Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.30 Menjauh Darimu


__ADS_3

Alang POV


Kerjasama dengan EyeLab adv. harus cepat kuselesaikan. Rasanya aku tidak nyaman dengan sikap Tara. Aku tidak ingin dia salah paham, terutama Vina.


Dia tidak boleh tau tentang Tara.


Dering panggilan telpon mengalihkan pandanganku. Dari layar laptop.


Tara yang menelpon? Ada apa lagi?


Ternyata dia memintaku menemuinya di ruang meeting.


"Wan, tolong kau teruskan pekerjaanku, jika sudah selesai temui aku diruang meeting" aku segera beranjak dan memberikan pekerjaan ku ke Iwan.


"Baik tuan"


Saat berada di lorong ruang meeting, kudengar Tara yang memanggiku dan berlari dengan membawa dokumen proposal.


Akupun menunggu dan menawarkan bantuan membawakan dokumen ke ruang meeting.


Hanya beberapa hal yang harus diubah dan tidak begitu fatal.


Dia memanggilku dan mempertanyakan sikapku padanya.


Kupikir dia bisa profesional dan mengerti maksud ucapanku terakhir di apartementnya.


Kuhargai dia karena wanita, terlebih dia adalah mantanku. Tapi keagresifannya membuatku jengah.


Aku menegurnya keras dan pergi meninggalkannya.


Ku kembali ke ruanganku.


"Kemana Iwan setelah dari ruang meeting?"


Kulihat pekerjaanku tadi sudah diselesaikan Iwan.


Aku meneruskan pekerjaanku yang lainya.


\=\=\=


Iwan POV


Wanita itu selalu cari kesempatan, aku sangat geram dengan kelakuannya.


Tak kusangka, dulu tuan Alang punya hubungan dengan wanita seperti ini.


Aku harus menyelesaikan pekerjaan tuan Alang secepatnya.


Segera ku bergegas menuju ruang meeting. Sial... Apa yang mereka lakukan...?!"


Aku buru-buru menutup pintu ruang meeting, salah tingkah pada apa yang kulihat.


Begitu kuberbalik, kulihat nyonya sedang melihat ruang meeting.


"Nyonya... Apa nyonya melihat semuanya?" bisikku kalut. Segera ku mengejar nyonya menuju pintu lift.


Ku menahan pintu lift agar tidak tertutup. "Nyonya..." kataku pelan. Dia hanya tersenyum untuk berpura-pura Aku Baik-Baik Saja. Tanpa kusadari aku melangkah masuk lift untuk sekedar menemaninya.


Lidahku kelu tak mampu menghiburnya.


"Menangislah nyonya" entah kenapa aku mengatakannya.


"Apa yang harus aku tangisi...?" suaranya bergetar mengatakan itu.


Vina: "Ini yang kupikirkan akan terjadi"


Iwan: "Maksud nyonya?"


Vina: "Baginya aku tidak ada, aku bukan siapa-siapa. Ketika aku hilang dari ingatannya"


"Nyonya..." tercekat mendengar ucapanku.


"Kau tidak memprediksi ini?"


"Saya antar nyonya pulang" ucapku.


"Aku ingin sendiri, biar aku naik taksi saja"


Pintu lift terbuka, aku mengantarkan nyonya sampai naik taksi.


"3 bulan lagi ku kirimkan surat cerai" tiba-tiba nyonya mengatakan hal yang paling kutakutkan.


"Jangan gegabah nyonya"


Posisiku serba salah.


\=\=\=


Vina POV


Aku harus memastikan perkataan wanita itu. Sudah berhari-hari aku menahannya, rasanya hatiku ingin meledak-ledak.

__ADS_1


Kudatangi kantor Alang, dengan selembar foto yang diberikan wanita itu, aku harus mempertanyakan hubungan wanita ini dan Alang.


Saat mewati ruang meeting, aku melihat keduanya saling berciuman.


Hatiku begitu sakit. Yaaah... Aku harus sadar posisiku. Ikatan karena aku yang meminta.


Kuberbalik dan kembali menuju lift.


Tiba-tiba muncul Iwan di depan pintu lift, entah dia melihat kejadian di ruang meeting atau tidak.


Aku tersenyum membayangkan Iwan jika ingin membujukku menemui Alang.


"Menangislah nyonya" ucapannya menandakan dia melihat yang terjadi.


"Apa yang harus aku tangisi...?" jawabku sinis.


Iwan menawarkan untuk mengantarku pulang, sedangkan aku ingin sendiri untuk berpikir.


Kukatakan padanya, bahwa aku ingin naik taksi.


Aku tak ingin memperlihatkan diriku yang lemah, dikasihani. Tidak. Aku harus tetap kuat.


Setibanya di apartemen, ku buka lemari dan mengeluarkan 2 tas ku.


Aku tidak boleh jadi penghalang diantara mereka.


Kupesan taksi online dan memintanya naik, untuk membantu ku membawakan koper. Karena keadaanku yang tidak boleh angkat barang berat.


Kupandangi lagi suasana apartement ini, agar aku tak merindukannya.


Yang tertinggal disini kenangan.


.


.


