
**Backflash
Alang POV
Setelah laporan ku tandatangani, akhirnya kerjasama dengan EyeLab adv. rampung. Tampaknya ada yang bahagia.
Alang: "Apa yang membuatmu senang?"
Iwan: "Menyelesaikan pekerjaan tuan"
Alang: "Bukan itu, tapi karena Tara tidak disini lagi" tebakku sambil tertawa.
Iwan: "Itu juga"
"Aku masih memantaumu Wan" bisikku dalam hati.
"Wan, bisa kau hubungi Vina? Setiap ku telfon, dia selalu sibuk" sungutku.
"Nomor di blokir tuan"
"Kenapa dia blokir?" Iwan menatapku dengan pandangan kecewa.
"Itu karena dia tidak ingin diganggu"
"........"
.
.
"Wan, pekerjaan dengan Santania Cottage apa sudah berjalan?"
"Sudah tuan, sudah dalam pengerjaan 80%"
"Bagus, besok kita akan kesana"
Backflash off
\=\=\=
Alang POV
Kami tiba saat sore hari. Aku harus membujuk Tara untuk tidak ikut. Karena pekerjaan ini membuat waktu ku akan tersita.
Sesampainya kubiarkan Iwan mengurus semua sendiri. Ku ingin berkeliling melepas penat selama perjalanan.
Mataku tertuju pada seseorang yang sedang mengendap-endap dan bersembunyi.
Kuperhatikan apa yang dia takutkan.
"Iwan...? Kenapa? Mata-mata client?"
Aku mendekatinya dan ikut jongkok bersamanya.
"Apa yang kau lakukan?" bisikku
Dengan refleks dia membungkam mulutku, "ssstttt..." sambil menaruh telunjuk di bibirnya.
Pencahayaan di parkiran yang kurang terang, membuatku sulit melihat wajahnya dengan jelas.
"Siapa wanita ini? Rasanya dia tidak asing bagiku, tapi aku lupa" bisikku dalam hati.
Kudengar bunyi alarm mobilku, tanda Iwan sudah pergi.
Kulepas tangannya yang menutup mukutku.
"Sepertinya dia sudah pergi"
"Kau yakin?" tanyanya berbisik.
Akupun berdiri untuk memastikan padanya.
"Ya, aku sudah tidak melihatnya lagi" melihat kearahnya yang masih sembunyi sambil berjongkok.
"Apa dia suamimu? godaku.
Dia pun menatapku, "Terima kasih, aku harus kembali" kutarik tangannya, dan menahannya pergi.
Aku penasaran, apa dia mengenal Iwan? Mengenalku?
Aku menatapnya tajam, mencoba mengingat dimana aku pernah melihatnya.
Kuperhatikan dirinya, dia sedang mengandung.
Entah darimana, ada dorongan pada diriku untuk menyentuhnya lebih.
__ADS_1
"Pergilah" sambil ku kepalkan tanganku menahan keinginanku.
Kuikuti dia dari belakang, terlihat memasuki sebuah cottage.
Aku akan menyelidiki siapa dia dan maksudnya.
"Wan, sedang apa?" ku hubungi Iwan.
"..."
"Selidiki semua client-client kita, aku ingin semua lancar" perintahku padanya.
Setelah mematikan telfon, tampak wanita itu keluar dengan suaminya dan menuju cottage lain.
"Menarik... Mempekerjakan mata-mata pada wanita yang sedang hamil serta membawa suami".
Akupun pergi dan kembali ke kamar hotel sekitar cottage.
\=\=\=
Esoknya....
"Kau menemukan info mencurigakan tentang client?" tanyaku pada Iwan.
"Tidak tuan, semuanya normal. Kenapa tuan bertanya seperti itu?"
"Semalam aku bertemu seorang wanita dan dia terlihat mengintaimu di parkiran"
Iwan terlhat bingung "Tuan mengenalinya?"
"Tidak, lampu parkiran kurang terang" sungutku.
"Ahh iya, dia sedang hamil" kataku sinis.
"Hamil... Mengikutiku ?"
"Wan, apa kau dibelakang ku sudah m*niduri wanita?
"Tuan tau dimana dia menginap"
"Mana kuingat, semua cottage hampir sama. Ku hanya mengikuti tanpa memperhatikan".
"Sudahlah, kalau tidak ada info penting lupakan saja". lanjutku.
Akupun menuju tempat meeting dengan client yang sudah kami rencanakan.
\=\=\=
Aku menelpon Tara, tapi hape nya sedang tidak aktif.
Mobil melaju lambat, karena banyak yang berlibur dari kota lain ke kota Santania.
Hanya tampak jejeran pedagang dipinggir jalan. Para wisatawan yang sekedar mampir untuk beli oleh-oleh.
\=\=\=
Keesokan harinya....
