
"Vitamin dan susu sudah diminum Vin?" tanya Alang sambil memegang perutku.
"Udah, tadi setelah makan langsung minum vitamin dan susu"
"Kita nggak nanya ke dokter Dini jenis kelamin debay?"
"Aku nggak nanya, biar jadi surprise aja"
"Vin, kita belum belanja keperluan debay lahir" aku tersentak mendengar perkataannya.
"Sekitar 2 bulan lagi dia lahir Vin, besok kita belanja keperluan debay Vin" sambil menggangkatku menuju kamar.
"Besok aku mengurus toko, setelah itu baru kita belanja keperluan debay".
Wajahnya terlihat kecewa dengan jawabanku, dia beranjak keluar dari kamar. Mungkin mengadu ke soulmate nya.
Aku memejamkan mata dan ingin melanjutkan tidurku siang tadi.
Tak berapa lama, Alang sudah kembali ke kamar. Masih terlihat kekecewaan di wajahnya.
Mendekapku erat.
"Kenapa lagi?" tanyaku basa-basi.
"Kau ingin aku jujur?"
Aku takut mendengar kejujurannya, seperti yang dia ucapkan ke Indra.
"Tidurlah, aku butuh istirahat" kubalikkan badanku.
"Jangan dipunggungin lagi.." ucapannya membuatku menghadap padanya.
Dekapannya semakin erat, bersamaan dengan hembusan nafasnya.
"Apa kelak kau akan menceraikanku?" sontak aku terkejut mendengarnya.
Kumenghela nafas, "Ada satu yang kusesali saat ini"
"Apa?
"Kenapa kau tidak menandatangani Surat Perjanjian kita"
"Kenapa aku tak mau menandatanganinya?"
"Entah apa alasanmu saat itu, akupun lupa. Hanya kau yang tau"
Kami terdiam satu sama lain, hingga terlelap tidur.
\=\=\=
Hari ini aku sudah di toko, menyiapkan semua seperti biasanya.
Aku memikirkan semua hal yang belakangan ini terjadi. Terlebih ucapan Alang semalam.
Menceraikannya? Bisa kulakukan setelah anak ini lahir. Tegakah aku?
Setelah pengorbanannya.
Dering panggilan masuk menyadarkanku.
"Pak Andi" bisikku, semoga kabar baik.
"Pagi pak Andi" sapa ku langsung.
"Pagi juga bu Vina"
"Ada kabar baik apa nih pak Andi?"
"Hahaha, ibu tau aja kalau kabar baik. Saya sudah dapat pembeli. Bisa nanti ibu datang bawa sertifikatnya? Karena langsung transaksi. Duitnya cash saya pegang".
"Baik pak, saya akan datang. Jam berapa kira-kira pak?"
"Setelah makan siang aja bu"
"Ok, makasih bantuannya pak"
"Sama-sama bu Vina"
Panggilan pun terputus.
.
.
Siangnya...
Aku sudah dikantor pak Andi, dan dia sedang mengambil penyelesaian transaksi penjualan rumahku.
"Maaf agak lama bu" setelah kembali dan duduk didepanku.
"Nggak apa-apa pak, jadi gimana?"
__ADS_1
"Ini berkas persetujuannya, tandatangi beberapa lembar dokumen ini. Dan semua selesai".
"Maaf pak, soal dananya. Tolong lewat transfer aja. Saya takut pegang cash".
"Baiklah bu, dananya malam baru sampai, bagaimana?"
"Nggak apa-apa pak. Makasih"
"Lalu bagaimana dengan ART yang dirumah pak?"
"Akan kami urus, ibu jangan kuatir. Pembeli rumah ibu orang yang baik" jelas pak Andi padaku.
Akhirnya semua berkas selesai. Aku kembali ke rumah. Kupanggil kedua ART ku, aku harus mengabarkan pada keduanya.
Hari ini terakhir aku menginjakkan kaki di rumah, besok sudah bukan aku pemiliknya. Aku juga menjual toko ku.
Mereka sudah duduk didepanku, sofa di toko.
"Bi Mun, bi Sri saya mau bicara. Mohon dengarkan sampai selesai ya"
"Iya yah" sahut keduanya serentak.
"Begini, rumah ini sudah saya jual. Dan hari ini terakhir saya disini. Jadi mulai besok, saya tidak kemari lagi.
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, atas semua sikap dan perkataan saya yang mungkin pernah menyinggung kalian" wajah keduanya terlihat sedih, akupun merasa yang mereka rasakan. Tapi ini sudah jadi pilihanku.
"Dan ini sedikit rasa terima kasih saya atas semua bantuan yang kalian berikan" kuberikan amplop yang sudah kusediakan. Keduanya menitikkan air mata, begitupun diriku. Tangis kami pecah di hari itu.
Kebersamaan yang sesaat, namun terasa begitu dekat.
Aku berhenti menangis, setelah Iwan menjemputku.
"Ada apa Wan?"
"Menjemput nyonya pulang"
"Ku bereskan dulu pakaianku" sambil beranjak pergi ke kamar.
