
Alang POV
Selesai sarapan aku menghampiri Iwan yang sedang asik dengan laptopnya. Iwan hanya melirikku, dan kembali mengalihkan pandangannya pada layar laptop.
Alang: "Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan?"
Iwan: "Hanya memantau hasil kerja kantor tuan."
Alang: "Iya aku tau. Tapi apa aku mengharuskanmu mengerjakan itu? Libur lah sekali-sekali"
Iwan: "Tuan mau berlibur kemana?"
Alang: "Nggak sama gua, libur sendiri".
Iwan: "Kalau begitu tidak usah."
Alang: "Kenapa? Kau kuatir jika kau pergi, aku dengan Tara?" sambil terkekeh geli.
Melihat Iwan aku jadi teringat pesan ku untuk Vina.
Ku ambil lihat hape ku, memeriksa jawaban Vina di medsos.
"Cih... Hanya di baca? Tanpa dibalas"
✉ :"Lagi sibuk atau sombong, kok cuma dibaca? Bales apaan kek"
Alang: "Wan, nundukin cewe gimana sih, nih satu susah banget dirayu"
Iwan: "Maksud tuan? Siapa?"
Alang: "Sohib gua, Vina" sambil ku lirik Iwan untuk melihat reaksinya.
Iwan terkejut mendengar perkataanku.
✉ :"Kalo gua punya salah maap-in dong. Lu maki-maki gua dah, rela" Sambil ku tertawa.
Alang: "Cuma dibaca doang Wan. Kebangetan. Nih lu baca deh, kurang baek apa gua?"
Iwan langsung mengambil hape ku.
Masuk dalam perangkapku.
Jadi memang ada hubungannya dengan Vina..!!
Iwan: "Apa maksud tuan, nundukin Vina?" sambil menatap tajam padaku.
Alang: "Iya, Vina ini"
Iwan: "Kenapa nundukin?"
Alang: "Yaelaah Wan, namanya juga gua naksir".
Iwan: " Tara?"
Alang: "Kenapa jadi bahas Tara?"
Iwan: "Antara Vina dan Tara siapa yang tuan pilih?"
Alang: "Lu naksir Tara? Lu cemburu gua sama Tara? Jujur aja, gua nggak bakalan marah"
Iwan masih memandangku, seakan menuntut jawaban. Mana bisa milih antara Vina dan Tara. Keduanya beda banget.
Vina orang nya cuek, Tara manja, agresif.
Alang: "Yang lagi gua jalanin kan sama Tara. Vina kan cuma andai. Jadi gak usah serius Wan" sambil ku tepuk bahunya.
Iwan terlihat kecewa. Jadi sebenarnya ada apa? Dengan Tara dia tidak suka, dengan Vina juga tidak.
Atau dia... Kenapa sekarang jadi ngurusin kehidupan pribadi gua.
Dimana Iwan ketemu Vina? Kapan?
Siaaalllll kenapa nggak ada yang nyambung.
\=\=\=
Vina POV
"Terima kasih banyak bu, sering-sering mampir ya..."
"Pelanggan pertama, moga manjang"
Aku butuh promosi, so... Pegawai baru ku manis, bisa kujadikan model daganganku. Aku sudah tidak bisa jd modelnya lagi. Terlalu gendut.
Ku buka-buka lagi toko online ku yang lama. Ku harus update karena toko aktif kembali.
"Ada pesan?" bisikku heran.
__ADS_1
✉ : "Vina, ini gua Alang apa kabar lu? Sombong amat sama gua nggak mau kasih kabar"
"Apaan sih nih orang..!" gerutuku.
.
✉ :"Lagi sibuk atau sombong, kok cuma dibaca? Bales apaan kek"
✉ :"Kalo gua punya salah maap-in dong. Lu maki-maki gua dah, rela"
Sambil ku tertawa.
.
☑ Delete All
\=\=\=
Dua minggu kemudian....
Laila: "Vin, gua balik dulu. Kerjaan gua di kantor lagi turun banyak".
Vina: "Gua baru nyampe, kok lu udah balik?"
Laila: "Lu dateng telat. Ngurusin toko nggak ada kelarnya. Baby lu juga butub refreshing".
Vina: "Gua ikut balik, bete gua kalo nggak ada lu"
Laila: "Gua juga maunya nggak balik klo nggak urusan kerjaan. Dah gua balik dulu. Enjoyed".
Vina: "Hati-hati di jalan lu ya"
Laila: "Iya..."
Laila lebih dulu pulang, karena pekerjaan yang mendadak harus dikerjakan. Sedangkan aku baru dateng. Karena banyak pesanan di toko.
Akhirnya... Ku melihat laut lagi. Sudah hampir 1 bulan ku tinggal di Santania. Berdiri di dermaga ini, rasanya membayar lelah pekerjaan.
