
Alang datang menghampiri meja kami, sambil mencium pucuk kepalaku. Aku menoleh padanya.
"Sudah selesai konsultasinya?" tanyaku.
"Sudah, bagaimana dengan kondisi mu dan debay?" sambil duduk disampingku.
"Semua baik dan sehat" kataku sembari tersenyum.
"Kita langsung balik yuk" katanya sambil bangkit. Kamipun beranjak dan pergi dari kantin.
\=\=\=
Selama perjalanan pulang, Alang hanya terdiam.
Seperti ada yang dipikirkan.
Iwan pun terlihat sering mengintip kaca spion untuk memperhatikan sikap Alang yang berbeda.
Begitu sampai apartement, Alang langsung ke kamar merebahkan diri.
Tidak biasanya dia seperti itu, aku khawatir, tapi tidak berani untuk bertanya. Ku hanya menemani dalam diamnya hingga ku tertidur.
.
.
Kecupan Alang di keningku, membangunkan ku. "Bangun, udah sore" kulihat dia sudah membersihkan dirinya. Aku hanya memiringkan tubuhku.
"Masih ngantuk?" bisiknya ditelingaku sambil mengelus perutku. "10 menit lagi" ucapku.
"Apa debay sering menendang-nendang seperti ini?" sambil terus memegangi perutku.
"Hemmm"
"Nggak sakit?"
"Nggak... Lang, tadi dokter Niko bilang apa?" kucoba bertanya karena merasakan perubahan sikapnya.
"Nyuruh gua rajin mandi, biar bini gua betah deket gua" seketika aku tertawa, dan paham sindirannya.
Akupun beranjak untuk mandi.
\=\=\=
Iwan POVĀ
Aku melupakan hal penting, hingga pak Andi menghubungiku.
"Pak, besok sudah batas waktunya. Setelah itu bukan lagi wewenang saya lagi yang ngurus penjualan rumah bu Vina"
"Besok saya kirim duitnya. Terima saja sertifikatnya. Setelahnya urusan saya. Dan biarkan rumah tetap dengan aktifitas biasa. Biar kedua ART itu yang urus. Keperluan mereka sehari-hari juga akan saya kirim".
"Baik pak, saya siapkan dokumennya besok, sekalian transaksi".
"Terima kasih atas info dan bantuannya pak Andi".
__ADS_1
"Sama-sama pak Iwan".
Setelah panggilan kututup, aku kembali ke ruang tengah. Tuan dan nyonya sudah ke kamar.
Aku memikirkan langkah selanjutnya jika nyonya menjalankan niatnya. Aku harus apa dan bagaimana. Kepalaku sakit memikirkan mereka.
Menceritakan niat nyonya atau tidak.
Jika aku ceritakan apa reaksi tuan, apa yang akan tuan lakukan pada nyonya. Mengurungnya ?? Bisa iya, bisa tidak. Jika iya, apa yang diperbuat nyonya akan semakin sulit diprediksi.
Semua kemungkinan terburuk kupikirkan. Lebih baik ikuti dulu permainan nyonya. Dia tidak akan lolos dari pengawasan.
Kunyalakan lagi laptop, terhubung dengan penanggung jawab CCTV kota Dyvette. Kusuruh pegawai lain memeriksa seluruh fungsi CCTV kota Dyvette.
Menguji kecerahan dan streaming setiap camera.
Kuperintahkan, minggu ini semua harus selesai. Kalau perlu ada penambahan dengan biaya perusahaan.
Tuan Alang menghampiriku begitu keluar dari kamar.
"Masih banyak kerjaan Wan?"
"Tidak tuan, saya hanya memeriksa kelancaran dan prosentase kerjaan"
"Besok aku mau mengajak Vina belanja keperluan debay, tapi dia menolaknya, karena urusan toko.
Menurutmu apa perlu kututup tokonya Wan?"
"Jangan ditutup tuan, biarkan nyonya menyalurkan kesenangannya"
"Setidaknya besok dia tutup, urusan toko bisa dia pending" keluhnya.
"Ya sudah, aku kembali ke kamar, kau istirahatlah"
.
.
Ku periksa jadwal tuan dan nyonya untuk besok.
Nyonya akan ke perumahan XsXs, sekalian bertemu pak Andi.
Aku akan bertemu pak Andi lebih dulu untuk menyelesaikan transaksi.
Setelah nyonya menerima duit hasil jual rumah. Kapan nyonya akan pergi???
Bagaimana aku mencegahnya?
Kemana dia akan pergi?
Aku harus memprediksi semua kemungkinan.
Yang paling penting dari semua ini, bagaimana nasib tuan Alang?!!"
Kuharap ada tuan Niko yang akan mendampingi jika saat itu datang.
Aku sendiri tidak sanggup membantunya.
Kumasih memikirkan pihak luar yang bisa jadi pemicunya.
Ardi sudah kujebloskan ke RSJ, dia sudah tidak punya kekuasaan untuk berbuat apa-apa.
Indra? Tidak mungkin nyonya pergi dengan dia.
Pak Kesuma? Sudah ku awasi, tidak ada tanda-tanda nyonya mengunjunginya. Dan sudah kutempatkan informan kesana.
Aku memijat pangkal hidungku.
Siapa lagi orang disekitar nyonya ?
Kira-kira apa yang nyonya sayangi hingga tidak akan pergi ?
Aku tak punya petunjuk sama sekali.
Apa yang kulewatkan?
Medsos!! Rasanya nyonya punya medsos.
Siallll..!
Menarik... Semakin sulit semakin menarik. Nyonya lawan yang menantang.
Kukembali ke kamar, untuk beristirahat. Otakku sangat lelah memikirkan langkah berikutnya.
__ADS_1
\=\=\=
Hai reader, makasih yang udah tetap setia membaca