
Pesanan makanan pun datang.
Aku menyiapkan mangkok dan piring di meja makan.
Kami pun makan malam bersama, sambil sesekali dia membuka hape nya.
Aku yang lebih dulu selesai makan.
Dan menungguinya selesaikan makannya sambil main hape.
"Tumben makan malam pake sate. Biasanya gak mau"
"Kalo pesen nasi nanti lu sakit lagi karna baunya"
"Mau cobain satenya nggak? Enak lho"
"Nggak. Udah kenyang, jus nya aja masih banyak"
"Cobain dulu satu suap. Aaaaaa"
Aku pun menerima suapannya.
"Enak kan?" katanya sambil tersenyum.
"He eh"
"Mau lagi?"
"Nggak"
Dia berjalan mengambil obat untukku dan membawa susu yang sudah dia bikin.
"Nih, lanjutannya" sambil menyodorkan nampan yang berisi keperluanku. Dia pun melanjutkan makannya lagi.
Sesekali kumelirik padanya. Rasanya ada yang berbeda. Tapi ku tak tau apa.
"Kenapa ngeliatin gua?"
"Kayaknya lu berubah. Ada yang beda"
"Karna habis mandi. Ganteng nya gua keliatan" sambil tertawa.
"Ehhhh nih bocah, girang banget ketawanya"
Ku hanya melengos pergi sambil membawa piring kotor dan mencucinya.
Kami menonton bersama di ruang keluarga. Alang memberikan bantal untuk menopang punggungku.
"Pake ini, biar gak pegel"
Ku hanya ikuti omongannya. Daripada ribut lagi karena bantal.
\=\=\=
Alang POV
"Gimana wan urusan karyawan?"
" ... "
"Siapin juga tempat mereka tinggal. Kalo ada yang berkeluarga sedia-in rumah, kalo yang singgel ada mess karyawan di kantor kita"
" ... "
"Prosedur surat nikah udah gua kirim lewat kurir. Dua minggu lagi gua nikah. Siapin hotel buat keluarganya?"
" ... "
"Jum'at sore minggu ini gua balik sama Vina. Sabtu gua lamaran ke abangnya. Minggu depan gua nikahin"
" ... "
Gua gak bisa ninggalin lu sendirian di kota ini. Gua harus bisa jaga kalian berdua. Demi lu gua buka kantor mendadak. Sebagian karyawan gua korbanin untuk ikut pindah.
Gua mohon lu tetap disamping gua selamanya. \=\=\=
Hari pertama di kantor, ku hanya disuruh mengenal situasi dan semua karyawan kantor. Tugasku masih tetap sama, tidak ada perubahan.
Aku pulang ke apartemen lebih cepat. Sebenarnya Indra menawarkan supir untukku. Tapi aku menolaknya dengan semua pertimbangan.
Toh apartemen dan kantorku jaraknya lumayan dekat. Pilihanku mobil antar - jemput karyawan.
Kubuka pintu apartemen, tampak masih kosong.
"Alang tidur dimana?" begitu pikirku.
.
Semalam Pukul dua pagi kuterbangun. Lalu ke dapur untuk ambil minum. Kuperiksa kamar satu lagi. Tak terkunci, dan tidak berpenghuni.
Kuganti pakaian kerjaku, menaruhnya ke keranjang pakaian kotor.
__ADS_1
Ada jasa laundry yang setiap hari ambil pakaian kotor penghuni apartemen.
Kulihat jam baru pukul tiga sore. Tapi perutku sudah lapar. Kuambil cemilan roti yang memang kusiapkan sebagai pengganjal lapar.
Kunyalakan tv sambil mengunyah roti dengan susu ibu hamil. Kuraba perutku yang masih rata.
"Bisakah kumencintai anak ini?" seakan aku tersadar dari nalarku.
Kubuka browser di hape-ku.
Syarat p*ngg*gur*n bayi.
"Apakah sudah di sah kan?" kucari-cari berita yang terkait. Aku menyerah. Gak ada penjelasan.
"Haaaah" kuhembuskan nafasku.
Kuselonjorkan kakiku yang mulai kesemutan. Rasa kantuk melandaku.
Kuterbangun saat mendengar pintu kamar dibanting.
"Apa Alang punya masalah dikantor?" pikirku cepat.
Kupanggil dan ketuk pintu kamarnya.
"Laaang, kamu kenapa?"
Tak ada sahutan. Kutinggalkan saja dia.
"Daripada gua kena semprot juga"
Kuambil hp-ku yang low batt dan pergi ke kamar untuk nge-cass hp sekalian mandi.
Setelah rapih, kukembali mengetuk kamar Alang. Tak ada jawaban.
"Apa dia ketiduran" kupergi ke kamar untuk menelponnya.
"Laaaaang" setelah panggilanku diangkat.
"Kenapa?"
"Mau sate padang lagi gak?" lama dia terdiam. Aku sangat kuatir jika dia marah. Aku tak mengenalinya serasa orang asing.
