Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.15 Kau Sibuk


__ADS_3

Makasih buat reader yang udah sabar, ngasih komen, like, vote dan share nya. 🙏🙏🙏


Pukul 2 kuterbangun, menoleh sosok disebelahku yang masih tertidur pulas. Kuambil minum disamping ranjang, kembali kuberbaring kembali dan tertidur.


.


.


Alang membangunkanku, kulihat dia sudah merapikan diri dan siap pergi ke kantor, baru pukul 5 lewat.


"Udah mau jalan ke kantor?" tanyaku pada Alang.


"Iya, hari ini kerjaanku padat, ada beberapa pekerjaan yang harus kutangani langsung." sambil memasukkan laptop ke tasnya.


"Hari ini jadwalku check up. Aku boleh pergi sendiri?" tanyaku lagi.


Alang menarik nafas dan menoleh padaku.


"Besok aja perginya ya?" menghampiri dan menggenggam tanganku.


"Ya udah, aku minta dijadwal ulang." kataku menenangkannya.


"Aku berangkat dulu" ujarnya disertai kecupan hangat mendarat dikeningku.


Kujalani rutinasku hari pertama jadi pengangguran.


Membersihkan ruangan demi ruangan, dapur, kamar mandi.


"Ternyata pekerjaan ini berat. Atau karena kondisi yang sedang hamil jadi mudah lelah?"


Kubaringkan diriku di sofa, sambil membuka medsosku.


Masih dengan teman yang sama, dengan situasi yang sama. Sedikit komen disambar komen yang lain, membuat ramai wall temanku.


.


.


Bunyi pesan dari bank mengalihkan perhatianku. Rekeningku menerima dana sebesar Rp 3M.


Hasil penjualan rumah warisan orang tuaku.


"Sebaiknya ku urus pembelian rumah kemarin" kataku seraya beranjak ke kamar untuk berganti pakaian.


Akupun menghubungi pak Andi orang pemasaran, janjian untuk deal pembelian rumah. Kubergegas pergi naik taksi.


.


.


Setelah penyelesaian berkas-berkas lengkap, kami langsung menuju bank, tidak lupa aku menelpon ibu Ratna meminta nomor rekeningnya. Aku sudah berjanji memberikan jasa atas bantuannya.


Semua urusan di bank selesai. Sertifikat rumah akan kuperoleh dalam minggu ini. Aku dan pak Andi berjabat tangan, tanda kami sudah menyelesaikan kesepakatan.


Kami pun berpisah, pak Andi meneruskan pekerjaannya, dan aku kembali kerumah. Sebelumnya mampir dulu ke resto untuk makan siang. Biar kuat beraktifitas.


Kurebahkan diriku di ranjang. Rasanya pinggang dan badanku terasa sakit pergi seharian.


Sudah pukul 4 sore,


"Tak ada pesan dari Alang, apakah sangat sibuk" begitu pikirku saat melihat hp.


Setelah membersihkan diriku, aku pergi ke market depan apartemen beli cemilan, mampir ke resto disekitarnya untuk makan malam kami berdua.


Tadi kumenelpon Alang, tapi hape-nya non aktif. Mungkin dia lupa isi batre.


"Sendiri di dalam apartemen sungguh menjenuhkan" bisikku galau.


Kusibukkan diriku sendiri, bahkan makan malam sendiri, Alang masih tidak memberiku kabar.


.


.


Aku terbangun seperti biasanya, kulihat sosok Alang yang sedang tertidur disampingku. Seingatku pukul 10 malam lewat dia belum pulang.


Kuperhatian dirinya, kelelahan terlihat dari wajahnya.


"Kayaknya gak mandi nih orang" kuambil baskom didapur, menuangkan air hangat kedalamnya.


Kubersihkan tubuhnya dengan washlap. Wajah, tangan, ketiak, leher, badan, kaki dan telapaknya.


Kukembali tidur setelah selesai.


\=\=\=


Kuterbangun saat Alang mencium keningku, terlihat dia sudah rapih tanda akan berangkat kerja lagi.


"Udah mau berangkat?" tanyaku tiba-tiba.


"Iya" sambil mengancingkan lengan bajunya.


"Rasanya dia lupa kalo sudah janji anter check up hari ini. Sesibuk itukah?" bisikku.

