Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.33 Batas Waktu 2,5 Bulan


__ADS_3

Hari ini aku dan Laila sudah berbelanja untuk mengisi toko ku.


Setelah 2 hari kami membersihkan ruko ini.


Untungnya dengan 2 kamar mandi atas dan bawah, dan diatas kubuat sekat kamar. Karena aku butuh bantuan pegawai untuk ambil barang diatas, juga menemaniku.


Aku puas dengan selera Laila, menata isi toko.


Laila: "Lu kasih nama toko nya apa?"


Vina: "Tetep kayak toko gua yang dulu"


Laila: "Apa namanya?"


"Toko Pakaian Vina & Debay"


Laila: "Bagus juga tuh nama toko"


Vina: "Besok toko udah gua buka" sambil menyodorkan cemilan"


Laila: "Hemmm" sambil mengunyah.


Vina: "Kapan orang yang mau bantu dateng?"


Laila: "Besok gua suruh dateng, kebetulan anaknya ibu kantin kantor. Gua udah kenal koq".


Vina: "Nginep disini boleh"


Laila: "Boleh, gua udah nanya"


Laila: "Dah yuk pulang, udah sore nih"


Vina: "Hemmm yuk"


Laila: "Badan gw jadi melar, ngikutin lu ngemil mulu... hiks... hiks"


Vina: "Ha...ha...ha..."


\=\=\=


Iwan POV 


Belakangan ini tuan lebih sering tidur di sofa. Ku suruh tidur di kamarku dan aku di sofa juga tidak mau.


Aku tidak tega untuk bercerita tentang nyonya.


Aku tak akan sanggup melihat deritanya seperti saat dulu nyonya hilang. Terlebih tuan Niko juga melarang. Biarkan tuan mengingat secara naluri. Yang entah sampai kapan.


Kubangunkan tuan setelah menyiapkan pakaian.


Iwan: "Tuan, bangun..."


Alang: "Viiiinn" aku tertegun mendengarnya.


Ku urungkan membangunkannya, "Apakah tuan sedang memimpikan nyonya?"


Sarapan sudah ku siapkan. Hanya roti seperti yang biasa nyonya buat.


Kulihat tuan sudah bangun dan beranjak ke kamar.


Lama ku menunggu, tuan tidak juga keluar. Ku ketuk pintu dan masuk.


Ternyata tidur lagi. Aku pun keluar dan bersiap pergi ke kantor.


Sesampainya di kantor... 


Tara: "Alang mana?"


Iwan: "Hari ini tuan tidak enak badan".


Tara: "Begitu?" wanita itu berlalu.


Fokusku menyelesaikan kerjasama dengan kantornya. Biar wanita itu tidak selalu disini.


Progres kantor kami ku majukan, sekitar seminggu semua sudah rampung. Hanya menunggu Berita Acara.


Pintu kantor terbuka, dan ku lihat tuan datang. Aku tertegun melihatnya.


Alang : "Kenapa nggak bangunin gua?"


Iwan: "Sudah saya bangunin. Tapi tuan pindah tidur ke kamar"

__ADS_1


Alang: "Bukan lu yang mindahin?"


Iwan: "Tuan pindah sendiri tadi pagi"


Alang: "Ya sudah, mana lagi pekerjaan yang masih harus diselesaikan"


Kami pun kembali bekerja. Sudah beberapa perusahaan yang minta kerjasama. Hanya beberapa yang akan disetujui.


Diskusi kami cukup panjang, terhenti saat wanita itu masuk dan langsung dipangkuan tuan.


Tara: "Sayaaaang, besok kita jadi jalan kan?"


Alang: "Iya jadi. Kamu dandan yang cantik ya".


Tara: "Asistent kamu nggak ikut kita kan?" sambil menatapku sinis.


Alang: "Tentu tidak, ini kan acara kita" sambil menyingkirkan Tara dari pangkuan.


Tara: "Ya sudah, aku kembali kerja, sampai besok sayaaang".


Tuan melihatku dengan pandangan lucu.


Alang: "Kenapa? Kau mau ikut kami besok?"


Iwan: "Iya tuan" seketika tuan tertawa terbahak-bahak.


Alang: "Kau ini aneh, tidak ingin melihatku bermesraan dengan Tara, tapi kau ingin ikut kemana pun aku dengan Tara. Wan, aku juga butuh bermesraan" sambil terkekeh.


Iwan: "2,5 bulan lagi tuan boleh bermesraan dengan siapapun yang tuan mau. Hanya menunggu 2,5 bulan lagi tuan"


Alang: "Hei... Apa maksudmu? Kenapa kau jadi mengaturku?"


