Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.31 Perang Dingin


__ADS_3

Alang POV


Aku terus berpikir, kenapa Vina ke kantor tanpa memberi kabar sebelumnya. Ada keperluan apa.


"Aku harus bertanya pada Iwan" bergegas ku keluar kamar.


"Wan...!! Iwaaannn...!!" Iwan menghampiriku di ruang tv.


"Jelaskan padaku semuanya..!!


"Tuan, ini..." Iwan menyerahkan selembar foto. Foto saat aku dan Tara keluar dari restoran.


"Siiiaaaallll...!! teriak tuan Alang sambil mengepalkan tangan.


Rasanya ada yang janggal, aku menatap lekat pada Iwan.


"Apa ada yang kau sembunyikan?" bentakku penuh emosi.


"Tara dari EyeLab adv. mengunjungi nyonya beberapa hari lalu, dan memberikan foto ini" Iwan menjelaskan.


"Kenapa kau tidak melaporkannya padaku..!" bentakku


"Kau sudah menemukannya?" tanya Alang.


"Belum tuan, jejaknya hilang. Perusahaan camera pengawas kita hanya di kota ini"


"Kau juga tidak melaporkan sebab Vina menjual rumah, kenapa?"


"Jangan-jangan kau sudah tau kalau Vina berencana meninggalkanku?" suaraku bergetar penuh emosi, kecewa, sakit hati.


Buuuuggh


Kupukul Iwan berkali-kali. Terlihat ujung bibirnya mengeluarkan darah. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit membuatku tak sadarkan diri.


\=\=\=


Rs. Dyvette


Aku berada di ruang perawatan RS. Kulihat Iwan sedang menunggu di sofa seberang ranjang.


"Waaan" panggilku dengan suara yang parau. Iwan pun mendatangiku.


"Ya tuan, apa yang sakit?" tanya nya cemas.


"Ambilkan aku minum" Iwan segera membawakan aku minum.


"Kenapa aku dirumah sakit?"


"Tuan pingsan, jadi langsung saya bawa"


"Bagaimana pekerjaan kita? Apa semuanya beres?"


"Iya tuan, semua beres"


Tak berapa lama dokter Niko datang. Aku terkejut melihatnya.


"Ngapain lu disini?"


Niko: "Meriksa lu" sambil memeriksa nadi dan jantung dengan stetoskop.


Alang: "Gua cuma kecapaean"


Niko: "Apa yang lu rasain sekarang?"


Alang: "Bete liat lu" sambil cengengesan.


Niko: "Lu inget Vina?"


Alang: "Vina? Kenapa Vina?"


Niko: "Iya Vina, lu inget nggak?"


Alang: "Vina sohib gua?"


Niko: "Ooh, ya udah"


Alang: "Gitu doang? Naksir lu sama Vina?"


Niko: "Wan, paksa dia istirahat. Jangan banyak nanya. Paham kan lu?" ucap dokter Niko.


"Iya tuan" Iwan kembali duduk di sofa.


\=\=\=

__ADS_1


Tara POV


Sudah berkali-kali ku lewati ruangan Alang.


Aku berpikir sambil mengetuk-ngetuk pulpen di meja, "Apa kemarin mereka ribut? Sampai Alang tidak masuk kerja, menemani istrinya di RS?"


"Aku harus mencari tau apa yang terjadi".


Aku tak bisa menyerah begitu saja. Alang harus kembali padaku, bagaimanapun caranya.


\=\=\=


Iwan POV


Rasanya sudah tidak ada harapan tuan dan nyonya bisa bersatu.


Nyonya pergi meninggalkan tuan dan tuan juga lupa tentang nyonya.


Ingatan tuan juga tidak tau kapan akan kembali.


Aku harus menceritakan semuanya ke tuan Niko.


"Wan..."


"Ya tuan" ku hampiri ranjangnya.


"Aku sakit apa sampai harus ke RS, kenapa Niko ada di RS Caera, bukankah dia tugas di RS. Dyvette? dan apa maksud ucapan Niko?"


"Kita ada di RS. Dyvette tuan, anda pingsan karena sakit lalu saya bawa ke RS, soal sahabat tuan, saya juga tidak tau"


Aku tak boleh mengungkit soal nyonya dulu.


Alang: "Kenapa kita di Dyvette?"


Iwan: "Kita buka kantor cabang disini"


Alang: "Begitu? Kenapa aku tidak tau?"


Iwan: "Mungkin karena terlalu sibuk, tuan lupa"


Alang: "Sampai berapa lama aku harus disini?"


Iwan: "Akan saya tanyakan pada tuan Niko. Kalau begitu saya permisi dulu tuan" akupun bergegas pergi.


Dengan tergesa-gesa, aku berjalan menuju ruangan tuan Niko.


