Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.18 Lembaran Baru Lagi


__ADS_3

Makasih buat jejak komen yang ditinggalkan.


Makasih juga atas dukungan like dan vote nya. Mwaaah 😘😘


Flash back


Aku kembali berada dirumah sakit, setelah pingsan karena keram diperutku. Pak Kesuma yang mengantarkan aku ke RS.


"Bagaimana mungkin pak Kesuma sanggup membayar kamar VVIP?" gumamku.


Dokter Dini datang memeriksa kondisiku. Tidak terasa, usia janinku sudah 15 minggu. Bagusnya dia tidak rewel. Semua kurasakan biasa saja. Hanya aku jadi mudah lelah.


Saat Alang masuk ruanganku, entah kenapa hatiku sangat marah dan kecewa. Aku mengusir dan berteriak padanya. Aku tak ingin melihatnya lagi.


"Ternyata Alang yang mengirimku ke ruang VVIP, tapi bagaimana dia menemukanku" pikirku.


Aku terlelap tak sadarkan diri setelah perawat menyuntikkan obat pada selang infusku.


Sejak saat itu aku tidak melihat Alang datang lagi. Mungkin dia telah bahagia dengan wanita pilihannya.


Aku tidak berhak menuntutnya untukku, Alang hadir karena membantu masalahku. Aku akan mencari kebahagiaanku dan anakku, demikian juga Alang berbahagia dengan keluarga barunya.


Aku harus bertahan dengan kondisiku sekarang.


"Dompetku?" aku tak pernah melihatnya sejak saat itu. "Aku harus mencarinya, pasti tertinggal di dermaga" perkiraan hatiku.


Flash back off


\=\=\=


Aku dijadwalkan berkonsultasi dengan psikiater. Mungkin karena kehamilanku karena pelec*han yang dilakukan seseorang padaku, membuat aku punya beban trauma tersendiri.


Aku merasa tidak pantas untuk siapapun, aku merasa hina dan jijik pada diriku.


Kuceritakan semua pada psikiater ku. Dia hanya mendengarkan dan sesekali mencatat.


Kadang bertanya hal apa yang ku suka dan tidak ku suka pada diriku.


Kujelaskan, aku ingin memiliki rumah dengan taman asri yang luas. Mengisi dan mengaturnya dengan seleraku, dibagian lain rumah aku ingin mengisi kegiatanku dengan berjualan pakaian.


Merawat dan membesarkan anakku.


\=\=\=


Alang POV


Dokter Dini melaporkan kondisi psikologi Vina padaku. Aku menyesali pemikiran Vina yang seperti itu, tapi tak bisa kusalahkan.


Setelah ku kembali dari RS, aku memanggil Iwan ke kantorku.


"Serahkan semua milik Vina, sertifikat rumah dan tas Vina dan hp nya" kataku singkat. Iwan terkejut mendengarnya.


"Berikan saja padanya"


"Tapi tuan"


"Tidak sedikitpun dia memikirkanku, bagaimana perasaanku. Yang ada cuma memikirkan dirinya sendiri" jelasku.


"Soal foto, apa tuan tidak ingin menjelaskan?"


"Bagaimana aku bisa menjelaskan? Bertemu denganku saja dia tidak mau".


"Baik tuan, akan saya kerjakan" Iwan pun berlalu pergi.

__ADS_1


Aku hanya menghela nafas panjang. Ku tak ingin mengekangnya, aku akan tetap menjaganya walau dia tidak menginginkanku.


Vina akan keluar RS lusa hari. Aku tak diperbolehkan menemuinya apalagi menjemputnya. "Jaga mama mu ya Debay, jangan rewel" bisik hatiku.


\=\=\=


Pak Iwan mengunjungiku dan menyerahkan semua barang-barangku. Aku tertegun melihatnya.


"Kenapa anda berikan ke saya?" sambil kubuka isinya.


"Tuan menyuruh saya memberikannya"


"Tuan?"


"Tuan Alang, atasan saya"


"Kenapa dia memberikannya?"


"Karena dia ingin nyonya bahagia"


"Begitukah? Katakan padanya, aku juga ingin dia bahagia. Dan selamat menempuh hidup baru..!" ketusku sinis.


"Nyonya sudah salah duga. Tuan menyayangi nyonya lebih dari yang nyonya pikirkan. Nyonya tidak tau, bagaimana kondisi tuan saat nyonya hilang" aku hanya mengacuhkan omongannya.


"Saya tau anda membela atasan anda, jadi katakan padanya terima kasih banyak atas semua pengorbanannya pada saya"


"Saya permisi nyonya" katanya pamit dan berlalu pergi.


\=\=\=


Hari ini aku keluar RS, hal pertama yang kupikirkan adalah ke rumah pak Kesuma dan mengucapkan terima kasih.