Iwan: "Setelah 2,5 bulan, tuan bisa pecat saya. Hanya untuk 2,5 bulan ini"


Mendengar hal itu Alang terperangah kaget.


Alang: "Apa kau sakit parah? Dan sisa usiamu tinggal 2,5 bulan?" terlihat raut kesedihan.


Iwan: " Saya sehat tuan, 2,5 bulan adalah tanggung jawab yang harus saya selesaikan"


Alang: "Ada apa dengan 2,5 bulan?"


Iwan: "Tuan bisa pecat saya saat itu. Hanya itu yang bisa saya jelaskan. Saya permisi tuan"


\=\=\=


Aku semakin curiga dengan Iwan. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan.


"Jangan khianati aku Wan..."


Apa maksudnya 2,5 bulan. Ada apa ?


Seketika kepala ku kembali sakit dan membuatku tak sadarkan diri.


\=\=\=


Alang POV 


RS. Dyvette


Aku kembali harus dirawat. Tiba-tiba sakit menyerang kepala ku.


Apa yang sebenarnya terjadi padaku?


Kulihat sekitarku, Iwan tidak terlihat. Biasanya Iwan selalu ada menemaniku. Entah kemana dia.


Minggu lalu aku juga disini.


Istri, foto pernikahan, Vina, 2,5 bulan.


Apakah semuanya saling berhubungan?


Ini semua apa? Tak ada sebuah petunjuk pun.


Niko! Aku harus bertanya pada Niko, yang lainnya sudah tidak kupercayai.


Cukup lama aku menunggu Iwan datang, memintanya memanggil Niko ke ruanganku.


"Wan... Panggilkan Niko kemari. Kepalaku sangat sakit".


Iwan langsung bergegas memanggil Niko.

__ADS_1


Setibanya Niko diruanganku, dia memeriksa ku. Termasuk mataku.


Niko: "Lu ngerasain apa?"


Alang: "Kepala gua sakit kalo gua ingat sesuatu"


Niko: "Jangan lu paksa..!"


Alang: "Nggak bisa gua kendaliin. Sebenarnya gua kenapa Nik".


Niko: "Lu sabar aja"


Aku melirik Iwan, ku suruh dia keluar.


"Wan, gua mau ngobrol sama Niko" Iwan pun berlalu dari kamarku.


Alang: "Lu pernah sebut nama Vina. Lu jelasin ke gua, apa hubungan gua sama Vina"


Niko: "Lu sendiri yang bilang, Vina sohib lu. Ya udah.


Ada persekongkolan apa mereka??!


Alang: "Gua mau balik pulang. Gua gak mau nginep"


Niko: "Yakin lu?"


Alang: "Yakin banget"


Segera ku minta Iwan mengurus kepulangan ku.


Aku harus tenang memikirkan semua. Jalannya pasti ada.


Sesampainya kami di apartemen, Tara pun datang.


Alang: "Sayang, maaf besok kita nggak jadi jalan ke luar kota"


Tara: "Aku ngerti kok, kesehatanmu lebih penting sayaaang"


Alang: "Bisakah kau pulang sekarang? Aku butuh istirahat. Kepala ku masih sedikit sakit".


Tara: "Aku akan pulang, tapi..."


Tara menciumku melingkarkan tangannya di leherku, ciuman kami semakin dalam memancing hasratku.


Vina mulai menarik tanganku.


"Ekhemmm..." suara Iwan menghentikan hasrat ku. Tampak Tara sangat kesal dengan kedatangan Iwan. Dan berlalu pergi.


Akupun bangkit dan menuju kamar untuk istirahat.


"Tuan?" panggil Iwan


"Kau cemburu dengan Tara?" sambil ku terkekeh"


"Apa tuan mau langsung tidur? Tuan belum mandi".


"Kau benar, aku harus mendinginkan otaku. Makasih"


Selesai mandi, aku masih memikirkan banyak kejanggalan.


Ku ambil hape, mencoba menghubungi Vina. Terdengar sibuk.


Berkali-kali kucoba menghubunginya. Berharap ada yang bisa dia jelaskan.


Jam segini dia sibuk. Ku kirim pesan saja. Apa dia masih inget gua...


📨 : "Vina, ini gua Alang apa kabar lu? Sombong amat sama gua nggak mau kasih kabar"


Hanya conteng 1? Apa dia ganti nomor?


Ke medsos saja.


✉ : "Vina, ini gua Alang apa kabar lu? Sombong amat sama gua nggak mau kasih kabar"


Tinggal tunggu balasannya.


Kalo dia bales terus gua bilang apa?


Ngajak ketemuan? Mana mungkin dia mau.


Selama ini dia cuekin gua terus.

__ADS_1


Gua juga nggak berani ngomong jujur, takut di tolak.


\=\=\=


__ADS_2