Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.37 I Miss You Beb


__ADS_3

Iwan hanya terdiam dalam kebingungannya.


\=\=\=


Ku sambut Tara yang datang untuk makan malam di apartement.


"Hallo Tara, kau cantik malam ini" sambil kulingkarkan tanganku dipinggangnya.


"Sayaaaang" memeluk dan mencium pipiku. Karena ada Iwan yang selalu mengawasi dengan wajah yang jutek.


Kamipun makan bersama, aku menanyakan hape nya yang tidak aktif beberapa hari lalu. Dan Tara menjelaskan alasannya, dengan gaya yang manja.


Melanjutkan obrolan ke ruang tamu. Dengan gaya Tara dengan bergelayut melingkarkan tangannya dipinggangku dan bersandar di dadaku.


"Sayang, kok ada foto itu disana?" keluhnya saat menyadari foto pernikahan ku dan Vina terpasang ditempat semula.


"Kenapa?" kutanyakan sebabnya.


"Aku tidak suka masa lalu mu mengusik kita" ketusnya


"Aku juga tidak suka jika masa lalu ku mengusik dan merusak hubunganku" sambil kulirik Tara.


Lalu kuperlihatkan foto yang Tara berikan pada Vina. Tara tampak terkejut.


"Lang, aku masih mencintaimu. Aku tidak rela kau dengan yang lain" keluhnya.


"Urusanmu denganku sudah selesai. Kau tau itu dengan jelas" kataku.


"Kau pernah menyakitiku, aku terima. Tapi aku tidak terima kau mengusik istriku" lanjutku.


Tara mulai gugup didepanku.


"Aku sudah mengingat semuanya, dan kau hanya masa lalu ku. Makan malam ini sebagai yang terakhir aku melihatmu"


Gerakkan tangan Tara yang melayang, tertahan oleh Iwan yang langsung menariknya keluar dari apartement.


Terdengar keduanya bertengkar. Dan berakhir dengan suara pintu yang ditutup.


Ku duduk sambil memijit pangkal hidungku.


Iwan yang menghampiriku bertanya, "Ada yang bisa saya bantu tuan?" aku terkekeh mendengarnya.


"Sekarang aku pusing menundukkan wanita keras kepala itu" sambil memandang foto didepanku.


"Kau sudah menemukan lokasinya?" tanyaku menoleh pada Iwan.


"Belum tuan" sesalnya.


"Cari terus... Kali ini aku yang akan mengejarnya"


Kuambil hape ku, membuka medsos ku. Got you.


📩 : Vin, lu kok sombong sekarang. Kata lu kita sohib. Mana ada sohib begitu.


Ku kirimkan pesan padanya.


"Walau tidak dibalas, setidaknya dibaca" bisik ku.


"Istirahatlah, hari ini sangat melelahkan"


\=\=\=


Hari ini jadwalku check kandungan. Tak terasa sebentar lagi aku akan melahirkan. Ada rasa senang dan juga perasaan sedih.


Aku hanya periksa di klinik setempat ditemani sahabatku Laila. Kami menunggu antrian di klinik yang terlihat penuh.


"Gimana kinerja Dita di toko Vin?"


"Dita rajin juga cekatan, terlebih bisa masak" jawabku sambil tersenyum.


Dita adalah pegawaiku di toko, dia menemaniku di ruko. Anak yang supel dan mandiri. Dia juga sebagai model untuk memasarkan pakaian di toko.


Akhirnya setelah 2 jam menunggu giliranku masuk ruang dokter.


Laila menuntunku sepertinya aku orang tua hiks... hiks.


Semua pemeriksaan yang kulakukan diperhatikan oleh Laila. Walau dia tidak paham.

__ADS_1


Dokter yang memeriksaku mengatakan kondisiku dan bayiku sehat. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Laila pun senang mendengarnya.


Laila juga membelikan beberapa pakaian bayi. Dan melarangku tinggal di ruko jika sudah melahirkan.


"Aku mau tinggal dimana lagi jika bukan di ruko? Rasanya tidak nyaman menyusahkan Laila di rumahnya" bisikku.


Sepulang dari klinik, kami kembali ke ruko. Laila membatuku dan Dita membungkus barang pesanan online.


Hanya nunggu kurir datang mengambil.


Setelah bantu-bantu toko selesai, Laila mengisi waktunya iseng membuka medsos.


"Vin, lu udah lama nggak buka medsos lu?" tanya Laila.


"Iya, gua nggak ada waktu. Paling cuma cek ke bagian market. Kenapa?" ku balik bertanya.


"Nggak, temen lu ternyata ganteng-ganteng ya, he...he...he" goda Laila yang kembali sibuk dengan medsosnya.


Akupun penasaran karena ucapan Laila, ku buka medsos ku.


"Yang lu bilang ganteng yang mana La?" tanyaku penasaran.


"Nih yang keliatan ganteng" diperlihatkan profile dan menyebut nama mereka.


