
Makasih atas komentar, saran dan kritik.
Jgn lupa bantu author dgn like dan vote nya yaaa. makasih.
Sudah 3 hari Vina menghilang, Alang seperti orang bingung. Hanya terduduk di kamar apartement. Dan memandangi kasur kosong yang biasa Vina tempati.
Alang POV
"Aku merasakanmu disampingku, tapi tak dapat kusentuh. Aku merindukanmu Vinaaaaaa"
"Sebenarnya kau pergi kemanaaaa"
"Aaaaaaa!!" teriak Alang menahan kerinduan yang mendalam.
Iwan menunggui Alang di apartement. Sambil memantau segala kemungkinan. Tapi belum mendapatkan jalan.
Iwan menyesali keteledorannya menjaga Vina berdampak besar pada tuannya.
Alang bahkan terkadang minum alkohol dan kembali merokok.
Iwan tidak bisa melarangnya.
\=\=\=
Sebelum pergi melaut, pak Kesuma sempat memberikan kartu telpon baru dan casan, dia berpikir Vina pasti membutuhkannya.
"Terima kasih pak"
Vina pun mengisi batrenya dan menggunakan nomor baru.
Tak berapa lama, Vina pun menyalakan telponnya. Menghubungkan ke internet dan membuka medsosnya. Teringat rumah, dia menghubungi pak Andi orang kantor pemasaran.
"Selamat siang pak Andi" sapa Vina ke pak Andi.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
"Ini saya Vina Putri, saya mau tanya sertifikat rumah saya apakah sudah bisa saya ambil?" tanyaku
"Udah saya kirim ke alamat ibu di apartement" sahut pak Andi.
"Begitu ya, saya belum cek lagi. Terima kasih pak Andi, selamat siang"
"Iya siang"
Vinapun menutupnya. Dia tak mungkin kembali ke apartement.
Waktu terus bergulir, Vina membantu pak Iwan sekedarnya. Karena pak Kesuma melarang Vina mengerjakan yang berat-berat mengingat Vina sedang berbadan dua.
Pak Kesuma pernah memergoki Vina menangis saat memandang foto di telponnya. "Mungkin dia merindukan suaminya" pikir pak Kesuma karena dia hanya melihat sekilas.
Vina termasuk wanita yang rajin, dia bosan jika hanya berpangku tangan. Kadang membantu pak Kesuma merapikan jala, membersihkan hasil laut, walau tidak bisa memasak.
Vina berdiri ditepi pantai, dan tersenyum memandang guratan awan yang beriringan. Sinar pantulan air yang menyilaukan membuatnya takjub.
Pak Kesuma memanggil Vina untuk makan, hasil tadi membantunya membersihkan ikan laut.
"Neng Vina, kita makan dulu" teriak pak Kesuma.
"Iya paaaakk" sahut Vina yang berjalan kearah pak Kesuma.
Serangan keram perut menghentikan langkahnya, hingga terjatuh diatas pasir bibir pantai. Pak Kesuma yang melihat Vina terjatuh segera berlari.
"Neng, kenapa neng" kekalutan pak Kesuma terdengar jelas dari suaranya.
Pak Kesuma panik dan mengangkat Vina, membawanya ke RS.
Langsung membawanya menuju IGD. Tubuhnya gemetaran takut hal-hal tidak baik terjadi.
"Vina..! Kenapa dia?" tanya dokter Dini yang langsung memeriksa. Kebetulan Dokter Dini sedang melintas dan mengenali Vina, pasiennya.
Pak Kesuma kaget dan ketakutan saat ada yang mengenali Vina. Dia takut ditangkap polisi karena memalsukan data Vina atau kasus penculikan. Pak Kesuma segera pergi. "Setidaknya ada yang mengenalnya. Jaga dirimu baik-baik nak" bisik pak Kesuma dalam hati.
\=\=\=
Alang POV
"Masuk" setelah kudengar suara ketukan pintu.
"Tuan, ada telpon dari tuan Niko" lapor Iwan.
"Katakan padanya aku tidak ada..!"
"........ Kata tuan Niko ini tentang nyonya"
__ADS_1
Aku terkejut, segera ku menghampiri Iwan.
"Berikan padaku"
"Ada apa Niko?" sambil menyalakan loud speaker.
"Kau apakan lagi istrimu..!!" teriak Niko diseberang telpon.
"Apa maksudmu? Dan bukan urusanmu..!" balasku kesal.
"Urusanku jika menyangkut pasien di RS ku..!"
"Hei..! Apa maksudmu?" tanyaku kesal.
"Istrimu sedang dirawat disini, jika kau menyayanginya bawa dia ke psikiater..! Brengsek kau"
Aku memandang Iwan, memastikan pendengaranku tidak salah. Iwan hanya mengangguk padaku.
Kami langsung menuju RS, aku bergegas menuju ruangannya setelah dikabari keberadaan Vina oleh Niko.
Kulitnya terlihat lebih gelap, tapi tak mengurangi pesonanya, bahkan lebih eksotis.
Aku menciuminya, seakan tak percaya dia dihadapanku.
Dengan sesenggukan aku menangis tak menyangka, orang yang ingin kutemui akhirnya kembali.
Iwan memanggilku "Tuan" aku pun menoleh padanya.
"Tuan Niko memanggil tuan".
"Kau tunggu disini, aku akan ke ruangan Niko dulu" aku bergegas.
Ruangan dokter Niko
"Bagaimana pertimbanganmu soal psikiater?" lanjutnya setelah mempersilakan aku masuk.
"Baiklah" aku langsung menjawab, tak ada pilihan lain bagiku. Aku tak ingin dia hilang lagi.
Kulihat Iwan diluar ruangan Vina. Sekembalinya aku dari ruangan Niko.
