Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.29 Iwan Bekerja Keras


__ADS_3

Iwan POV 


Setelah membersihkan diri, aku kembali memantau kualitas camera pengawas. Aku tidak mau buruanku lolos begitu saja.


Kulihat tuan Alang keluar dari kamar dan tergesa-gesa. Apakah mereka ribut lagi?


Kemudian Nyonya keluar dari kamar, dan bertanya padaku.


"Wan?"


"Ya nyonya"


"Kau tidak pergi dengan Alang?"


"Tidak nyonya, tuan ada urusan lain" ucapku berbohong.


"Ya sudah, kau istirahatlah. Hari ini sangat melelahkan"


Aku penasaran, dan berinisiatif untuk mencari lebih banyak yang terjadi.


Hal yang tidak pernah kulakukan adalah memantau kehidupan pribadi tuan Alang.


Tapi entah kenapa, saat ini aku cemas padanya.


Tuan yang baru saja pulang, lalu pergi lagi. Hal yang tidak biasa ia lakukan.


Kuperhatikan apa yang dilakukannya melalui camera CCTV publik.


Terlihat tuan menemui seseorang. Seorang wanita yang rasanya pernah kulihat.


Wanita yang tadi siang masuk kantornya, perwakilan EyeLab adv.?


Tuan tidak pernah seperti ini, menemui client secara pribadi diluar kantor.


Tanganku mengepal, darahku rasanya mendidih. "Tuan, saya mohon ingat nyonya..." hanya itu yang bisa kubisikkan pada hatiku.


Kubuka file EyeLab adv. mencari tau siapa wanita itu, sebelum terlambat.


Nama : Tara Dzafina


Usia : 25 tahun


Pekerjaan : Manager Pemasaran EyeLab adv.


Kucatat apa saja yang kuperlukan nanti.


Kutelusuri latar belakang masa lalunya. Aku terperangah, mengetahui dia kekasih masa lalu tuan Alang.


\=\=\=


2 hari kemudian....


Hari ini aku menerima tamu.


Dia wanita yang berparas cantik.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah ini kediaman Alang Asmadi?" tanyanya.


"Ya betul, silakan masuk. Saya istrinya".


Kupersilakan dia duduk dan membuatkan minuman.


(Dialog)


Vina: "Silakan diminum dulu airnya"


Tara: "Terima kasih...."


Vina: "Vina, nama saya Vina"


Tara: "Saya Tara, senang bertemu dengan anda"


Vina: "Ada perlu apa ya?"


Tara: "Saya hanya ingin bilang, Alang kekasih saya sejak 3 tahun lalu" tangannya bergetar sambil memegang gelas.


Tara: "Saya pun terkejut dia menikah tanpa memberitahu saya"


Aku tertegun mendengar pengakuannya.


Tara: "Bahkan 2 hari lalu kami bercumbu di apartement ku" lanjutnya.


Tara: "Saya minta maaf, saya akan menjauhi suami anda, saya tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan seseorang. Karena saya tau sakitnya seperti apa" sambil terisak-isak.


Tara: "Saya permisi, dan sekali lagi maaf jika saya mengganggu waktu anda" dia pun pergi begitu saja.


Kulihat selembar foto yang tertinggal dilantai.


Air mataku menggenang, tubuhku gemetaran saat melihat foto itu.



"2 hari lalu? saat Alang pergi tiba-tiba setelah menerima telpon, selagi berc*mbu denganku" pikirku dalam hati.


Aku pihak ke 3 diantara mereka.


Kenapa Alang nggak cerita kalau sudah punya kekasih saat ku memintanya menikahiku...


Haruskah ku menanyakan kebenarannya?


Seketika aku menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


\=\=\=


Iwan POV 


Belakangan ini, aku selalu memantau CCTV didalam kamar, terhitung sudah 2x tuan Alang menemui wanita itu. Kenapa harus ada kerjasama ini..!!


Baru kali ini aku menyesalkan pekerjaan.


"Wan, Iwaaaan..."


Aku pergi keluar saat mendengar nyonya memanggilku.


"Ada apa nyonya?"


"Makan malam sini, kerjaannya dilanjut setelah makan"


Akupun menuju meja makan, kami bertiga biasa makan bersama seperti ini.


"Apa banyak kendala pekerjaan Wan?" tanya tuan Alang.


"Tidak tuan, hanya memantau pekerjaan"


"Bagaimana dengan tokomu Vin?" aku terkejut mendengar pertanyaan tuan Alang.


"Aku sudah menjual rumah itu" jawab nyonya sambil tertunduk.


Tuan Alang langsung melihatku, aku hanya mengangguk tanda aku sudah bertindak.


"Vin, apa kau sedih menjualnya?"


"Tidak, aku sudah memikirkannya matang-matang"


"Sekarang kau pikirkan saja kehamilanmu. Sebentar lagi kau akan melahirkan, aku tak mau terjadi apa-apa denganmu. Mengerti?"


"Iya" jawab nyonya singkat.


Selesai makan, nyonya langsung masuk kamar, dan tuan Alang menginterogasiku.


"Kenapa kau tak melaporkannya padaku?"


"Saya tidak ingin menambah pikiran tuan. Semua langsung saya eksekusi"


"Tuan..." lanjutku.