Kedua ART ku menyusul, dan membantuku merapikan pakaian-pakaianku ke dalam tas.
2 jam kemudian, semua pakaianku sudah masuk 2 big treavel bag.
Akupun memeluk mereka.
"Jaga diri kalian baik-baik ya"
"Nyonya juga, jaga diri nyonya. Ada bayi dalam perut nyonya" sambil mengusap perutku.
Kamipun menuju ke garasi tempat Iwan menungguku.
Mungkin ingin memberikan kabar kepada ART ku.
Aku hanya tersenyum saat melewati pak Andi. Iwan sudah membawakan tas ku menuju mobil.
Mobilpun melaju, menuju kantor Alang. Menjemputnya pulang.
"Apa tuan Alang tau anda menjual rumah?" tanya Iwan penasaran.
Memecah keheningan dalam perjalanan.
"Tidak, dia tidak tau".
Suasana hening kembali.
Sesampainya di gedung kantor.
"Aku menunggu dimobil saja Wan" kataku singkat.
"Baik nyonya" Iwan pun bergegas menuju kantor Alang.
Tak berapa lama panggilan telpon dari Alang mengagetkanku.
"Hallo Lang"
"Kenapa nggak ikut Iwan ke kantorku?"
"Aku sedang malas jalan"
"Aku masih ada kerjaan, kemarilah. Kusuruh Iwan menjemputmu"
"Tidak usah, aku pulang duluan ke apartement saja"
"Vin..! Jangan bantah saya kali ini" nada suaranya emosi, "Apakah Iwan menceritakan sesuatu?" tebak ku.
Tanpa kusadari, air mataku menggenang.
Iwan sudah membukakan pintu untukku, dia terlihat terkejut aku sedang menangis.
Aku membuang muka agar dia tidak melihatnya.
"Aku ke toilet dulu Wan" ujarku.
__ADS_1
Kubersihkan wajahku dan menata sedikit make up. Biar terlihat segar.
Kulihat Iwan menungguku didepan pintu setelah aku keluar dari toilet.
Sesampainya aku didepan pintu ruangannya, aku ragu untuk masuk.
Aku takut pada kemarahannya.
"Nyonya...?" panggilan Iwan menyadarkanku.
Akupun segera melangkah.
Kulihat dia masih sibuk dengan komputernya.
"Sebaiknya kutunggu di sofa" pikirku.
Ku melangkah ke sofa, duduk dan mengambil koran yang tergeletak diatas meja.
Alang yang melihatku duduk di sofa menghampiriku, "tunggu sebentar disini ya, aku ada sedikit urusan lagi" dan mencium pucuk kepalaku.
Setelah dia keluar ruangan, aku bersandar ke sofa.
Tubuhku sudah terasa lelah sejak tadi. Hingga ku tertidur.
Kudengar pintu yang terbuka. Kutebak kalau yang masuk Alang.
"Nyonya..." panggil Iwan
"Ada apa Wan?" sambil ku merapikan posisi dudukku.
"Kita pulang, tuan masih lama di kantor" lapor Iwan padaku.
Aku segera bangun dan berjalan menuju lift. Kulewati ruangan tempat dia rapat.
Aku tak menoleh sedikitpun, walau dari ujung mataku kulihat dia mengikuti langkahku sampai ke lift.
Sesampainya di apartement saat Iwan akan merapikan tas yang kubawa,
"Tinggalkan saja, aku mau tidur"
Iwanpun bergegas keluar.
Kubaringkan tubuhku dan tidur kembali.
Kuterbangun saat merasakan lapar menyerangku.
"Sudah pukul 9 malam?" aku menuju meja makan, dan mengambil roti sebagai pengganjal perutku.
"Alang belum pulang, tak ada kabar" bisikku dihati.
Kukembali ke kamar, memeriksa hape ku. "Sudahlah..." sambil meletakkan hape ku, dan tidur kembali.
\=\=\=
Saat ku terbangun kulihat tidak ada Alang disampingku.
"Apa dia tidak pulang?"
Kupergi untuk membersihkan diriku.
Kucuran shower menyegarkan badanku yang kemarin terasa sangat berat.
.
.
Menjelang siang Alang baru pulang diikuti Iwan, asistentnya.
Alang hanya melihatku yang sedang makan siang, lalu bergegas ke kamar.
Begitu ku selesai makan, kulihat Alang keluar kamar sambil membawa laptopnya.
Kini aku yang masuk ke kamar.
Aku menghindari perdebatan dengannya.
Kubersandar pada ranjang sambil memeriksa hapeku.
Tiba-tiba Alang sudah berdiri disampingku.
"Kau marah padaku Vin?" tanya nya.
"Aku tidak marah"
"Kenapa kau mengacuhkan aku"
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu" jawabku halus, untuk tidak memancing emosinya.
Kami saling memandang menahan emosi ego kami.
"Aku tidak suka diacuhkan..!" katanya tegas. Lalu berlalu.
__ADS_1
\=\=\=
author ngebut.