Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.28 Kejadiran Masa Lalu


__ADS_3

Makasih yang udah mampir. Silakan tinggalkan jejak komen, like.


Alang POV 


Sejak menemui Niko, kepalaku terasa sangat sakit.


Memikirkan ucapan Niko dan Iwan semakin membuatku berpikir.


Aku tak berani bertanya pada Vina, apakah dia hanya memanfaatkanku dan setelahnya akan menceraikanku.


"Wan, bawa nyonya kemari" perintahku pada Iwan.


"Baik tuan"


Kuhubungi Vina langsung.


"Hallo Vin, Iwan akan menjemputmu. Bersiaplah" kataku singkat.


Satu jam kemudian, Vina sudah ada diruanganku.


Kuhampiri dan memeluknya.


"Kita belanja buat keperluan debay yuk?" tanyaku


"Serius? Bukannya kamu lagi sibuk?"


Mendengar Vina mengatakan itu aku pun melirik ke Iwan.


"Akan saya ubah jadwal tuan"


Akupun tersenyum dan menarik tangan Vina untuk mengikutiku.


Kami pergi ke mall dan singgah ke beberapa toko perlengkapan bayi.


Vina memilih yang berwarna pink dan kuning, aku memilih yang berwarna biru.


"Kau senang Vin?" tanyaku yang melihatnya selalu tersenyum.


"Iya, makasih ya, debay juga senang"


Kami kembali berkeliling.



.


.


"Tara..." gumamku


"Apa Lang?"


"Nggak" sambil menoleh Vina.


Kalian lanjut dulu, ada yang ingin aku cari.


Akupun bergegas meninggalkan Vina dan Iwan.


Mencari seseorang yang pernah kukenal.


"Aku yakin tadi melihat Tara..." bisikku.


Akupun kembali bersama Vina dan Iwan, yang sedang makan siang.


"Aku tidak menemukan yang kucari" sambil terkekeh sebelum ada pertanyaan dari Vina.


Setelah mengantarkan Vina dan belanjaan buat debay ke apartemen, aku dan Iwan kembali ke kantor.


Kulanjutkan pekerjaanku yang tertunda.


"Jadwalku apa lagi Wan?" tanyaku pada Iwan.


"Meeting dengan EyeLab adv. tuan" jawab Iwan.


"Apa mereka sudah datang?"


"Sedang dalam perjalanan tuan"


"Berikan proposalnya padaku"


Akupun membaca dengan seksama apa yang akan mereka presentasikan nanti.


Perusahaan yang bergerak dibidang periklanan. Cukup menarik.


Aku kembali membuka pekerjaan yang lain.


"Wan, apa Vina senang hari ini?" tanyaku sambil membaca laporan progres perusahaan.


"Nyonya terlihat senang tuan"


Suara intercom memotong pembicaraan kami. Tim EyeLab adv. sudah sampai di ruang meeting.


Akupun pergi ke ruang meeting dengan Iwan.


"Ini proposalnya tuan" Iwan meletakkan proposal EyeLab adv. dimejaku.


"Silakan dimulai presentasinya" sahutku.


Lampu ruanganpun dimatikan.


Slide mulai ditampilkan.


Mereka mulai menjelaskan profile perusahaan dan tujuannya.


Lalu pengalaman perusahaan selama 4 tahun, beserta progres pencapaian sampai tahun terakhir.


Aku terkesan dengan prentasi mereka. Sangat menjanjikan secara profesional.


Tiba-tiba pintu terbuka menggangu meeting. Seseorang datang karena terlambat datang membuyarkan konsentrasiku dan penilaianku pada EyeLab adv.

__ADS_1


"Jika anda terlambat, sebaiknya menunggu diluar sampai selesai. Jangan mengganggu acara yang penting" tegurku keras.


"Maaf pak, kalau begitu saya permisi".


Dia pun keluar ruangan kembali.


Meeting dilanjutkan tapi aku sudah tidak fokus.


"Aku menyukai prentasi kalian, sangat menarik. Selanjutnya saya serahkan pada asisten saya. Permisi"


Akupun keluar ruangan. Melihat sekilas wanita yang tadi terlambat.


Kembali masuk ruang kantorku.


Aku bersandar pada kursi dimejaku.


Rasanya ada yang kulupakan.


Suara seseorang yang kukenali, tapi aku lupa siapa pemilik suara itu.


Iwan membuyarkan pikiranku karena mengetuk pintu ruanganku.


"Masuk" jawabku.


"Perwakilan dari EyeLab adv. sudah datang pak" lapor Iwan padaku.


"Suruh masuk"


Sambil kulihat lagi proposal mereka yang ada dimejaku.


Iwanpun mempersilakan masuk dan menunggu diluar.


Akupun berdiri tuk menghampirinya.


"Tara..." bisikku.


"Alang..." sahutnya.


Kami sama-sama terkejut.


Tanpa kusadari aku memeluknya erat.


"Apa kabarmu sayang..."


"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" sambil menyentuh wajahku.


"Duduklah" tatapku dalam padanya.


Kami saling berbincang tentang masa lalu setelah berpisah.


Aku lupa pada tujuannya datang menemuiku.


"Aku harus kembali ke kantor" katanya kemudian.


"Berikan aku nomor mu, kita bisa makan malam lain waktu?"


"Tentu, ini kartu namaku" sambil menyerahkan kartu namanya.


