Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.14 Resign


__ADS_3

Makasih buat reader yang udah sabar, ngasih komen, like, vote dan share nya. 🙏🙏🙏


Kuterima panggilan telpon dari bu Ratna. Dia menjelaskan saat ini pembeli ada di rumah bu Ratna dan ingin langsung deal dan transaksi. Mengingat angkanya yang harus disetor langsung ke bank.


Aku mengiyakan, karena serifikat rumah dan data pemilik rumah sudah kuberikan tadi ke notaris yang kutunjuk mewakili-ku


Panggilanpun diakhiri, aku melanjutkan pekerjaanku.


Setelah makan siang, sekretaris direktur cabang memberitahukan bahwa aku dipanggil ke ruangannya.


Akupun bergegas pergi keruangan direktur pak Soni.


Kuketuk pintu dan dipersilakan masuk. Aku terkejut dengan kehadiran Indra disana, tanpa ada pak Soni. Dia berdiri didepan meja pak Soni dan melangkah ke sofa tamu.


"Duduklah" kata Indra menyuruhku sambil duduk


Aku pun duduk bersebrangan dengan Indra. Ku hanya diam ingin tahu apa yang mau dibicarakan Indra.


"Vin ..." Indra memanggilku untuk memulai pembicaraan.


Aku hanya menoleh padanya.


"Apa kamu tau kalo kemarin saya ke apartementmu ?"


"Aku tau, aku melihatnya. Dan mendengar sebagian obrolan kalian. Ya... Kalian, kau dan suamiku"


Indra terperangah mendengar penuturanku.


"Rasanya, apa yang suamiku katakan padamu itu sudah jelas dan tegas".


Aku berdiri dan berkata "Saya permisi dulu pak. Pekerjaan saya masih banyak. Dan kita dikantor adalah hubungan atasan dan bawahan. Kita tidak ada hubungan diluar itu, sesuai Surat Perjanjian Damai yang anda buat".


Aku langsung melangkah keluar ruangan. Langsung menuju mejaku, dan membuat surat resign kerja.


Menjelang pukul 4 sore aku menyerahkan surat resignku. Kupamit pada rekan satu divisiku, dengan alasan kehamilanku. Mereka terkejut karena mereka tidak tahu kalau aku sudah menikah, dan aku tidak pernah cerita. Aku hanya tertawa renyah, karena hal itu urusan pribadi yang tidak ingin ku-ekspos.


Ku berjalan keluar gedung setelah memesan taksi online. Menaiki taksi yang telah datang, dan langsung ke apartement.


.


.


Sesampainya di apartemen, kulangsung membersihkan diriku dan menelpon Alang untuk tidak menjemputku dikantor.


"Terdengar nada sibuk, aku akan menelponnya lagi" sambil ngemil, aku menelponnya kembali.


"Iya beb, tunggu ya, ini masih dijalan"


"Gak usah jemput ke kantor, aku udah di apartement"


"Kok udah pulang?"


"Lapaaarrr" sungutku.


"Ya udah, mau dibelikan apa? Mumpung aku diluar"


"Sate Padang"


"Ok, aku order online aja. Biar aku gak telat sampe apartement"


"Iyaaaaa"


"Love you beb"


"Hemmmm"


Kumatikan panggilan telpon, dan menyalakan tv sambil bermalas-malasan. \=\=\=


Alang POV


Iwan menelpon Alang, tuk melaporkan hal penting.


"Tuan, ada yang harus saya laporkan"


"Katakan"


"Saya harus bertemu tuan, ini tentang nyonya"


"Ketemu di resto seberang apartement" tukas Alang cepat.


"Siap tuan"

__ADS_1


Sesampainya diresto apartement, Iwan menyerahkan tab. yang berisi rekaman CCTV apartement. Terlihat dalam rekaman tersebut kedatangan Vina, melihat Indra dan Alang didekat lift. Dibalik tembok Vina bisa mendengarkan obrolan mereka. Lalu setelahnya pergi dari sana.


"Bukankah ini kemarin?"


"Betul tuan"


Alang menyilangkan tangannya, mengingat-ingat kejadian saat dia kembali. Lalu tersenyum dengan wajah merona.


"Jadi itu sebabnya dia aneh. Aku paham sekarang" gumamnya.


"Ada lagi?"


"Transaksi sudah selesai. Malam ini turun" lapor Iwan singkat


"Ok, good. You are the best"


"Dan ini tuan" Iwan menyerahkan copy-an surat resign Vina.


Alang terkejut, dia tak menyangka secepat itu. Lalu menatap Iwan untuk penjelasan detailnya.


"Laki-laki itu datang ke kantor Vina. Dan memanggilnya keruangan direktur cabang. Menurut informan ada pertengkaran, tapi tidak jelas apa yang jadi pertengkaran"


"Lainnya?"


"Itu saja tuan"


"Terima kasih Wan. Kau istirahatlah dikota ini sejenak. Aku masih butuh kau mengawasi sesuatu"


"Baik tuan. Permisi"


Aku langung menuju apartemen dilantai 8.


