Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.9 Aku Depresi_2


__ADS_3

Ku berbaring dan memikirkan ucapannya.


"Kenapa gua gak ada rasa pengen dimanja sama dia. Diperlakukan romantis" tanyaku pada diriku sendiri.


Kami bersama karena kesalahanku. Andai keadaanku tidak berbadan dua, mungkin kami tidak mengalami hal ini. Dia terjebak pada masalahku.


Akupun terlelap dalam pikiranku sendiri. Rutinitasku yang lain. Setiap pukul 2 merasa haus. Alang menyiapkan mug dan gelas di meja samping ranjangku. Biar aku tidak mondar mandir.


Kutarik kembali selimutku, melanjutkan mimpi indah yang kualami.


\=\=\=


Dikantor...


Lusa adalah hari pernikahanku. Tak terasa aku akan jadi seorang istri. Memikirkan hal itu membuatku berdebar-debar.


Dering suara panggilan telpon mengejutkanku.


"Ada apa?" tanyaku


"Bisa kita ketemu?"


Kupikir Alang yang menghubungiku.


Aku terkejut, Indra yang menelponku.


Kupastikan lagi nama yang tertera di kontak ku.


"Maaf, saya sibuk pak"


"Saya harus bicara. Ini hal penting. Saya mohon"


"Tapi saya tidak bisa pak"


"Apa kamu mau aku menemui calon suami mu"


Deg ...


"Dia tidak ada hubungannya denganmu!" bentak ku.


"Kita bertemu di parkiran pantai Dyvette jam 7 malam. Kutunggu"


Indra langsung memutuskan panggilannya.


Apalagi yang ingin dibahas. Aku tidak pernah mengusik hidupnya.


Ku langsung menelpon Alang.


"Laaaang"


"Ya. Kenapa Vin?"


"Nanti gak usah jemput. Saya ada urusan lain"


"Saya antar ya? Vin ..." Alang masih maksa tuk mengantar.


"Gak usah. Saya bisa sendiri"


"Ya sudah. Kamu hati-hati ya" akhirnya dia mengalah.


"Iya ..."


Kumatikan hape ku, kulihat jam di tanganku "Masih setengah jam lagi waktu bekerja" bisikku.


"Apa yang mau dia bahas? Dia tau pernikahanku? Orang kantor saja tak ada yang kukabari"


\=\=\=


Ku telah sampai ditempat tujuan. Namun belum kulihat sosok Indra disini.


Aku merindukan suara deburan ombak, udara laut, angin yang menerpa diriku. Seakan menggambarkan keberadaanku di semesta ini.


"Vina..."


Panggilan Indra mengejutkanku. Kuhanya menoleh padanya. Dan menatapnya tajam.


"Batalkan pernikahanmu Vin" ucap Indra padaku.


"Tak ada hubungannya dengan mu"


"Tentu ada hubungannya"

__ADS_1


"Apa kau lupa dengan Surat Perjanjian Damai yang kau buat, haaah?"


"Itu kesalahanku Vin"


"Sudahlah, aku sudah menyetujui semua. Tidak ada yang ku rugikan. Jadi... Biarkan aku melanjutkan hidupku"


Aku segera berlalu.


Indra menarik tanganku dan cengkramannya menyakiti pergelanganku.


"Lepaskaaaaann" kutepis dengan kuat hingga terlepas.


"Batalkan pernikahanmu, dan menikah denganku. Aku Ayah dari anakmu!"


Deg ...


"Bukan urusanmu!!" pekik ku


"Aku sangat membenci, muak melihatmu. Jangan pernah memperlihakan dirimu dihadapanku lagi!"


Indra langsung memelukku.



"Menikahlah denganku, kau ibu dari anakku, jangan pisahkan kami"


Aku mendorongnya sekuat tenagaku, dan berlari sekencang yang kubisa, agar kumenjauh darinya.


"Taksi... Ku harus cari taksi" gumamku sambil berlari.


Ku masuki taksi yang terparkir dipinggir jalan.


"Pak tolong antar ke apartement Dyvette " pintaku pada supir dibelakang kemudi. Segera dia menyalakan mesin dan melaju ke arah tujuanku.


Begitu memasuki lobi apartemen kulangsung menuju lift. Menekan tombol lantai 8.


Kuberlari setelah lift terbuka di lantai 8. Ingin segera sampai ke kamarku. Secepatnya kubuka pintu apartement, kulihat Alang belum datang. Bergegas menuju kamar, menguncinya.


Kusandarkan diriku dipintu. Terduduk lemah tak berdaya. Tangisku tak dapat kubendung lagi. Entah tangisan karena apa. Yang jelas kusesali semua yang telah terjadi.


"Kenapa !! aku hanya ingin melupakan semua. Aku harus pergi" Hanya itu yang ada dipikiranku.


Kubuka lemari pakaianku. Mengambil pakaian dan memasukkannya dengan sembarang ke dalam travel bag ku.


"Meja Rias" ku melangkah tuk mencarinya. Kucari-cari tapi tidak kutemukan. Kumerasa hilang kendali. Kusingkirkan apapun yang ada diatas meja rias. Kulempar cermin hingga pecah berkeping-keping.


"VINAAAA!" terdengar Alang menggedor pintu dan berteriak manggilku.