Aku begitu menikmati pemandangan laut. Hingga lupa waktu, dan Rio menyuruhku makan.
Rio, teman sekaligus pelanggan toko ku.
Sehabis makan, akupun kembali ke kamar. Untuk istirahat.
\=\=\=
"Aku akan ke pantai dulu" sambil menunjuk dermaga buatan. Rio hanya mengangguk.
Angin laut yang kencang menerpa tubuhku, mengacak-acak rambutku.
Aku kurang puas berada disini, suasananya kurang sepi. Kulihat beberapa tamu cottage yang berenang sambil bercanda riang. Saling lempar bola.
Kembali ku telusuri pantai, meninggalkan jejak dipasir dan hilang dibasuh ombak.
Akhirnya ku sampai dikarang buatan. Sedikit sakit menginjakkan kaki disini. Teriakan Rio mengejutkanku.
"Ada apa?"
"Bantu saya melayani pengunjung"
"Ok" akupun mengikuti Rio kembali ke lokasi bazaar.
.
.
Menjelang sore semua stand bazaar sudah mulai ditutup. Ku kembali ke kamar dan membersihkan diriku.
"Hallo Laila" aku menyapa Laila di telfon.
"Gimana Vin? Seru?"
"Iya, pengunjungnya rame banget"
"Jangan kecapean lu ya, bentar lagi anak lu lahir" ku usap perutku.
"Iya, makasih udah ingetin"
"Ya udah, nikmatin lagi acaranya, gw baru mau balik ngantor"
"Ok, take care dear"
"Thanks"
.
.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, aku pun menemani Rio yang sedang berkutat dengan laporan acara hari ini.
"Vin, bisa ambilkan map hijau di mobil? Aku lupa membawanya."
"Sini kunci mobilnya"
"Maaf ya"
"Nggak apa-apa"
Aku pergi ke parkiran, mengambil map yang dimaksud.
.
.
"Map hijau dimana kau..." kucari-cari di jok belakang mobil.
"Berapa client yang kita temui Wan?"
"Ada 2 client tuan"
"Kau atur jadwalku, aku ingin berkeliling melihat-lihat dulu"
Aku mengenali kedua suara ini, segera ku bersembunyi di dalam mobil. Jantungku bergedup kencang.
"Aku harus pulang malam ini" pikirku cepat.
Kulihat sekitar parkiran dari dalam mobil, kurasa keadaan sudah aman.
Akupun keluar dari dalam mobil, sambil melihat-lihat keadaan.
Baru beberapa langkah, kulihat Iwan menuju kearahku, "Apakah dia melihatku" aku langsung bersembunyi di belakang mobil yang terparkir. Memperhatikan Iwan yang kembali ke mobilnya.
Aku mengendap-endap diantara jejeran mobil, menjauh dari tempat Iwan berdiri. "Siallll..." map ku terjatuh.
Aku langsung berjongkok. Mengambil map sekalian bersembunyi.
"Apa yang kau lakukan?" bisik seseorang padaku. Dengan refleks aku membungkam mulutnya, "ssstttt..." sambil menaruh telunjuk di bibirku.
Kami pun terdiam beberapa saat.
"Sepertinya dia sudah pergi" bisiknya padaku setelah melepaskan peganganku di mulutnya.
"Kau yakin?" tanyaku berbisik.
Dia pun berdiri untuk melihatnya.
"Ya, aku sudah tidak melihatnya lagi"
Bisiknya menolehku yang masih berjongkok.
Aku pun berdiri dan melihat-lihat lagi. Ku telusuri parkiran yang sudah mulai diterangi lampu malam.
"Apa dia suamimu? bisiknya bertanya. Aku tak mengindahkan pertanyaannya.
Kurasa sudah aman, Iwan tidak terlihat.
"Terima kasih, aku harus kembali" bisikku sambil berbalik padanya.
"Alang..." pekik ku dalam hati.
Aku pun melangkah dan tangannya menarik tanganku, menahan tubuhku diantara tangannya.
\=\=\=
Sesampainya di cottage Rio, aku menyerahkan map dan pamit mengatakan harus pulang.
"Ada apa buru-buru?"
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin pulang"
"Kuantar"
Kami keluar dari cottage Rio dan menuju cottage ku. Mengemas semua pakaianku.
Akupun berjalan menuju parkiran kawasan cottage.
Kuberjalan bersama Rio sambil memegang tangannya.
"Kau tidak apa-apa?" cemas Rio padaku.
"Iya aku tidak apa-apa... Bersandiwaralah, seakan kita pasangan suami-istri" bisikku di telinga Rio.
Aku kuatir bertemu mereka.
\=\=\=
__ADS_1