__ADS_1


"Laaang" panggilku


"Iya" sambil melihatku


"Aku resign dari kantorku"


"Nggak apa-apa resign dari kantor, yang penting jangan resign jadi istriku" ucapnya terkekeh dan mencium keningku.


"Semalam aku terlambat pulang, dan hape ku tertinggal di kantor. Sedangkan aku sedang ada kerjaan dilapangan. Maaf ya gak bisa ngabarin"


"Iya"


"Nggak kesel?"


"Ngapain kesel, orangnya udah ada dan sadar kesalahannya"


"Aku berangkat dulu ya, sarapanmu sudah kubuatkan, jangan lupa dimakan" sambil mendaratkan ciumannya dikeningku lagi. Kemudian berlalu pergi.


Aku sangat bosan dirumah, tidak ada kegiatan, hanya tv, medsos, bersih-bersih. Tidak ada teman ngobrol.


\=\=\=


Alang pulang sebelum makan malam, jadi kami masih bisa makan malam bersama, lalu dia kembali sibuk dengan menyalakan laptopnya lagi.


Kutinggal dia ke kamar, karena masih sibuk dengan laptopnya.


Tidak berapa lama Alang masuk, naik ke ranjang, memelukku dan meletakkan kepalanya dibahuku sambil berucap "Maaf kalau aku sedang sibuk, kau jadi kurang perhatian" kurasa dia menyadari aku merasa diabaikan.


"Aku tidak apa-apa. Jangan kuatirkan aku" kataku berbohong.


"Kau makan banyak dan teratur?"


"Iya, makanku banyak"


"Pantas saja jadi berisi" lalu mencium bibirku dengan lembut.


Seiring irama nafasnya ciumannya menjadi lebih dalam membuatku sulit bernafas. Kulepaskan ciumannya, agar kubisa bernafas.


Dia sudah menjelajahi leherku dan melepas semua pakaianku.


Sejujurnya aku sedang tidak berselera, tidak ingin dilayani tapi kutakut mengecewakannya.


Kuberbalik melayani, memuaskannya hingga mendapat pelepasan.


Berbaring memelukku erat, memainkan jarinya dipunggungku.


Setelah nafasnya mulai reda, mulai beraksi menjajah tubuhku.


"Laaang"


"Aku gak pengen"


"Kenapa? Kau marah padaku?"


"Nggak marah, kamu udah capek. Istirahat aja" kupeluk dirinya.


Tangannya tetap bergerilya, memancing hasratku. Dia tau dimana kelemahanku.


Mencengkeram kedua pahaku, membenamkan wajahnya.


Nafasku semakin tak beraturan, kucengkeram jarinya dengan kuat, suaraku melenguh tak tertahankan.


Dering panggilan telpon mengejutkanku. Dia tak menggubrisnya. Kuberikan telponnya yang ada disampingku. Karena panggilan tidak berhenti.


"Laporkan" katanya setelah menerima panggilan, menaruhnya ditelinganya. Kuberingsut menarik tubuhku, tangannya menahan pahaku lagi. Meneruskan membenamkan wajahnya kembali sambil mendengarkan telpon.


Terkadang Alang sangat lucu, kadang mengesalkan.


Alang melihatku yang memejamkan kedua mata, tanganku pun menahan mulutku untuk tidak bersuara.


"Kutelpon 1 jam lagi" dan mematikan panggilan. Alang melepaskan tanganku, menggenggam jariku diantara jarinya, membenamkan wajahnya lebih dalam hingga kumengapitnya saat pelepasan.


Dia beringsut diatasku dengan seulas senyum mengembang diwajahnya.


"Kau puas beb?"


"Ngilu" kutepis tangannya yang bermain dititik intiku. Dia tersenyum dan menciumiku, pancaran kebahagiaan diwajahnya begitu terlihat.


Kutarik selimut dan merebahkan diriku di dadanya. Jarinya bermain dipunggungku dan lenganku. Mendatangkan rasa kantuk hingga ku terlelap tidur.


\=\=\=


Alang POV


Vina tertidur dengan wajah kelelahan didalam pelukanku. Aku rindu dirinya setelah belakangan ini aku disibukkan perusahaanku.


