Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.8 Aku Depresi_1


__ADS_3

Sudah setengah jam aku menunggu.


Perutku lapar. Jika kutinggal pergi dan namaku dipanggil tapi tidak ada, nanti terlewat.


Alang menelponku,


"Panggilan dari Alang?" tumben nelpon jam segini.


"Halo ... Ada apa?"


"Nanti aku jemput kamu di kantor, kita pergi balik ke kota Caera"


"Ngapain balik?"


"Besok saya lamar kamu ke rumah abang kamu" tanganku langsung lemas.


Aku merasa mimpi.


Alang mengingatnya, sedangkan aku tidak terpikirkan.


Sapaan dari dokter langgananku menyadarkanku.


"Nyonya Alang mau periksa ya?"


"Iya dok. Apa masih lama?"


"Nggak kok, sabar ya"


"Iya"


Dokterpun berlalu dan kuingat dengan telpon yang masih dipangkuanku.


"Iya Laaang"


"Apa yang iya"


"Gak tau, tadi diajak ngobrol"


"Lagi dimana?"


"Rumah Sakit"


"Ngapain?"


"Check up kandungan"


"Tunggu gua sampe dateng, baru masuk ruangan. Jangan sendirian. Gua langsung jalan"


Telpon diputus dari Alang. Jadi gak ada alasan marah-marah ke gua.


"Nih orang sesuka hati banget. Kantornya nyuruh pindah dia ogah, giliran gak disuruh dia pindah. Sekarang maen pergi aja, gak takut dipecat apah" gerutuku pada kelakuan Alang.


\=\=\=


Alang POV


"Ada apa Wan?"


"Besok bapak jadi lamaran?"


"Iya, nanti saya pulang"


"Surat-suratnya sudah lengkap pak"


"Kamu pegang aja dulu. Nanti sekalian saya bawa. Urusan hotelnya?"


"Sudah siap pak"


"Ok"


Sudah beberapa hari ini aku menghindari Vina. Aku takut terlihat lemah di depannya. Dia akan semakin rapuh.


Kutelpon Vina untuk mengabari rencanaku melamarnya besok.


Kujelaskan padanya kalao nanti balik ke kota Caera.


Rasanya dia bukan di kantor, ada suara wanita yang kukenali ...


Dokter kandungan!!


Plis Vina jangan aneh-aneh, jangan mikir pendek !!!


Tunggu gua Vin ....


\=\=\=\=


Dua puluh menit kemudian Alang sudah bersamaku menunggu panggilan suster.


"Nyonya Alang"


"Iyaaaa" kami menuju ke ruang periksa. Kutarik tangannya untuk sedikit menunduk.


"Jangan masuk ke ruang USG ya. Nunggu di meja dokter aja"


"Gak mau, gua mau lihat janinnya"


Kutahan rasa malu ku kembali, si kepo ini bener-bener nggak ngertiin posisi gua.


"Ada keluhan nyonya Alang?" tanya dokter padaku.


"Kemarin pagi, perut saya sakit sampe keram" aku mengadu pada dokter.


Alang terkejut mendengarnya. Lalu melihat dokter yang memandang sinis.


"Saya gak minta jatah dok" jawaban polosnya membuatku ingin tiarap di lantai.


"Ada keluar flek?"


"Nggak ada dok"


"Nyonya jangan banyak pikiran. Makan juga harus yang bergizi. Apa aroma nasi masih bikin mual?"


"Udah nggak mual dok"


"Selingi dengan makan kentang dan umbi-umbi an lainnya. Rajin makan ikan yang kaya protein. Seafood juga boleh karena kaya Omega, bagus untuk perkembangan janin"


"Iya dok"


"Suaminya juga harus perhatian. Jangan suka marah-marah. Perempuan hamil moody, mood nya berubah-ubah. Harus lebih sabar ya pak"


"Iya dok"

__ADS_1


"Ini resepnya, seperti biasa. Vitamin dan penguat rahim. Kalau ada keluar flek, langsung ke Rumah Sakit ya"


Aku hanya mengangguk. Sungguh merasa tertekan jika Alang terbebani olehku. Kuremas-remas ujung baju kerjaku. Alang melihat tingkahku, tangannya menggenggam tangaku dengan hangat.


Kami beranjak keluar ruang periksa.


Aku hanya duduk menunggu dan Alang yang mengurus semua.


Kami bergegas ke mobil setelah semua selesai.


"Kita balik ke apartement. Gua gak enak badan"


"Balik ke dokter aja yuk. DiPeriksa"


"Gua mau balik ke apartemen aja."


Akhirnya Alang menuruti kemauanku. Kubuka omongan karena dari tadi kami hanya terdiam.


"Laaang"


"Hemmmm"


"Turunin gua di depan ya"


"Gak. Lu mau kemana?"


"Gak jadi"


Tiba-tiba Alang menepikan mobilnya.


"Lu mau kemana, gua anterin"


"Gua butuh sendiri"


"Ada apa? Cerita sama gua. Jangan lu diem aja" nadanya terdengar sedih. Semakin aku tak tega.


"Jangan terlalu perhatian sama gua. Cuekin aja gua. Anggap gua gak ada" ungkapku dengan derai air mata.


Alang terkejut mendengar ucapanku.


Dia keluar dari mobil. Tapi kucegah.


"Mau kemana?"


"Ngerokok dulu disana"


Tunjuknya pada bangku taman.


Aku melepaskan peganganku. Dia duduk dengan menyilangkan kakinya.