"Masuk" begitu mendengar sahutan aku pun masuk.


Niko: "Ada apa Wan? Duduklah"


Iwan: "Tuan Alang menanyakan, kapan bisa pulang"


Niko: "Besok udah bisa pulang"


Untuk beberapa saat keduanya terdiam.


Niko: "Kenapa diam? Jika sudah selesai, keluarlah, kerjaan gua masih banyak".


Iwan: "Ada hal yang harus saya ceritakan" aku merasa sangat gugup.


Niko: "Menyangkut Vina?"


Aku hanya menunduk, entah memulai dari mana.


Niko: "Gua nggak lihat Vina disini, jadi gua nyimpulin kayak gitu. Ditambah, Alang masih lupa siapa Vina, padahal beberapa minggu udah hidup bersama lagi"


Iwan: "Jadi gimana tuan?"


Niko: "Gua takut analisa gua salah"


Iwan: "Analisanya tuan apa?"


Niko: "Alam bawah sadar Alang memang tidak ingin bersama Vina"


Kami saling bertatapan.


Niko: "Gua bilang kan bisa salah, jangan muka lu kayak putus asa begitu"


Iwan: "Nyonya akan menggugat cerai dalam 3 bulan, apa tuan Alang perlu tau segalanya?"


Niko: "Saranku, beritahu setelah menerima surat".


Iwan: " Baiklah tuan, saya permisi"

__ADS_1


Sekembalinya aku dari ruangan tuan Niko, wanita itu sudah ada didalam. "Mau apa dia?" bisikku.


"Wan, kenalkan ini Tara" ujar tuan Alang.


"Saya sudah tau tuan, kami bertemu dikantor" jelasku.


Tara: "Sayang, kapan kau keluar dari RS" sambil bergelayut manja.


Aku hanya mengepalkan tanganku melihat kelakuan wanita ular ini.


Alang: "Niko bilang kapan aku bisa keluar Wan?"


Iwan: "Belum tuan" bohongku.


Tara: "Kau tinggal di apartement ku ya? Ku mohon sayang..."


Alang: "Iya, iya, baiklah" sambil mencubit hidung Tara dengan gemas.


Iwan: "Nona, bisa kita bicara diluar?"


Keduanya menoleh padaku.


Kemudian Tara pun mengikutiku keluar.


Iwan: "Nona, hubungan kalian adalah masa lalu. Dan tuan akan pulang ke apartement nya sendiri"


Tara: "Dan istrinya juga masa lalu yang tidak diingatnya. Hatinya padaku, bukan pada istrinya. Kau paham itu A.S.I.S.T.E.N.T"


Iwan: "Aku memang asistent nya, dan akan menjaganya".


Tara: " Turunkan foto pernikahannya, dan aku tidak akan memaksanya tinggal di apartement ku. Aku yang akan pindah ke apartemennya".


Iwan: "Tidak mungkin tuan hidup bersama tanpa pernikahan!!"


Tara: "Aku akan memintanya menikahiku"


Iwan: "Bersabarlah 3 bulan lagi"


Aku diam sesaat, lalu masuk lagi.


Kupapah tuan Alang yang baru saja keluar toilet.


Alang: "Kalian pulanglah, aku ingin istirahat" sambil merebahkan diri.


Tara: "Sayaaang, aku pulang dulu ya..." sambil menciumnya.


Iwan: "Saya permisi tuan"


Akupun bergegas keluar, dan menuju apartement. Menurunkan foto penikahan tuan dan nyonya dari ruang tengah.


\=\=\=


Alang POV


Tara datang menemui di RS, dia kekasihku sejak 3 tahun lalu. Masih tetap manja dan menggemaskan.


Aku harus mengenalkan Tara pada Iwan, mereka pasti belum saling mengenal.


Keduanya ternyata telah saling kenal di kantor.


Entah mengapa, sejak tadi Iwan sangat aneh. Terlebih sejak Tara datang, rasa ketidaksukaannya sangat terlihat.


Ada hubungan apa mereka berdua.


Dan semakin mencurigakan ketika Iwan tidak sopan meminta bicara berdua dengan kekasihku.


Aku harus mencari tau semuanya. Kumendekat ke arah pintu tempat mereka berbicara.


Entah apa yang mereka bicarakan.


Istri ? Foto pernikahan?


Tampaknya keduanya sudah selesai bicara. Aku segera pergi ke toilet.


Aku harus menyelidikinya sendiri. Tidak ada yang bisa kupercayai saat ini.


\=\=\=


Tara POV


Dia tidak mengingat istrinya... Ini kesempatan bagiku.


3 tahun ku mampu bersabar, 3 bulan akan kujalani.

__ADS_1


Akan kubuat dia melupakan istrinya selama-lamanya.


\=\=\=


__ADS_2