"Iya, mau"
"Lu mandi dulu. Baru makan yaaa" kucoba membujuknya.
"Heeemmmm"
Aku pun pergi ke luar apartemen. Menunggu pesanan datang di lobi apartemen.
\=\=\=
Alang POV
Ku lihat Vina tertidur di sofa. Kehamilan pasti sangat melelahkan. Ku bopong ke kamarnya.
Ku ambil hp nya yang lagi asik di badannya. Sekilas kubaca apa yang ada di layar hp nya.
Ketentuan A**** Bagi K*rb*n P*rk*sa*n
Tubuhku bergetar, antara marah dan sedih. Aku tak berani membayangkan apalagi menanyakan. Aku ketakutan pada kenyataan di depanku.
Kupergi ke kamar dengan emosi di dadaku. Kubanting pintu.
Kenapa aku sangat emosi begini.
"Vina ... Kenapa kau tak cerita"
"Lapor polisi dan buat dia membusuk dipenjara"
"Kenapa harus kau alami ..."
"Gua mohon jangan ada pikiran menggugurkan anak lu Vin"
"Gua mohon Viiiiinnnn ..."
Vina memangil dan mengetuk pintu kamarku. Kuhanya menahan mulutku dengan tanganku sendiri.
Dering telpon mengagetkanku.
"Vina" kontak di panggilan telponku
" ...."
"Kenapa?"
"..."
"Iya, mau"
" ... "
"Heeemmmm"
__ADS_1
" ... "
.
.
Kumandi tuk mendinginkan pikiranku. Tapi kaca jadi sasaran pukulanku.
Aku ingin meluapkan emosiku.
Gym ... Hanya itu yang terlintas di kepalaku.
Kubersiap pergi ke gym. Tapi Vina tidak kelihatan. Kuintip kamarnya yang terbuka. Dia tidak ada.
Katanya lagi pesan makanan. Kemana dia ?
\=\=\=
Hp ku berdering karena panggilan masuk dari Alang.
"Kenapa Lang"
"Lu dimana?" tanya Alang
"Di lobi apartemen"
"Ngapain disana?"
"Nunggu pesenan dateng"
"Kenapa gak nunggu di dalam aja?"
"Sekalian cari angin" alasanku.
"Ya udah, gua mau ke gym. Lu makan aja duluan. Jangan lupa obat dan susunya" suaranya terdengar membentakku, tapi mungkin hanya perasaanku.
"Iyaaaa"
Kubertanya-tanya ada apa dengannya.
"Masalah apa yang dihadapi. Apa karenaku..." kutakut bertemu dengannya.
Pesanku sudah datang. Buru-buru aku naik ke lantai atas.
Makan malam, minum obat, susu dan tidur. Itulah yang kurencanakan.
"Selesai..." segera kupergi ke kamar tidak lupa mengunci pintu kamar.
Di layar hp, panggilan dari Alang.
"Halo ..."
"Malam ini aku tidur di apartement. Jangan lupa kunci kamarmu. Dan langsung tidur" suaranya terdengar seperti perintah.
"Iyaaaa... Udah dulu, ya"
"Hemmm"
Kumatikan panggilannya. Kalo langsung dimatiin nanti marah lagi.
\=\=\=
Kuterbangun pukul 2 pagi, rasa haus melandaku, karena tenggorokan ku kering.
Kubuka pintu kamar, dan ke dapur langsung minum. Lampu ruang keluarga masih menyala. Dari sudut mataku terlihat seseorang tidur di sofa.
"Apa Alang tidur di sofa?" kudatangi sosoknya. Dia tertidur lelap. Ada yang menarik perhatianku. Tangannya terluka.
"Apa dia baku hantam sama orang"
Kupergi ambil kotak P3K, untuk mengobati luka nya.
Namun Kubatalkan niatku. Kutakut membangunkannya dan nanti marah-marah.
Segera kukembali ke kamar setelah mematikan lampu ruang keluarga.
\=\=\=
Kusudah rapih dan siap berangkat. Pergi ke dapur ambil roti, bikin susu dan minum obat. Kucari-cari sosok yang tidur di sofa tidak ada. Kotak P3K juga ada di tempatnya semula.
"Apa dia sudah berangkat kerja?" kupergi periksa rak sepatu.
"Dia masih tidur" kubuatkan roti sebagai sarapannya. Dan pergi berangkat kerja.
\=\=\=
Sudah tiga hari kami tidak bertemu.
Entah punya kesibukan apa dia.
Aku tak pernah mau tau urusan pribadinya.
Hari ini aku ijin kantor untuk masuk setengah hari. Karena aku harus ke Rumah Sakit. Tentu aku tak mengatakan check up kandungan.
__ADS_1
Kuberjalan ke arah pendaftaran dan menuggu dipanggil. Hari ini lumayan banyak pasien. Kuambil hp untuk menghilangkan rasa jenuh.