Kuharus akuisisi 3 perusahaan kelas menengah.


Ku pergi keluar kamar, agar tidak membangunkannya.


Kutelpon Iwan kembali, yang tadi menelpon saat aku sibuk dengan Vina.


Iwan pasti menunggu telponku, karena dering pertama sudah diangkat.

__ADS_1


"Lanjutkan yang tadi"


"...."


"Dia sudah membelinya? Kapan"


"...."


"Laporan lainnya"


"...."


"Percepat eksekusi, kututup dulu".


\=\=\=


Alang membangunkanku dengan mengusap-usap perutku dan nafasnya berhembus ditengkuk ku. Kulihat dia baru rapih mandi. Aku segera beranjak untuk mandi, setelahnya menyiapkan sarapan roti.


"Aku nanti akan pulang telat, tapi kuusahakan tidak terlalu malam. Kau jangan menungguku. Karena tidur terlalu malam tidak baik untuk debay" nasihatnya padaku saat kami sarapan. Ku hanya menganggukkan kepala.


\=\=\=


"Aku sangat suntuk. Sebaiknya kupergi ke rumah yang akan kutempati. Dan membuat daftar belanja barang. Jadi aku sudah tau posisi untuk setiap barang"


Kuhubungi pak Andi untuk janjian ketemuan. Tapi dia lagi sibuk dengan transaksi rumah lainnya. Akupun mengurungkan niatku.


"Aku pergi ke pantai saja, sudah lama aku tak melihat keindahannya" segera kuganti pakaianku lebih santai dan sporty, dengan sepatu kets dan tas selempang.


Dengan tersenyum kuayunkan langkahku. Membayangkannya saja aku bahagia.


Kumasuk kedalam taksi yang sudah menungguku. "Pantai Dyvette ya pak" seruku pada pengemudi.


"Sesuai aplikasi ya bu" akupun membalas dengan anggukan.


Sesampainya disana aku langsung memesan kelapa muda. Rasanya nikmat sekali. Ku ambil beberapa fotoku sedang di pantai, dan mengirimnya ke medsos ku.


Mambalas komen-komen dengan candaan.


"Makan siang dulu, debay mulai ngambek" ujarku sambil mengusap perutku. Kumasuki resto disekitar pantai. Ada penjual kredok, akupun memesannya dengan ditambah nasi.


"Punya rumah didekat pantai mungkin enak, kenapa tidak terpikirkan olehku" gumamku menyesali keputusanku kemarin.


Alang menelponku setelah aku menyelesaikan makan siangku.


"Dimana Vin? Koq suaranya berisik?"


"Lagi main ke pantai Dyvette" jelasku.


"Kok nggak bilang dulu"


"Kamu sibuk, aku gak mau ganggu"


"Habis ini langsung pulang ya?"


"Baru nyampe kok disuruh pulang" sungutku pada ucapannya.


"Kalo begitu, pulangnya jangan kesorean"


"Iya, ok, siap,"


"Sudah makan belum?"


"Udah, barusan makan gado-gado sama nasi bareng debay"


"Kalo mau pulang kasih kabar"


"Iyaaaa"


"Ya sudah hati-hati kamu disana. Luv you beb"


"Luv you too"


\=\=\=


Alang POV


"Wan, kirim pengawal ke pantai Dyvette, Vina lagi disana" perintah Alang ke Iwan asistennya.


"Baik tuan" Iwanpun menghubungi divisi pengawalan perusahaan.


Iwan kembali ke mejaku setelah memerintahkan bagian pengawalan untuk mengawasi Vina di pantai Dyvette.


"Kapan kepastian akuisisinya?" tanyaku menuntut penjelasan Iwan.


"Lusa baru bisa tuan, saya pastikan itu"


"Akan kuambil semua perusahaan keluargaku yang dirampok!" kataku geram sambil mengepalkan tanganku.


"Perusahaan nona Desi agak sulit, karena dimanipulasi oleh suaminya"


"Rasanya aku tak percaya, Ardi sanggup begitu tega pada adikku" kupukul meja dengan keras. Hingga mengagetkan asistent ku.


"2 perusahaan lainnya gimana Wan?"

__ADS_1


"Malam nanti sudah sah milik kita".


\=\=\=


__ADS_2