Aku ingin pergi dan tidak meninggalkan jejak.


Kuhubungi sahabatku, Laila.


"Hallo, Laila ini gua Vina"


"Vina mana?"


"Temen SMP lu".


"Ehhhh kemana aja lu, maen ke tempat gua dong"


"Iya serius, gua tunggu"


"Siiip siip, meluncur nih, tunggu ya"


"Iyaaaa, ok see you later beb"


"Take care dear"


Taksi pun melaju menuju bandara, aku pergi ke loket untuk membeli tiket langsung menuju kota Santania.


Santania kota tempat sahabatku tinggal, dia teman saat SMP, setelah lulus kami terpisah sekolah.


Karena keluarganya pindah ke kota Santania.


Walau jarang bertemu, tapi komunikasi dimedsos berjalan dengan lancar dan baik.


\=\=\=


Alang POV


Iwan memasuki ruang kantor dan melanjukan pekerjaannya.


Aku pun melanjutkan pekerjaanku.


Aku bertanya karena penasaran,


"Kau kemana setelah dari ruang meeting?" tanyaku masih dengan melihat laptop.


"Mengantar nyonya sampai naik taksi" suaranya sedikit gugup.


"Apa maksudmu? Jelaskan padaku..!" sambil mengernyitkan mata.


"Nyonya melihat tuan dan wanita itu di ruang meeting"


"Siaaaaallll...!!!" geram ku.


Aku langsung menghubungi Vina.


Dan tersambung di dering pertama.


"Aku pulang sekarang, tunggu aku"


Vina: "Aku tak bisa menunggumu, aku tidak di apartement.

__ADS_1


Alang: "Kamu dimana? Aku jemput"


Vina: "Berbahagialah, akan ku kirim surat cerainya setelah anakku lahir. Jaga dirimu baik-baik"


Panggilan Vina terputus. Ku coba menghubungi lagi, tapi tidak tersambung.


Kulihat Iwan sedang sibuk dengan hape nya.


Tersisa Iwan, dia harus punya jawabannya.


"Nyonya menuju bandara" Iwan langsug bergegas, aku pun mengikutinya.


Setibanya dibandara ternyata kami terlambat, dia sudah naik pesawat. Entah kemana tujuannya.


Tubuhku lunglai, tak tau harus bagaimana.


"Cari dia, kalau perlu paksa..!"


"Tuan..."


"Aku tidak mau tau..!"


Iwan memapahku menuju mobil.


"Kembali ke apartement, mungkin Vina masih disana"


Aku sangat berharap Vina masih di apartement, jadi aku bisa menjelaskan semuanya.


Sesampainya ke apartement, kubuka lemari pakaiannya, semua pakaiannya masih utuh.


"Wan..." kuperlihatkan pada Iwan kalau pakaiannya masih ada di lemari. Dia akan kembali, dia hanya pergi sebentar.


"Tuan, nyonya membawa 2 koper pakaian dari rumah yang dijual"


Aku terduduk dan mengacak-acak rambutku.


"Pergilah Wan, aku ingin sendiri" perintahku. Iwan pun pergi meninggalkanku.


\=\=\=


Vina POV


Aku mengubah semua pengaturan hape ku, memblokir nomor Alang dan semua yang berhubungan dengannya. Termasuk nomor tak dikenal otomatis akan terblokir.


Aku ingin menghapus semua kenangan dan masa lalu ku dengannya.


Life must go on, with or without you


Kaki ku sudah menapak di kota Santaria. Tempat Laila tinggal.


Kuhubungi Laila untuk mengirim share loc.


Vina: "La, gua udah sampe bandara, lu kirim share loc ya?"


Laila: "Gua jemput ajalah"


Vina: "Kelamaan neeeeng, cepetan kirim"


Kumatikan panggilan, dan menunggu Laila kirim share loc.


Singkatnya...


Aku sudah tiba didepan rumah Laila yang sederhana.


"Spadaaaaaa...." teriakku, pintupun terbuka. Tampak Laila membelalakkan mata terkejut bahagia.


"Diih, beneran lu ini? Gw nggak mimpi Vin?" air matanya mengalir. Dan berlari memelukku.


"Gak lah, gua cubit mau? Kalo nggak sakit, lu cuma mimpi"


"Gak apa-apa mimpi, gua seneng banget" sambil mengajakku masuk.


"Duduk dulu deh" lalu Laila membawa koper ku masuk.


Menatapku, memperhatikan diriku.


"Lu lagi hamil? Sori waktu itu gua gak bisa dateng"


"Nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, gua boleh pinjem air minum?" tanyaku serius. Laila hanya terkekeh sambil menuju dapur membawakanku minum.


Laila: "Lu istirahat dulu sana, udah makan belom?"


Vina: "Udah, tadi di bandara"


Laila membawakan koperku dan mengajak ku menuju kamar tamu.


"Kenapa lu liatin gua begitu?" tanyaku langsung.


"Gua liat lu capek, istirahat dulu sana. Kamar lu disamping kamar gua" lalu Laila pergi meninggalkanku.


Akupun berbaring sambil memikirkan kejadian hari ini di apartement.

__ADS_1


\=\=\=


__ADS_2