Kuabaikan panggilannya, kulempar apapun ke cermin didepanku.


Aku terduduk dan meringkuk saat kurasakan sakit yang luar biasa.


"Aaakhhh ..." perutku keram lagi.


"Pergilah jika kehadiranmu membuatku menderita." rintihku pada janin dalam rahimku.


\=\=\=


Alang POV


"Mau kemana dia?" ku lihat Vina menaiki taksi. Kuikuti taksinya.


"Hmmm Pantai Dyvette. Ngapain dia kesini"


Ku jaga menjarak dari tempatku mengintai Vina.


Kuperhatikan apa yang dia lakukan.


Tak berapa lama kulihat seorang pria menghampirinya. Seketika hatiku sangat panas karena cemburu.


"Dia selingkuh!" gumamku marah. Sambil memukul setir dan memegang kasar wajahku. Dari gerakan Vina, kurasa mereka sedang bertengkar.


"Shiiiittt" aku emosi melihat pria itu memeluk Vina.


Kulangsung keluar mobil untuk membuat perhitungan dengan pria itu, dan meminta penjelasan Vina.


Kulihat Vina berlari meninggalkan pria itu, saatnya kubuat perhitungan dengannya. Langkahku terhalang mobil yang keluar parkiran.


Kulihat pria itu menuju mobilnya. Segera kuambil hp tuk mengambil poto nya.


"Ku lepaskan kau kali ini. Tapi tidak dengan lain kali"

__ADS_1


"Wan, selidiki siapa laki-laki ini. Secepatnya!" kuperintahkan asistenku setelah kukirim foto yang kuambil.


Kini kuharus menemukan Vina. Kujambak rambutku dengan asal. Aku bingung dengan yang terjadi. Ku telpon lagi Hp nya tidak aktif sejak sore tadi.


"Apartement!" hanya itu yang ada dipikiranku. Segera kulajukan mobilku ke arah Apartemen kami.


"Kuberlari menuju apartement, kubutuh penjelasannya!"


"Tidak akan kubiarkan kau berselingkuh dariku Vina" gumamku penuh amarah.


Ku buka pintu apartemen dan langsung menggedor dan memanggilnya.


Praaang


"Apa yang dia pecahkan di dalam?" kudobrak pintu kamarnya sampai terbuka.


"Vinaaaaa" kuberlari merangkul dirinya yang tak sadarkan diri. Melihat darah pada tangan, kaki dan wajahnya yang terkena pecahan cermin. Kuangkat dan melarikannya ke Rumah Sakit.


\=\=\=


Kubawa langsung ke IGD Rumah Sakit langganan kami. Pihak RS langsung menanganinya. Ku menunggu dengan cemas.


Dering panggilan telpon mengejutkanku.


"Gimana Wan?"


"Saya sudah dapatkan infonya. Tapi kita harus bertemu"


"Apakah sepenting itu?"


"Ini soal calon istri anda tuan."


"Kau memanggilku TUAN lagi" nada bangsawan meluncur dari ucapannya.


"Baiklah, sepertinya itu hal paling penting untukku. Temui aku di kantin RS. Dyvette" panggilan terputus.


Dua jam aku menunggui Vina di ruang IGD. Akhirnya dia sudah ada diruang perawatan dengan keadaan yang masih tak sadarkan diri.


Dokter langgananku, dokter Dini meminta bicara ke ruangannya.


Aku pun mengikutinya.


"Pak Alang, sudah berapa kali saya ingatkan. Jangan membuat pasien saya banyak pikiran. Dalam keadaan hamil, emosinya labil"


"Saya sungguh bingung apa yang dia pikirkan. Dia tidak mau cerita apapun"


"Perlu bantuan psikater?" aku terkejut mendengarnya.


"Perlukah?"


"Melihat kondisinya, hanya itu saran saya"


Kuhembuskan nafasku dengan panjang.


"Jelaskan kondisinya dok"


"Apa dia tidak menginginkan janinnya lahir?"


Aku terkejut mendengar ucapan dokter Dini.


"Mana mungkin dok, itu anaknya, darah dagingnya" kutekankan semua kalimatku dengan yakin.


Dokter Dini hanya menarik nafas ringan.


"Kondisi luka-luka pada tubuhnya sudah ditangani. Tapi luka pada emosinya bukan bidang saya"


"Kondisi janin nya gimana dok?"


"Terselamatkan. Tapi saya tidak bisa memperkirakan yang akan datang"


Tubuhku terasa kaku. Semua terasa buntu. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Apa yang tidak kuketahui hingga Vina seperti ini.


"Akan saya pertimbangkan soal konsultasi ke psikiater. Saya harus bicara dengannya dulu" ucapku menjelaskan.


"Baiklah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Mohon pertimbangkan dan segera putuskan"


Aku hanya mengangguk dan pergi dari ruangan dokter Dini.


Kutelpon Iwan tuk pergi ke apartemenku membawakan baju ganti untukku dan Vina.


"Sudah dimana Wan?" tanyaku ke asistenku.

__ADS_1


"Di parkiran RS. Dyvette tuan"


"Segera meluncur ke apartemenku. Nomor kuncinya 5659**. Bawakan baju ganti untuk kami" kututup telpon bergegas ke ruang Direktur RS.


__ADS_2