
Alang POV
Setelah kondisi Vina mulai pulih, perawat membawa Dimas ke ruangan Vina dan meletakkan Dimas di d*d*nya dibantu perawat.
Awal Dimas merasa kesulitan mem*suk kan benda asing yang kecil ke dalam mulutnya. Hingga Dimas mulai bisa mengecap dengan rakus.
Vina yang sudah mengeluarkan gudang ASI nya membuatku dan Iwan salah tingkah dan menjauh.
Syukurnya ASI Vina lancar, aku merasa kasihan, sesekali Vina m*rint*h karena merasa perih saat Dimas meny*s*.
Aku belum berani menggendong tubuh mungil itu. Hanya melihat dan menyentuh kulit pipinya yang lembut.
Dengan sarung tangan dikedua tangannya mengapit pipi mungilnya wajahnya yang tertidur sungguh menggemaskan.
\=\=\=
Vina POV
Hari ini aku diperbolehkan pulang, setelah 3 hari di RS. Dyvette.
Dita yang datang menjemput tampak begitu antusias. Dia juga cekatan menggendong Dimas. Bahkan bawel jika Alang dan Iwan mendekat harus cuci tangan, dan tidak boleh menciumnya dulu. Perhatiannya padaku juga tidak berkurang, segala pantangan untuk ibu menyusui dijabarkan.
Kami seperti keluarga walau tanpa ikatan darah.
.
.
Sesampainya di rumah. Ada bi Mun dan bi Sri yang menyambut.
Dimas jadi pusat perhatian semua orang.
Matanya yang masih terpejam hanya menggeliatkan wajahnya. Menggemaskan.
Dimas mulai menangis tanda dia merasa haus atau rindu dekapan mama-nya. Dimas pun terdiam ketika aku menyusuinya.
.
.
Sudah 2 bulan Dimas di rumah ini.
Pipinya chuby, matanya bulat dan bibirnya yang mungil selalu mengecap basah bersuara ingin diajak ngobrol.
Alang sudah mulai berani menggendongnya, dan mengajak bicara Dimas, terkadang keduanya tergelak dengan tawa Dimas yang nyaring.
"Beb, apa kau perhatikan Iwan dan Dita?" tanya Alang dikamar sambil memberikan Dimas padaku.
__ADS_1
"Iya, aku perhatikan mereka. Kenapa?" tanyaku penasaran.
"............" tak ada jawaban.
Alang berbaring dan tertidur. Dia sangat lelah karena ikut bangun malam saat Dimas menangis.
Dita yang pulang lebih sore dari toko, bergegas pergi mandi, lalu langsung mencari Dimas. Dita pun masuk karena pintu kamar yang terbuka.
"Bu, Dimas lagi bobok ya?" tanyanya saat melihat Dimas yang kugendong.
"Nggak, nih lagi bengong, udah kenyang anteng" kataku.
Dita pun mendekat, memegang tangan Dimas.
"Toko gimana Dit?" tanya ku.
"Lancar dong bu..." sambil tetap menggoda Dimas.
"Jangan capek-capek ya... Kalau terlalu berat bisa minta bantuan yang lain, Ibu belum bisa bantu" ucap ku sambil mengelus kepala Dita.
"Ibu urus Dimas aja, soal toko serahkan ke Dita... Ya Dimaaas yaaa..." godanya pada Dimas.
"Bu... Dimasnya Dita gendong ya..." pintanya.
Aku pun memberikan Dimas pada Dita, lalu membawa Dimas ke ruang tengah.
"Om Iwan acem lom mandi" goda Dita saat Iwan ingin mendekat ke Dimas.
Iwan yang mendengar ucapannya, langsung pergi. Aku yang mendengar ucapan Dita dan sikap Iwan hanya tertawa.
Entah sejak kapan keduanya terlihat akrab. Tidak sengaja pernah ku melihat Iwan memegang tangannya. Mungkin karena sering bertemu, menimbulkan perasaan.
\=\=\=
Aku terbangun saat Dimas menangis, ku pergi ke kamarnya dan meny*s*i hingga ikut tertidur lelap. Aku kasihan jika Alang harus terbangun dan ikut begadang menemaniku.
"Beb..." bisik Alang membangunkanku sambil memelukku dari belakang.
"Hemm... Kok kesini? Kamu tidur aja dikamar, biar Dimas saya yang temani" kataku
"Nggak enak tidur sendirian" gumamnya.
Kamipun terlelap di kamar Dimas.
.
.
__ADS_1
Alang tau, kadang aku cemburu dengan Dimas, yang lebih diperhatikan. Hari ini sengaja Alang mengajak kami semua berlibur.
Mengunjungi rumah pantai pak Kesuma, sudah lama kami tak saling jumpa. Bercengkrama dan mengenal suamiku lebih dekat. Dimas pun tampak bahagia dengan suasananya, teriakan-teriakan gemasnya tak henti-henti. Menjelang sore kami pun pamit pulang. Wajah lelah dan bahagia terpancar di wajah kami semua.
Selama 2 jam perjalanan Dimas sudah tertidur dalam dekapan Alang.
Sesampainya di rumah, semua kembali ke peraduan masing-masing, Iwan kembali ke apartement setelah mengantar kami. Aku mengganti pakaian Dimas dan meny*s*inya ketika mulai rewel.
Menjelang malam aku baru mandi, kulihat Alang sudah tertidur lelah.
Merebahkan kepalaku di dada Alang dan melingkarkan tanganku. Alang berbalik memelukku, dan langsung agr*sif mencium bibku.
Aku membalas dengan tidak kalah agr*sif. Alang semakin liar m*nel*suri semua tubuhku. Nafasnya memburu seiring dengan tangannya yang bergerilya.
"Laaaang" d*s*hku saat merasakan pelepasan ketika dia membenamkan wajahnya diantara p*h*ku. Nafasku terengeh-engah ketika dia sudah menatapku dalam.
"Beb... Aku minta jat*h ya..." tanyanya, aku hanya menganggguk.
Tubuhnya semakin menyatu tenggelam bersamaku, ku gigit bibirku saat kep*milikannya menerobos t*buhku.
"Laaaang" bisikku setiap merasakan s*ns*si pada inti ku.
"Terus panggil namaku beb..." d*s*hnya dengan nafas berp*cu.
Kami mencapai pelepasan bersama, wajahnya tersenyum dengan mata yang sayu. Entah sudah berapa kali kami b*rcinta.
Kuberanjak keluar kamar, saat Dimas menangis. Alang tetap tertidur dalam lelahnya. Kutemani Dimas hingga tertidur lagi.
\=\=\=
\=\=\=Tamat\=\=\=
Bonus visual :
Dimas Arya Asmadi
__ADS_1