
Setibanya di rumah ...
Kumenangis meraung di kamarku. Mengeluarkan jeritanku. Begitu banyak kelebatan dalam pikiranku tuk mengakhiri hidupku.
"Tuhan ... Panggil aku menghadapmu. Aku siap kau panggil sekarang".
Sambil kupukul-pukul dadaku yang terasa sesak. Aku tak tau sebabnya, tapi terasa sesak.
Aku tertidur dalam kelelahan, kuharapkan tuk selamanya tak terbangun. Atau lupa ingatan. Entahlah, kuhanya ingin melupakan semuanya. \=\=\=
Akupun terbangun dengan mata yang bengkak. Kupandangi diriku di cermin toilet. Tak ada lagi gairah hidup.
"Kuharus bagaimana" kalimat itu yang selalu terulang dipikiranku.
Kubasuh diriku sambil berpikir banyak hal. "Lupakan semua, anggap tak terjadi. Besok adalah besok. Apapun yang terjadi hadapi" itu sugesti pada diriku.
"Kuharus tetap menjalani hidupku. Tak perlu mengeluh".
Terngiang suara lagu dari band P**i, berjudul Hitam.
*Oh jiwaku
Di manakah aku kini
Kau bawa aku melintasi
Tempat yang tinggi
Oh tubuhku
Mengapakah engkau ini masih membisu
Tak kunjung bicara padaku
Oh ceritakanlah padaku
Apa yang mengeruhkan hati dan jiwaku
Tolonglah kau tuntunkan aku lagi
Agar ragaku menyatu bersama isi jiwaku*
Aku kembali terisak menangis pilu, memaknainya dalam pedihku yang dalam.
Kuambil hp ... Membaca pesan aplikasi yang terpasang. Hanya tuk mencari hiburan dengan candaan dalam group. Tapi semua hambar. Sosmed pun kubuka ... Seakan tak bermakna.
Kruuuuk ... Perutku sudah perih. Kulihat sudah jam 9 malam. Kupesan dari aplikasi delivery order. Akan sampai 30 menit. \=\=\=
"Hari ini kuharus berangkat ke kantor dengan biasa. Tak ada yang terjadi. Sembunyikan trauma". itu yang ada dipikiranku.
Menginjakkan kaki dikantor ini terasa menakutkan. Kuhembuskan nafas dengan panjang. Kembali berkutat dengan segala rutinitas.
"Vina ..." sekretaris atasanku memanggilku.
"Ada apa Hen?" tanyaku
"Di panggil pak Indra ke ruangannya".
"Iya" sambil kubangkit berdiri.
"******** itu mau apa lagi. Dia pikir gua takut" gerutuku sambil berjalan di belakang Heni.
"Langsung masuk aja Vin".
Kumelangkah memasuki ruangannya, tanpa mengetuk pintu.
Aku sudah tak peduli soal etika masuk ruangan atasan.
"Bapak panggil saya?"
"Duduk" perintahnya padaku.
Kami duduk bersebrangan, aku tak memperlihatkan reaksi apapun. Seakan tak ada yang terjadi.
"Ada apa ya pak?"
"Jam makan siang, kamu ikut dengan saya. Ada yang harus dikerjakan".
"Baik pak."
"Ok, silakan kembali ke mejamu".
Akupun melangkah keluar ruangannya.
__ADS_1
"Takkan kuperlihatkan sikap wanita lemah, lu salah ketemu orang. Gak akan gua tunduk sama ******** macam lu" hanya itu umpatan yang kuucapkan dalam hatiku. \=\=\=
Aku dan dia sudah berada ditempat makan siang. Kupaksakan nafsu makanku, makan dengan begitu lahap.
Tak berapa lama seseorang datang ke meja kami. Kemudian kutau, kalau dia adalah lawyer.
Kupandangi atasanku dengan pandangan bertanya.
"Selamat siang, saya Gunawan. Lawyer tuan Indra" sambil mengulurkan tangannya.
"Siang, saya Vina" dengan menjabat tangannya.
"Akan saya mulai. Saya mewakili client saya pak Indra. Beliau sudah menceritakan hal-hal yang secara hukum adalah pelanggaran. Dan dikenai pasal. Kami ingin mengajukan perdamaian" ucapnya sambil melihatku.
"Kami paham kerugian yang anda alami tidak bisa dinilai dari nominal atau apapun" lanjutnya.
Aku mendengus seketika. Mengejutkan keduanya.
Bagiku saat ini dia bukan atasanku, tapi musuhku.
"Silakan Lanjukan" ucapku singkat
"Rasanya anda paham kemana arah pembicaraan kita. Saya langsung saja".
Sambil menyerahkan surat perjanjian kesepakatan damai.
Kubaca dengan teliti pasal-pasal yang tertuang.
"Boleh saya bawa untuk saya pelajari? Boleh saya revisi jika saya tidak berkenan?" tanyaku ke lawyer didepanku.