Sesampainya aku di rumah pak Kesuma begitu banyak perubahan.


Pak Kesuma mengajakku masuk dan bertanya bagaimana keadaanku serta berterima kasih atas semua yang diberikan. Aku heran atas ucapannya.


"Saya berikan apa ke bapak?" tanyaku heran. Pak Kesuma pun menjelaskan apa saja yang terjadi. Aku terperangah.


"Apakah Alang yang memberikan semua? Kenapa?" gumamku.


Setelah bicara panjang lebar, akupun pamit. Karena masih ada urusan.


Tujuanku berikutnya adalah rumahku. Aku menatapnya dengan perasaan bahagia dan sedih. Ku teringat pertama kali kemari dengan Alang. Sekelebatan bayangan saat kami disini terlintas dalam kepalaku.


Kulangkahkan kaki memasuki area rumah. Sesaat mengingat saat dulu bersamanya.


Aku terkejut saat mendengar bunyi bell, ku berjalan keluar dan mempersilakan masuk orang-orang yang membawa pesananku. Ranjang baru. Biar aku bisa tidur disini mulai malam ini. Aku tak ingin kembali ke apartement lagi.


Ranjangnya belum kupasang, hanya kasur yang ku minta diletakkan di ruang tengah.


Aku akan mengaturnya lagi besok, karena begitu banyak yang ingin kurapihkan dan ku isi.


Setelah makan malam dan minum obat, aku tertidur lelap karena lelah yang kurasakan seharian ini.


\=\=\=


Alang POV


Aku memasuki ruangan yang masih kosong. Memperhatikan Vina yang sedang tertidur di ruang tengah rumah barunya.


Aku selalu mengawasi Vina, kemana dan apa yang dia lakukan, aku tidak bisa kehilangan dia lagi.


Rasanya kuingin memeluknya. Aku begitu merindukan canda dan manjanya padaku.

__ADS_1


"Apa dia tidak merasa dingin?" ku lihat selimut yang masih rapih terlipat.


Kuambil dan menyelimutinya.


Mencium dan meraba keningnya.


Kuingin membelai perutnya tapi kutakut dia akan terbangun.


"Kau menyiksaku dengan sikapmu Vin"


Vina sudah tidak lagi terbangun pukul 2 pagi, sejak konsultasi dengan psikiater, entah karena obatnya atau di pukul 2 pagi itu dia mengalami trauma.


Sebelum dia terbangun, aku sudah diam-diam keluar.


\=\=\=


Aku terbangun dengan semangat, hari ini aku akan mewujudkan impianku.


Kuambil kertas, dan mencatat apa yang akan kubeli.


Pertama pasti untuk usahaku, pergerakan keuangan ku disana, aku sudah tidak bekerja lagi.


Untuk sementara, aku akan menggunakan garasi sebagai tempatku usaha, karena aku tidak ingin mengorbankan taman menjadi bagunan.


Dan mencatat apa yang aku butuhkan lainnya.


"Rasanya, aku harus belajar masak" keluhku pada kekuranganku.


Ku telah rapi dan siap berangkat.


Membeli perabotan dapur, alat kebersihan, mesin cuci, dan ke toko grosir.


Kupandangi lagi ruangan yang masih terlihat kosong. Rasanya ada yang aneh.


"Apa semalam aku memakai selimut? Rasanya aku lupa karena aku tertidur begitu saja. Mungkin aku tidak sadar, akupun tidak sadar terbangun atau tidak untuk minum".


Dengan sumringah, aku berjalan keluar. Pergi ke super market lebih dulu karena bisa diantar.


\=\=\=


Akhirnya semua belanjaanku sudah sampai, aku tinggal mengaturnya.


Kubersihkan bagian dapur dan menyusun perabotan dapur.


Piring, mangkok, sendok, gelas, panci and the gank dan semua yang ringan. Kulkas sudah diletakkan oleh pengantar, tak mungkin aku yang menggesernya.


"Masak apa? Bagaimana caranya? hiks... hiks" sambil buka browser.


"Masak telor aja"


\=\=\=


Setelah makan siang, kumulai merapikan belanjaan pakaianku.


Garasi kususun dengan rak besi, dan stok baranh didalam kotak kitchen set garasi. Daftar harga telah kucantumkan.


Tak terasa waktu sudah sore, besok kulanjutkan lagi. Aku sudah merasa lelah dan mengantuk. Kupegang perutku yang mulai terlihat menonjol. Rasanya lucu.


Kumasuk tuk membersihkan diriku, lalu masak telur lagi sebagai makan malam, karena hanya itu yang aku bisa.


\=\=\=


Makasih buat semua yang udah sabar membaca karya saya. Terima kasih juga atas semua saran dan kritiknya.

__ADS_1


__ADS_2