"Apa lagi?"


"Saya istirahat dulu"


"Ya sudah" tuan Alang langsung masuk kamar.


Aku rasanya ingin mengatakan :


Jangan bermain api, kalau tidak mau terbakar. Tapi terasa berat mengatakannya. Akan banyak interogasi berikutnya.


"Damn..!!" geramku. Beraninya wanita ini menemui nyonya!


Kuperhatikan semua.


"Apa yang nyonya pagang? Foto? Foto apa?" kuperbesar fokus pada foto yang dipegang nyonya.


"Siaallll tak terlihat jelas..!"


"Nyonya....!! Kau sungguh menakutkan. Jika tadi bertemu dengan wanita itu, kenapa nyonya begitu tenang?"


.


.


Aku harus menghubungi tuan Niko.


"Kenapa Wan?"


"Tuan, pemicu depresi datang kembali ciri-cirinya seperti apa?"


"Lu nanya kalo kasus Vina?"


"Iya tuan"


"Kenapa dia? Sebut aja sikapnya"


Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Harusnya nyonya sedih, tapi terlihat biasa saja"


"Sedih soal apa? Menyangkut Alang?"


"Iya"


"Kenapa dia?"


"Saya tidak bisa mengatakannya tuan"


"Gua gak bisa analisa kalo gak tau ceritanya. Suruh temuin gua aja"


"Baik tuan" terdengar panggilan sudah diputus.


\=\=\=


Iwan POV 


Sudah seminggu ini, EyeLab adv. bekerja sama. Wanita itu dan tuan Alang jadi sering bertemu.


Aku selalu menemani dan mengawasi tuan Alang.

__ADS_1


Aku tidak mau terjadi kerusakan fatal.


"Wan, keruanganku segera" panggil tuan Alang di hape ku. Aku langsung meninggalkan makan siangku untuk menuju ruang kantor tuan Alang.


Alang: "Duduklah"


"Ada yang mengganjal dihatiku, seketika aku memikirkannya"


Iwan: "Hal apa tuan?"


Alang: "Apa dia mencintaiku atau karena status anak..."


".........."


Alang: "Kau tidak punya jawabannya?" sambil melihat pada asistentku.


"Apa aku mencintainya atau karena ingin menolongnya?"


"Aku sendiri tidak tau jawaban untuk pertanyaanku sendiri..." keluhnya.


Jika saja tuan Alang mau jujur dan menceritakan tentang wanita itu, aku akan mengatakannya. Tapi jika ia tidak mengatakannya, aku tidak bisa ikut campur.


Tuan Alang hanya menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


"Sudahlah, lupakan yang kukatakan barusan"


"Baik tuan"


Aku kembali mengerjakan tugasku.


\=\=\=


Tara POV 


Istri Alang belum bereaksi atas ucapanku... Kupikir dia akan langsung melabrak ku atau suaminya.


Atau dia terlalu bodoh memahami ucapanku..?!


Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.


Alang pun masih menerima kehadiranku


Aku akan terus mendekatinya.


"Hallo Alang, apa kamu sibuk?"


"Lumayan, ada apa kau mengubungiku?"


"Ada pekerjaan yang harus kudiskusikan denganmu, bisa kita bertemu di ruang meeting"


"Baiklah, aku segera kesana"


"Aku akan bawa proposalnya, sampai bertemu nanti".


Aku segera menuju ruang meeting.


Sudah kusiapkan beberapa proposal yang sulit pengerjaannya.


Kulihat dia menuju lorong ruang meeting, "Alang" kupanggil sambil berlari-lari kecil. Dia melihatku dan menunggu ku.


"Mari kubawakan proposalnya"


Kuberikan sebagian proposal padanya, kami masuk bersama ke ruang meeting.


Posisi duduk kami bersebelahan, sampai ku bisa melihat wajahnya begitu dekat.


Dia meneliti beberapa bagian proposal, dan menandai hal yang tidak penting untuk direvisi.


"Lang" panggilku.


"Ada apa?"


"Kenapa kau memperlakukan ku begitu kejam?"


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak menolakku dan juga tidak menerimaku?"


"Jika aku menolakmu, apa harga dirimu tidak terusik? Kau cantik, berkelas, berkarir dan pintar".


Sambil menatapku heran.


Kumelihat istrinya dibalik kaca..!! Kesempatan ini tak boleh disia-sia kan.


"Beri aku ciuman terakhir dan aku tidak akan mendekatimu lagi" bisikku ditelinganya.


Akupun mendekati bibirnya, melingkarkan tanganku dilehernya.


Kuturunkan kepalanya untuk menyentuh leherku.


Tiba-tiba pintu ruang meeting terbuka.


"Maaf..." asistennya masuk tanpa mengetuk pintu. Dan langsung pergi setelah menutup pintu lagi.


"Apa-apaan kau ini?" Alang menarik lepasan tanganku dengan kasar.


"Maaf, aku terlalu terbawa suasana" kataku pelan.


Alangpun langsung pergi dari ruang meeting dengan wajah kesal.


Istrinya kemana? Apa pergi begitu saja?!


Kuharap keberuntungan berpihak padaku. Tak akan ada kesempatan kedua...

__ADS_1


\=\=\=


__ADS_2