Aku pun menangis, karena apapun yang kulakukan semakin menyusahkannya.


Perutku sangat sakit. Keram perut kembali menyerangku. Pandanganku berkunang-kunang dan tak sadarkan diri.


\=\=\=


"Maaf kan aku Vina ..."


"Cepatlah bangun. Jangan mendiamkanku seperti ini ..."


\=\=\=


Kuingat-ingat apa yang terjadi padaku. "Aaahhhh ... Perutku"


Kupegang perutku.


"Apakah anak ini hilang?"


"Apakah aku sudah sangat kejam?"


Kulihat Alang masuk ... Dan menghampiriku tergesa-gesa.


"Ada yang sakit?"


"Nggak. Aku kenapa?"


"Tadi pingsan di mobil"


"Oooh ..."


"Pulang yuk" bujuk ku ke Alang.


"Dokter bilang belom boleh pulang"


"Laaang"


"Ya ..."


"Apa janin ku pergi?"


"Nggak, dia baik-baik aja. Ibunya yang sakit. Mikirin semua yang gak penting" ujarnya memeluk tubuhku.


Aku membalas pelukannya. Dan menangis terisak-isak.


"Vin, maaf aku sudah lancang. Kukabari abangmu kalo kau di RS. Tapi tidak kukabari soal kehamilanmu"


"Kenapa"


"Kuingin segera menikahimu. Bukan hanya karena kehamilanmu. Pokoknya aku ingin menikahimu"


"Lang, lu bisa dapet perempuan yang lebih dari gua"


"Gua cuma mau sama lu. Dapetin lu udah ada paketnya" sambil mencium ku.


"Alaaang ..."



\=\=\=


Alang melamarku dan menetapkan pernikahan. Jarak satu minggu sudah diutarakan.


Abangku hanya bisa merestui.


Semua adalah keputusanku.


Akupun mengiyakan waktu pelaksanaan.


\=\=\=


Kuhembuskan nafasku, rutinitas kerja kembali kugeluti.

__ADS_1


Seminggu lagi aku menikah ... Menikah dengan sahabatku. Rasanya seperti mimpi.


Kutelpon Alang tuk memastikan hal itu.


"Laaaang"


"Kenapa Vin?"


"Beneran seminggu lagi kita nikah?"


"Ini udah 10 kali lu telpon nanya hal yang sama. Kenapa gak yakin?"


"Bukan gak yakin. Lu kan sohib gua"


"Terus kenapa?"


"Aneh aja"


"Vina... Minggu depan gua nikahin lu. Karna gua sayang sama lu and debay"


Deg ...


Jantungku serasa turun ke perut mendengar ucapannya.


"Udah dulu ya Lang" ku non aktifkan hape. Karna tak ingin menggangunya. Rasanya semua masih mimpi. Tak percaya apa yang terjadi.


.


.


Akhirnya waktunya kupulang. Rutinas yang tidak berubah sekitar delapan bulan ini.


Alang mengantar dan menjemputku dari kantor. Itu perintahnya setelah melamarku.


Dia sudah menungguku di tepi jalan dekat kantor.


Masih terasa aneh, sahabat jadi suami. Kadang aku tertawa pada kondisi itu.


"Makan malam dimana?" tanya Alang padaku.


"Di apartement aja"


"Ok, kita pesan yang drive thru. Sekalian jalan"


"Ok"


Dia membukakan pintu, memasangkan seatbelt.


Kutersenyum saat dia sudah disampingku.


"Hape nya kenapa gak aktif?"


"Owh ..." kuambil dan kunyalakan lagi.


"Biar gak nanya hal tadi terus-terusan" manyunku beralasan.


Dia hanya tertawa ringan tanpa beban denganku.


\=\=\=


Sesampainya di apartemen, aku membersihkan diri dan menyiapkan makan malam di meja dengan menu fast food.


Alangpun kulihat sudah membersihkan diri, menuju ke arahku di meja makan. Dia celingukan mencari sesuatu.


"Cari apa?" tanyaku


"Obat dan susu" segera dia beranjak membuatkan susu untukku. Dan menaruhnya di meja makan. Tak lupa mencium pucuk kepalaku.


"Vin ..." Alang memecah keheningan di meja makan.


Aku menoleh padanya.


"Ada apa?"


"Kita cari ART ya?"


"Kenapa?"


"Biar makanan kamu bergizi. Makanan rumah"


"Terserah"


"Jangan terserah"


"Ya udah, iya"


Setelah merapikan rutinitas di meja makan. Aku pun menyusul Alang ke ruang keluarga sambil menonton tv.


Dia bersandar padaku. Berharap aku yang manja padanya.


Aku tak terbiasa begitu. Aku terbiasa mandiri. Bermanja-manja hal yang aneh bagiku.


"Gimana kerjaan lu?"


"Lancar, berkat do'a orang terkasih"


"Gombal beud"


"Ha ... ha ... ha ..."


"Lang ..."


"Hemmmm ..."


"Gak pa-pa"


"Tuh kan. Omongin aja sih. Jangan bikin penasaran"


"Nanti aja. Gua juga blom siap"


"Vin, gua gak minta jatah koq. Gua paham soal itu"


"Diiiiih, mesum banget lu sama gua. Gua gak kepikiran hal kayak gitu" sungutku padanya.


"Serius?"


"Iya, gak kepikiran"


"Koq gua sedih ya"


"Ha ... ha ... ha ... Najong" sambil kutinggal ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2