Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.20 Balikan Yuk


__ADS_3

makasih buat reader yang udah sabar baca.


Alang POV


Sudah seminggu aku diam-diam mendatangi Vina. Menemaninya hingga menjelang pagi.


Setelah menemaninya kembali ke kantor. Waktu tidurku hanya sekitar 3 jam, kadang rasanya badanku tidak menyatu dengan nyawa.


Waktu sudah hampir pagi, tapi badanku tak bisa kugerakkan. Terasa sangat berat, hawa badanku panas.


Aku hanya berharap asistenku datang membawaku pergi. Sebelum Vina terbangun.


Sayup-sayup kudengar suara berisik Vina memanggilku, tapi aku tak mampu bicara, hanya mampu bergumam. Apa aku akan mati??


Iwan datang terlambat, karena Vina sudah datang. Badanku semakin sakit saat Iwan mencoba mengangkatku.


Aku mencoba bergerak, tapi semua sia-sia.


\=\=\=


Alang masih lemah. Aku membasuh badannya. Menggantikan pakaiannya. Untungnya tadi Iwan sempat menyuapinya makan.


"Istri macam apa aku, tidak bisa merawat suami yang sedang sakit" gumamku sedih.


Sebaiknya toko aku tutup selagi Alang sakit. Lalu kudatangi ART ku.


"Bi, toko tutup saja selama suamiku sakit" ujarku pada keduanya.


"Kalian sudah makan?"


"Baru rapih nyah, nyonya juga jangan lupa makan, kasihan bayinya" bi Sri mengingatkan ku.


"Iya bi, makasih. Saya makan dulu ya" lalu ku berlalu dari dapur.


Selesai makan tak lupa dengan vitamin juga. Kembali ku kamar, dan dia masih tergolek lemah.


Aku menungguinya ditepian kasur, setelah kuganti lagi kompresnya. Kelelahanku membuatku cepat tertidur.


\=\=\=


Alang POV


Aku terbangun saat ada beban di tanganku.


Kucoba menggerakkan badanku. Kulihat Vina tertidur menyandarkan separuh badannya dipinggir kasur. Aku tak tega membangunkannya. Kucoba bangun dari ranjang.


Dan mengangkatnya naik ke atas ranjang.


Kututupi dengan selimut, meletakkan kepalanya di pundakku.


\=\=\=


Aku terbangun dalam pelukan Alang. Aku takut gerakanku akan membangunkannya. Aroma yang kurindukan namun membuat hatiku seperti tercabik-cabik.


"Beb, jangan pergi lagi..." kudengar Alang bicara.


"Apa dia sudah bangun, atau sedang mengigau" pikirku dalam hati.


Aku pura-pura masih tertidur, dan membalikan tubuhku membelakanginya. Kutakut dia tau aku sudah bangun.


"Papa kangen debay..." ucapnya sambil memeluk memegang perutku.


Harusnya aku dari tadi sudah keluar dari kamar, situasi ini membuatku salah tingkah.


"Vin..." dia memanggilku, namun ku tetap diam.


"Vina..." panggilnya lagi.


"Kamu masih tidur beb?"


"Foto yang kamu lihat adalah adikku, dia sudah meninggal" helaan nafasnya terdengar di telingaku.


"Foto itu saat dia menikah, aku jadi pendamping wanitanya, dan foto lainnya karena kedekatan kami sebagai adik - kakak"


"Kesibukanku beberapa waktu lalu, karena mengurus perusahaannya. Aku juga merasa bersalah karena mengabaikanmu"

__ADS_1


"Ternyata diabaikan tidak enak, kau mengabaikanku sejak menerima foto itu, sampai detik inipun kau tetap mengabaikanku"


Air mataku menggenang, aku tak bisa menahan isak tangisku. Dia membalikkan tubuhku dan memelukku.


"Maaf ya Vin" sambil mencium pucuk kepalaku.


\=\=\=


Alang kembali tertidur, aku beranjak membersihkan diriku dan membantu menyiapkan sarapan.


Iwan kupersilakan masuk, setelah kudengar bell berbunyi.


"Kamu sarapan dulu, baru urus atasanmu" tegurku.


Iwan hanya mengangguk dan menuju ruang makan yang kutunjuk.


Aku menuju garasi, dan menyusun barang jualanku.


Mencatat kembali barang yang perlu dibeli lagi.


Masih terngiang ucapan Iwan saat itu :


"Nyonya sudah salah duga. Tuan menyayangi nyonya lebih dari yang nyonya pikirkan. Nyonya tidak tau, bagaimana kondisi tuan saat nyonya hilang"


Aku sudah memvonis tanpa mendengar penjelasannya. Memakinya dengan segala praduga.


Akulah yang paling salah disini.


Kutemui Iwan yang sedang asik dengan hapenya.


"Ekhem..." Iwan melihatku, dan memasukkan hape nya.


"Iya nyonya?"


"Aku punya beberapa pertanyaan?"