"Nih satu juga ganteng Vin, tapi udah nikah, he..he..he"


"Tau dari mana lu klo udah nikah?"


"Ada cincin di jarinya lah"


"Siapa sih, yang mana?"


"Niiih..." sambil memperlihatkan profile akun di hape nya.


"Alang Asmadi" sebutku dalam hati.


"Ooo, ini La..." sambil kuberikan hapenya kembali.


Aku tidak ingin menanggapi apapun.


📧 pesan masuk


📩 : Vin, lu kok sombong sekarang. Kata lu kita sohib. Mana ada sohib begitu.


☑ delete item


Kutinggalkan Laila yang sibuk dengan medsosnya, kupergi menyiapkan makan siang bersama Dita.


Kuhampiri Laila untuk mengajaknya makan "Udah dulu medsosnya, makan dulu sini..." gerutu ku, merasa dia tidak mempedulikan ku.


"Laaa..."


Laila menengok padaku, "Bentar, lagi ada yang mau order. Tapi ambil ditempat, soalnya pesen banyak" dengan mata yang berbinar.


"Suruh tunggu aja, bilang lagi makan atau cek barang yang dia mau order" gerutuku.


"Iiiih, sabar Vin..." masih dengan mengetik di hape nya.


Akupun makan duluan dengan Dita.


Selesai makan, kembali ku mencari barang orderan di rak dan etalase.


Sambil melihat notif di medsos.


"Viiiinnnnn...!" terdengar pekikan suara Laila saat ku sudah setengah sadar. Aku pingsan.


\=\=\=


Alang POV 


Iwan kuberi tugas untuk terus mencari info keberadaan Vina, dan aku mendekati Vina di medsos.


Pesan yang ku kirim tidak pernah direspon, hanya dibaca.


"Segitu marahnya dia padaku tanpa mendengarkan penjelasanku".


Ini membuatku gemes untuk segera menemuinya. Selain aku merindukan semua hal tentangnya.

__ADS_1


"Wan..." pangilku. Iwan menoleh padaku.


"Hari ini ada jadwal meeting?" tanyaku.


"Tidak ada tuan, semua kerjaan tinggal masuk progres, dan beberapa menunggu jadwal eksekusi" jawabnya sambil melihat tab agenda.


Ku berpikir sesaat.


"Hmmmm... kita keluar Wan, ke pantai Dyvette" langsung kuambil jas yang tergantung dan keluar ruangan.


Iwan mengikutiku dari belakang.


Kuambil hape ku dan melihat isi folder yang tersimpan. Aku pernah melihat foto-foto kami dalam folder, tapi ku lupa nama foldernya.


Aku akan mencari perhatian wanita keras kepala ini. Entah apa reaksinya.


Sekalipun marah aku bahagia, yang penting aku tau reaksinya.


Akhirnya kutemukan folder yang kucari. Jangan lupa tag nama Vina Putri saat meng-upload.


**Caption : Pantai Dyvette


❤Apa kau akan terus bertanya hal yang akan menyakitimu?💞**



💕 I Love You Babe 💕



Alang Asmadi with Vina Putri



I Miss you... 💖



.


Kutersenyum melihat yang ku posting pada medsos ku. Aku tak pernah bertindak segila ini, mengumbar hal pribadi.


"Kumerindukannya, ingin memeluk dan bermanja dipangkuannya. Memanjakannya dengan sikapku".


"Apa kau tidak merasakan hal sama?"


Banyak yang ingin kutanyakan padanya. Bagaimana dia sanggup menjalani semua tanpa aku.


Memikirkan hal itu, membuatku sedih.


Panggilan Iwan mengejutkanku.


"Tuan..." sambil menyerahkan secarik kertas.


"Apa ini?" tanyaku sambil membacanya.


"Alamat nyonya Vina, saya menyuruh seseorang memesan pakaian di toko nyonya".


"Toko?" tanyaku heran.


"Saya mencari nama toko yang pernah nyonya pakai. Dan menemukannya di toko online serta alamat yang berbeda"


Kucoba mengingat-ingat tulisan tersebut "Santania?" lirihku.


"Wan, bukankah kita baru saja dari sana?" tanyaku


"Iya tuan, saat itu kita sedang menyelesaikan progres pekerjaan disana".


"Siaaalll" sambil ku usap wajahku dengan kasar. Iwan melihatku dengan heran.


"Kamu ingat ceritaku melihat perempuan di cottage? Yang bersembunyi darimu dan sedang hamil? Aku merasa mengenalimya tapi lupa dimana. Dan itu Vina..!!" begitu ingatanku jelas.


"Satu lagi Wan, selidiki laki-laki yang bersamanya saat itu" sungutku.


Ku mulai bersemangat, ingin segera bertemu Vina di Santania. Kali ini tidak akan kulepaskan. Apapun yang terjadi.


Kembali ku melihat foto-foto kami di pantai ini sambil tersenyum.

__ADS_1


\=\=\=


__ADS_2