"Kenapa diluar?" tanyaku
"Nyonya sudah sadar, dan dokter sedang memeriksanya" setelah mendengarnya aku langsung masuk.
Rasanya sakit sekali.
Setelah dokter Dini keluar, aku masuk kembali ke ruangan Vina walau dokter menyuruhku untuk tidak menemuinya dahulu.
Kusuruh Iwan berjaga dipintu.
"Vina..." kulangsung memeluk dan menciuminya. Dia mendorongku dengan keras.
"Pergiiiii... Aku tidak ingin melihatmu lagi, pergi dari hadapanku...!" teriaknya padaku.
"Ada apa Vin, kenapa?"
"Pergiiiii.. Aku tidak ingin melihatmu lagi, pergi dari hadapanku...!" hanya teriakan itu lagi yang dia ucapkan.
Perawat datang setelah menerobos Iwan. Dan Vina diberikan suntikan penenang yang membuatnya terlelap.
Aku terpukul menyaksikan kondisinya. Aku tidak tahu kejadian apa yang dialaminya.
Ku terduduk merenungi keadaan kami.
Dokter Dini datang lagi beserta beberapa perawat, dengan membawa alat pemeriksaan kandungan.
Aku memperhatikan semua yang dikerjakan dokter Dini.
Irama jantung yang terdengar berdetak. Aku begitu takjub, rasa haru menyelimutiku begitu dalam.
"Apa aku hampir melewatkan hal indah dan menakjubkan di dunia ini?" jeritan hatiku dengan sudut mata yang belinang.
"Pak Alang, nasehat saya sebaiknya anda tidak memperlihat diri padanya untuk sesaat" ujarnya padaku.
"Biarkan kami merawat dan bekerja, saya minta anda bisa kerjasama kali ini".
"Bagaimana kondisi bayinya dok?" tanyaku penasaran.
"Usia kandungannya sudah 15 minggu, kondisinya baik dan sehat" dokter Dini seakan tau apa yang ku pikirkan.
"Bersabarlah atau kau akan kehilangan lagi" ucapan dokter Dini kali ini sangat membuatku putus asa.
Aku terduduk sambil menangis.
__ADS_1
"Aku nyaris kehilangan 2 pelita dalam hidupku. Apa jadinya aku tanpa mereka" kuhampiri Vina yang masih tidak sadarkan diri.
Kucium perutnya yang sudah berbentuk, seakan ku mengemis cinta dan kasihan dari keduanya. Akupun pergi dengan rasa patah hati.
\=\=\=
"Tuan" aku menoleh saat Iwan memanggilku.
"Katakan"
"Tuan harus bangkit lagi, berjuang seperti saat tuan terpuruk dulu" aku merenungkan ucapannya.
"Maksudmu?"
"Perhatikan kondisi tuan bagaimana nyonya mau kembali jika tuan lebih lemah dari nyonya" aku terus memikirkan maksud ucapan Iwan.
Kami kembali ke kantor. Aku menatap keluar jendela dengan hamparan gedung yang menjulang didepanku.
Melihat pantulan diriku yang terlihat lusuh. Segera aku mandi di toilet pribadi ruangan ku dan bercukur.
"Kemarilah" perintahku memanggil Iwan. Sambil kembali memandang keluar jendela.
"Cari tau siapa yang membawa Vina ke RS" perintahku.
"Baik tuan" ucap Iwan
Bagiku, siapa yang membawa Vina ke RS memegang kunci permasalahanku.
Kumeminta Niko memasang CCTV diruangan Vina, agar aku bisa melihat dan mengawasinya. Karena Vina tidak ingin aku temui.
Awalnya Niko menolak, tapi ku terus memaksa. Akhirnya disetujui. Dipasanglah CCTV, saat Vina keluar ruangan untuk konsultasi ke psikiater.
\=\=\=
Keesokannya Iwan datang ke kantor untuk melaporkan hasil penyelidikannya.
"Bagaimana?"
"Seorang nelayan yang menemukan nyonya, pingsan di dekat bebatuan dermaga" aku tercekat mendengarnya lalu Iwan menyerahkan tas Vina yang ditemukan di dermaga.
"Lalu?"
"Dia membawa nyonya ke RS. Dyvette, setelah nyonya sadar nyonya ikut dengannya dan tinggal dengannya".
"Data nyonya yang diisi nelayan itu memakai data anaknya, tetapi istri dan anak nelayan itu sudah meninggal" aku menarik nafas dalam, antara kesal dan bersyukur
Iwan pun menyerahkan data di RS yang dia pegang.
Nama : Marina Kesuma
Usia : 24 tahun
Kelahiran : kota Dyvette, 16 Agustus 19**
Ayah : Kesuma Wiharjo
Pekerjaan : nelayan
Ibu : Sri Siti Ningsih
Pekerjaan : IRT
"Nelayan itu membayar biaya nyonya dengan menjual perahunya tuan" aku tersentak mendengarnya
"Nelayan itu juga memperlakukan nyonya dengan baik, seperti anak sendiri"
"Ada lagi?" tanyaku pada Iwan
"Permasalahannya dari pesan yang nyonya terima, saya masih menyelidiki pemilik nomor tersebut" sambil memberikan hp Vina padaku.
"Apa kesimpulanmu?"
"Nyonya pikir anda selingkuh, dan menikah diam-diam" jawab Iwan
Aku tertawa terbahak-bahak
"Karena foto itulah nyonya shock dan terjatuh dari dermaga, itu perkiraan saya" Iwan melanjutkan kalimatnya.
Aku langsung terdiam.
"Beri kompensasi pada nelayan itu, kau tau yang harus kau lakukan. Dan selidiki pemilik nomor itu" perintahku pada Iwan.
"Baik tuan"
__ADS_1
\=\=\=