"Baik nyonya"


"Siapa yang membantu pak Kesuma? Siapa wanita difoto itu? Dan kenapa dia bisa berada diranjangku semalam?" tegasku sambil menyilangkan tanganku di dada.


"Soal pak Kesuma, tuan Alang yang bantu. Rasa terima kasih karena beliau sudah menemukan dan menolong nyonya.


Soal kemarin malam... saya tidak tau nyonya"


"Satu lagi pertanyaanku"


"Saat aku menghilang, bagaimana keadaannya?"


"Hanya mengurung diri di apartement, tidak mau makan, tidak mengurus diri" ucapnya datar.


"Menurutmu aku harus bagaimana?"


"Memaafkan tuan dan kembali bersama" jawabnya singkat.


"Wan, gua yang salah, bukan tuan lu. Untuk ketemu tuan lu, gua malu"


"Temani saja tuan, itu sudah menyenangkan hatinya" aku terpaku mendengarnya.


Aku menghela nafas, mengumpulkan keberanianku. Lalu menuju ke kamar.


Kulihat dia sedang asik dengan hapenya. Kuhampiri dan duduk dipinggir ranjang. Hingga mengalihkan perhatiannya padaku.


"Kita tinggal disini ya?"


"Makasih beb"


"Apa yang makasih, aku yang salah"


Dia menepuk kasur menyuruhku untuk mendekat sambil berkata,


"Sini dong biar bisa dipeluk, badanku masih sakit kalo bergerak" sambil tersenyum senang.


Aku mendekatinya dan memeluknya.


\=\=\=

__ADS_1


Hari sudah beranjak malam, Iwan sudah pamit dari sore, dan ART ku sudah masuk kamar.


Aku dalam pelukan suamiku yang tidak mau lepas. Badannya sudah lebih sehat, infus juga sudah dilepas. Dan terlelap tidur.


\=\=\=


Alang selalu bahagia setelah mengantarku check up. Kadang jadi bawel, larang ini - itu.


"Debay mau makan apa hari ini" liriknya pada perutku.


"Konyol deh" sungutku


"Kok konyol?"


"Mana bisa dia jawab"


"Ya udah, mama-nya debay mau makan apa?"


"Terserah" ucapku singkat


"Beb, kamu gak ada ngidam, atau mau apa gitu"


"Nggak ada"


"Harusnya tadi tanya dokter Dini, ibu hamil pasti ngidam nggak"


"Perempuan hamil nggak ngidam itu langka, bersyukurlah kamu Alang"


Dia hanya tertenyum malu mendengar perkataanku. Kami sudah berhenti di sebuah drive thru. Aku memesan soup jagung, kentang, lemon tea, ayam spicy, nasi, dan apple pie.


"Beb, kamu hapus folder di galeri hape ya?" liriknya padaku.


"Iyaaa" sungutku


"Aku suka foto-foto kita disana, kenapa kamu buang? Tega banget. Kita jarang punya foto bareng, cuma ada foto pernikahan..." nada kekecewaan tampak jelas dari suaranya.


"Aku kirim, sudah kusimpan juga di hapeku" sambil mengirim lewat aplikasi chat.


Wajahnya langsung berseri-seri bahagia. Bagiku foto itu biasa saja.


Tidak butuh waktu lama semua pesanan kami sudah selesai. Kembali meluncur pulang.


Selama perjalanan kami makan apple pie dan kentang, aku menyuapinya.


Setibanya kami dirumah, Iwan sedang menunggu kedatangan kami.


Setelah basa basi, akupun pergi meninggalkan keduanya.


\=\=\=


Alang POV


"Ada perkembangan?"


"Iya tuan, itu nomor mantan suami nyonya Desi.


Kuberpikir dalam-dalam, ada tujuan apa dia melakukannya.


Kuhubung-hubungkan menyangkut akuisisi, rasanya jauh. Kupandangi Iwan, berharap dia punya jawaban.


"Menurutmu kenapa dia melakukannya?" tanyaku ke Iwan


"Untuk menghambat akuisisi, dia punya rencana lain"


"Kau urus dia Wan, pastikan dia membusuk di RSJ" perintahku ke Iwan.


"Siap tuan" jawab Iwan singkat.


Iwan pun pamit pulang, dan akan menyiapkan segala rencana dengan matang.


Kukembali masuk kedalam, sambil terus berpikir "Apa tujuan Ardi melibatkan Vina dalam hal ini..." sesampainya dipintu kamar kulihat Vina sudah tertidur pulas.


"Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi Vin" bisikku sambil melangkah dan menaiki ranjang.


"Have a nice dream beb.." kucium perutnya yang sudah mulai membesar. Menarik selimut untuk kami berdua, lalu aku berbaring disebelahnya dengan tangan menutup mataku.

__ADS_1


\=\=\=


tinggalin jejak komen, like yaaaa. kasih vote kalau kalian suka.


__ADS_2