Begitu masuk apartement, kulihat Vina sedang merebahkan dirinya di sofa.


\=\=\=


Alang datang langsung mengecup keningku, membuka setelan jasnya dan bersandar di sofa.


Kubangkit dan memberikannya minum.


Dia menerimanya dan langsung meneguknya hingga tuntas.


Dia menepuk sofa tanda menyuruhku duduk, merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pahaku.


Aku langsung tertawa mendengarnya.


"Mandi dulu sana, bau matahari dan polusi"


"Rebahan dulu, capek banget"


Pintu bell berbunyi, aku meminggirkan kepala Alang dan membuka pintu, lalu menerima pesanan kami.


Kutaruh di meja, dan kembali ke sofa. Kulihat Alang tertidur. Dia terlihat sangat lelah.


Kucium keningnya...


"Jangan lelah denganku yaaa"


Kusiapkan baju gantinya, merapikan tas kerjanya. Dan kupergi ambil pakaian di laundry, yang ada di lantai dasar, bagian luar gedung.


"Ternyata berat juga" bisik hatiku.


"Bisa saya bantu bawakan nyonya?" tanya seseorang menawarkan bantuan untukku.


"Siapa ya?"


"Saya Iwan, bawahan pak Alang, kebetulan mau ambil dokumen yang terbawa"


"Iwan... Iwan..." rasanya aku pernah mendengar atau membaca nama itu.


Aku terus mengingat-ingat.


"Kita pernah bicara ditelpon, nyonya" Iwan menjelaskan seakan dia bisa baca pikiranku.


"Oooh iya, betul. Mau ketemu Alang? Yuk ikut keatas" ajakku kemudian.


"Biar saya bawakan, wanita hamil dilarang bawa barang berat. Bahaya buat bayi" aku mengernyitkan alisku, penasaran apakah Alang cerita tentang diriku.


Iwan langsung membawa semua, dan bergegas menuju lift, aku berlari menyusul untuk menekan tombolnya.


Sesampainya kami di dalam apartement, Iwan menaruh cucian laundry di samping sofa. Dan kupersilakan duduk.

__ADS_1


"Lang, ada tamu" bisikku ditelinganya.


"Laaang"


"Hemmmm" dia malah merangkulku didepan orang. Segera kulepaskan rangkulannya dan kupertegas kalau ada tamu.


"Lang, ada pak Iwan"


Alang terkejut dan terbangun. Melihat Iwan yang sedang duduk di sofa.


Kubawakan minum, dan mempersilakan Iwan untuk minum, lalu menemani Alang di sofa.


"Ekhem ..." keduanya melihat kearahku.


"Kalian seperti pasangan yang lagi ribut, saling diam dan saling pandang" godaku melihat kekakuan diantara mereka.


"Saya mau ambil dokumen dan terbawa pak" Iwan membuka pembicaraan.


"O... o..." Alang tampak gugup menjawabnya.


"Biar kalian nggak risih, gua tinggal aja"


Kulangsung berbalik menuju kamar.


"Ada apa sampai kau kemari?" bisik Alang ke Iwan.


"Tadi nyonya angkat bawaan berat. Jadi saya ngajuin diri untuk bantu bawa" bisik Iwan juga.


Alang menepuk keningnya.


"Dokumen apa yang ingin kau bawa?"


"Yang mana saja tuan"


Keduanya masih terus berbisik.


"Ambillah di tasku"


"Vinaaaaa" panggilnya, agar aku keluar.


Iwan sudah membawa dokumen dari dalam tas Alang, dan pamit pulang.


"Permisi nyonya. Maaf mengganggu" pamit Iwan padaku.


Mata Vina memicing tajam kearah Alang, setelah Iwan keluar dari apartement mereka.


Alangpun salah tingkah dibuatnya.


Akhirnya beranjak menuju kamar.


"Mau lari kemana?" tegur Vina dengan nada dingin.


"Mandi dulu nyonya" sambil berpikir seperti apa menjelaskannya.


Vina menghangatkan makan malam yang tadi belum sempat dimakan.


"Makan dulu, biar ada energi" kata Vina setelah melihat Alang keluar kamar dengan rapi.


"Hmmmm"


Keduanya pun makan bersama, mata Vina masih terlihat bagai pedang di pikiran Alang.


Setelah menyelesaikan rutinitas seperti biasa. Vina pun mulai mencari tau, siapa Iwan.


"Dia hanya bawahanku. Tidak lebih"


"Koq tadi rasanya aneh. Kalian berdua terlihat gugup. Apa ada yang disembunyikan?"


"Nggak ada. Biasanya ketemu urusan kerjaan, ini diluar itu. Jadi janggal"


"Udah ya, aku masih capek. Sedikit demam juga" adunya pada Vina.


Vina memeriksa kening dan lehernya.


Keduanya ke kamar untuk istirahat.


Alang memeluk punggung Vina sambil berbisik.


"Biarkan aku tidur memelukmu seperti ini"


Terdengar hembusan nafasnya yang semakin lama teratur dan lembut.

__ADS_1


\=\=\=


Jangan lupa meninggalkan jejak komen yaaa


__ADS_2