Iwan sedang mengerjakan beberapa laporan progres kerja yang kuberikan dan sedikit perubahan untuk memperbaiki.
Pikiranku masih pada wanita itu. Kenapa wajahnya familiar tapi aku tak mengingatnya.
Ku menyalakan laptop.
Membuka data-data para pegawai.
Tapi aku tak menemukan data wanita itu.
Mungkin ku harus memulai dari Iwan apa yang dia sembunyikan.
Kubuka semua data transaksi perusahaan dalam 1 tahun terakhir.
Ada beberapa data transaksi Iwan melibatkan kantor. Ku teliti semua.
"Vina Putri" bisikku terkejut. 2 transaksi untuk Vina? Apa-apaan ini.
Kupisahkan data ini secara khusus.
Membaca detail transaksi 2 rumah tinggal.
Lokasi di kota Caera, 3M
Lokasi perumahan Dyvette, 2M
Kupanggil Iwan untuk ke ruanganku.
__ADS_1
Berkas kulempar ke meja dengan penuh kekesalan. Iwan mengambil dan membukanya. Masih dengan sikap yang tenang.
"Apa maksudmu membeli semua ini?" tanyaku masih dengan emosi.
"Apa kau menggelapkan dana perusahaan dengan cara seperti ini HAH? Jawab aku....!!" sambil kupukul meja kerjaku.
"Tidak ada penggelapan dana tuan, semua dokumen lengkap dan ada di kita. Perubahan kepemilikan tinggal diurus dari pihak kita saja, semua tidak akan ada kendala" jawabnya menjelaskan.
"Aku tau itu, tapi nilai sebesar ini..!! Kau mau aku bangkrut?" dengan nada tinggi aku menghardiknya.
Iwan tidak menjawab apapun, artinya dia tau tapi tetap memutuskan hal itu.
Ini sangat janggal bagiku.
Aku harus segera menyelidikinya kesana.
"Besok kita akan ke kota Caera, ada yang harus ku urus. Aku harus mengurus sebuah rumah, disana saja kuberikan rinciannya" kuperhatikan reaksinya.
"Baik tuan, dan beberapa laporan juga sudah selesai. Saya hanya menunggu persetujuan tuan".
"Aku pergi dulu, ada hal yang kulupa. Kau urus kantor dulu" segera ku bergegas menuju perumahan Dyvette tempat rumah itu berada.
.
.
Sesampainya disana, ku hanya memperhatikan dari luar.
Toko Pakaian Vina & Debay
"Untuk apa perusahaanku membeli rumah ini..?"
"Vina Putri... Apakah sahabatku Vina?"
Kuacak-acak rambut ku untuk memahami yang terjadi.
\=\=\=
Iwan POV
Aku mengunjungi tuan Niko di RS Dyvette, mengkonsultasikan kondisi tuan Alang. Karena kami akan ke kota Caera, melewati jalan tempat lokasi tuan Alang kecelakaan.
Niko: "Biarin dia ingat secara alami. Jangan dipaksa. Kita nggak tau bagian mana yang dia ingat. Kalo kenapa-kenapa bawa ke RS aja, gua yang pantau".
Mendengar penjelasan tuan Niko, aku tidak merasa khawatir lagi. Setidaknya ada antisipasi.
Akupun pamit pada tuan Niko.
Didalam mobil ku pantauan keberadaan tuan Alang.
"Perumahan Dyvette" aku tersenyum mengetahuinya.
"Apakah akan ke rumah nyonya di Caera?" kalau begitu, dengan senang hati saya akan mengantarnya.
Ku pijit pangkal hidungku, mencari jejak antara tuan dan nyonya.
Setelahnya mungkin pantai Dyvette.
Kemudian buat perhitungan ke wanita ular itu.
Mengingat wanita itu membuatku sangat marah.
\=\=\=
Keesokannya...
Alang POV
"Kita ke kantor pusat, ada berkas yang harus kupelajari" perintah ku pada Iwan.
"Siap tuan" Iwan pun melajukan mobilnya menuju kantor pusat.
Sesampainya di kantor pusat, aku langsung menuju bagian arsip, yang kemarin sudah kuberi tugas untuk membereskan berkas yang kumaksud. Semua hal tentang berkas ini sudah kupegang.
Kubaca lagi setiap detailnya.
"Vina Putri... sahabatku... Kenapa Iwan yang terlibat dan bukan aku yang menangani? Apa yang sebenarnya terjadi?" bisik ku menahan geram.
Kurapikan berkas yang kuterima, dan menyusul Iwan yang nenunggu di lobi kantor pusat.
"Wan, kita berangkat" kataku singkat.
Kami langsung menuju parkiran khusus di kantor.
"Kita ke alamat ini:
__ADS_1
Jl. Pandawa/76 kota Caera.
\=\=\=