"Silakan bawa. Jika sudah siap, saya akan urus legalitasnya".
"Baiklah. Pembicaraan ini sudah selesai. Saya permisi kembali kerja".
Akupun beranjak dari tempat duduk, diikuti bossku yang akan mengantar ke kantor dengan mobilnya. Kami pun meluncur kembali.
Indra memecah keheningan dengan mengajak bicara. Sedari tadi kuhanya memandangi jalan dibalik kaca mobil.
"Kau sudah membaca surat itu?"
"Ya, sekilas".
"Aku ..."
Kumemotong omongannya, aku tidak ingin mendengar alasan apapun.
Kamipun hanya terdiam sampai tiba dikantor.
Kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa.
Haripun berlalu begitu cepat. Jam pulang sudah tiba.
Kulangkahkan kaki pulang. Dengan membawa surat perjanjian tadi.
.
.
Setibanya dirumah, kubergegas mandi, ngambil pakaian di laundry dan beli makan malam.
Kupelajari apa yang tertera di surat perjanjian itu.
Ada yang perlu kutambahkan. Dan kukurangi.
Kupikirkan lagi semua isi pasalnya.
"Kuhanya ingin menjauh dari ******** itu" geramku.
Kutelpon nomor yang tertera di blanko surat perjanjian itu.
"Hallo ..." suara dari seberang telpon.
"Hallo. Saya Vina, suratnya besok tolong diurus. Sudah saya cantumkan apa yang saya tambahkan".
"Baiklah, besok saya ambil di kantor anda".
"Silakan. Selamat malam".
Tanpa menunggu jawaban, kututup telpon.
Kurapihkan semua dokumen tersebut. Kemudian kulanjutkan makan malamku. \=\=\=
Satu minggu sudah berlalu, dari penyerahan perubahan dokumen perjanjian damai. Waktunya penandatangan kesepakatan Surat Perjanjian Damai tiba. Lawyer telah berkonsultasi pada Indra atas penambahanyang kucantumkan pada pasal 4.
__ADS_1
Kami bertemu di kantor Lawyer. Sengaja aku datang terlambat 10 menit. Setelah berbasa basi sebentar, akupun bicara.
"Boleh saya bertanya?"
"Silakan ..."
"Kapan surat ini legalisirnya selesai? Dan kapan mutasi saya?"
Keduanya saling berpandangan.
"Surat perjanjian ini akan kami kirim lewat kurir, sekitar seminggu dan soal mutasi, itu wewenang client saya".
Akupun mengalihkan pandanganku ke Indra. Dia tampak gugup memberikan jawaban pasti.
"Satu bulan paling lama" ujarnya singkat.
Aku kembali menatap lawyernya, untuk menegaskan bahwa dia jadi saksi atas ucapan client nya.
Kamipun menandatangani surat perjanjian rangkap tiga tersebut.
Begini bunyi pasal-pasal dokumen tersebut :
SURAT PERJANJIAN DAMAI
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Indra Saputra
Pekerjaan : Direktur Utama PT. Sakti Motor Kencana Indonesia
Alamat : - -
Selanjutnya disebut PIHAK I,
Mengadakan kesepakatan dengan :
Nama : Vina Putri
Pekerjaan : Administrasi Penjualan PT. Sakti Motor Kencana Indonesia
Alamat : - -
Selanjutnya disebut PIHAK II,
Dalam rangka menyelesaikan masalah antara Indra Saputra sebagai PIHAK I sepakat dengan Vina Putri sebagai PIHAK II untuk menyelesaikan dengan cara kekeluargaan dimana kedua belah pihak mengadakan kesepakatan yaitu :
Pasal 1
Dalam melakukan perjanjian damai ini, kedua belah pihak tidak ada yang merasa ditekan oleh pihak manapun.
Pasal 2
Pihak I bersedia membayar ganti rugi sejumlah Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) kepada Pihak II.
Pasal 3
Pihak II sepakat untuk tidak membawa masalah ini ke jalur hukum.
Pasal 4
Pihak I memutasi pihak II ke kantor cabang.
Pasal 5
Pihak I berhak menuntut pihak II bila dikemudian hari pihak II melanggar kesepakatan.
Pasal 6
Perjanjian ini berlaku sejak ditanda tangani oleh kedua belah pihak, yang artinya sudah tidak ada masalah apapun dan tidak akan ada tuntutan apapun dikemudian hari, baik dari pihak I kepada pihak II ataupun sebaliknya.
Demikian perjanjian ini dibuat atas kesadaran dari kedua belah pihak, semoga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Xxxxx, Desember 20xx
Pihak I Pihak II
Indra Saputra Vina Putri
Kami pun saling berjabat tangan tanda perdamaian. Aku langsung pergi meninggalkan kantor lawyer tersebut. \=\=\=
makasih atas komentarnya, kritik dan saran.
😊 amatiran yang menyalurkan hobi
__ADS_1