Tara pun pergi dari ruanganku.


Iwan masuk dan menyerahkan hasil meeting dengan dewan direksi.


Setelah kutandatangi, Iwan akan membawanya lagi.


"Wan, kau masih merokok?" tanyaku tiba-tiba.


Iwan menyerahkan rokoknya padaku kemudian mengurus proposal.


Aku menuju balkon ruanganku. Kunyalakan sebatang rokok dan kuhisap dalam-dalam.


"Tara... Tara..." bisikku


Dia wanita yang pernah ada dalam hatiku dan hari-hari ku.


Dadaku berdebar-debar lagi saat ku memikirkannya.


Panggilan Iwan mengejutkanku, "Ada masalah apa?" bentakku tiba-tiba.


"Tuan, meeting kedua segera dimulai" lapor Iwan padaku.


Aku segera bergegas setelah mematikan rokokku.


\=\=\=


Aku kembali ke ruanganku setelah meeting selesai.


Pikiranku tertuju pada Tara...


Walau agak ragu, tapi kuambil kartu nama dan menghubunginya.


"Hallo Tara, ini aku Alang" kataku memperkenalkan diri.


"..."


"Bisa kita makan malam nanti?" tanyaku langsung.


"..."


"Kita bertemu di mall Dyvette, ok"


"..."


"See you later"


Jantung berdebar-debar kembali.


\=\=\=


Ku pulang kembali ke apartemen, membersihkan diriku dan kembali bersiap-siap. Kulihat Vina masih menyusun belanjaan tadi dilemari.

__ADS_1


Kuhampiri dan memeluknya.


"Jangan kecapean, biar nanti kususun, kau istirahatlah" bujuk ku menghentikan aktifitasnya.


Vina menatapku dan mencium bibirku, kuangkat tubuhnya menuju kasur. Pagutan ciuman kami semakin dalam, kutelusuri leher jenjangnya.


Aku harus menghentikan kegiatanku ketika hape ku berbunyi.


"Shiiiitt" ketika kubaca nama panggilan. "Hallo, aku dalam perjalanan, tunggu aku" segera kubergegas keluar.


Mall Dyvette....


Kutemui sosok Tara di resto Eropa. Dia tampak anggun dengan balutan dress hitam sutra.


"Kau memukau" kuberbisik ditelinganya dan memeluknya.


"Kau pun masih membuatku terpana" balasnya dengan menciumku.


Kami menghabiskan waktu dengan mengenang masa lalu. Bercerita kehidupan kami setelah berpisah.


"Bagaimana dengan kehidupanmu sekarang Lang?" tanyanya padaku.


"Aku sudah menikah, istriku sedang mengandung, sebentar lagi dia akan melahirkan" jawabanku membuatnya kecewa.


"Begitukah?" sambil memegang tanganku.


"Aku berkata yang sejujurnya".


"Kau mencintainya?"


"Apa maksudmu?


"Kau bersamaku sekarang" ucapannya membuatku tak bisa berkata-kata.


"Dan bagaimana dengan kehidupanmu sekarang?" balasku bertanya.


"Aku masih sendiri sejak kita berpisah. Kumasih merindukan dan memikirkanmu. Tak pernah terlintas olehku menemukan seseorang yang bisa menggantikanmu".


"Sudah 3 tahun dan kau masih menungguku?"


"Ya, selama itu aku masih mencintaimu. Kau memutuskanku tiba-tiba, tanpa ada alasan".


Aku menghela nafasku dalam-dalam.


"Lang, sudah malam, aku harus pulang dulu" pamitnya padaku.


"Kuantar kau pulang" sambil memegang tangannya.


Selama perjalanan Tara banyak mengungkapkan perasaannya. Aku merasa bersalah telah memutuskannya.


Saat itu aku yang meminta berpisah.


Keadaanku kacau dengan kematian adikku Desi. Aku tak ingin membebani orang yang kusayangi.


"Kau mau mampir?" tanyanya setelah kami sampai didepan pintu apartement nya.


"Tidak, sudah terlalu larut. Dan istriku menungguku." kataku.


"Baiklah, kau hati-hati dijalan" sahutnya sambil menciumku lembut, refleks kupegang pinggangnya.


Perasaan yang dulu kembali datang.


"Aku merindukan sentuhanmu" bisiknya ditelingaku. Darah berdesir dan mendebarkan jantungku.


Kumenciumnya dengan dalam seperti yang biasa kulakukan dengannya. Balasannya semakin membuatku tak terkendali.


Tara sudah menarikku ke sofa dan dipangkuanku. Nafas kerinduan kami menyatu, aku membalikkan tubuhnya berada dibawahku. Kutelusuri lehernya, dan bergerak kebawah.


Tiba-tiba Ku hentikan aktifitasku.


"Kenapa Lang?" tanyanya gusar.


"Aku pulang dulu" segera kubergegas meninggalkannya.


Selama perjalanan pulang, pikiranku berkecamuk kacau.


\=\=\=


Apartement Dyvette 


Kulihat Iwan masih berkutat didepan laptop.


"Kau masih sibuk?" tanyaku


"Saya hanya memantau pekerjaan tuan"


"Istirahatlah, lanjutkan besok" sambil kutinggal pergi ke kamar.


Kulihat Vina sudah tertidur, aku segera membersihkan diriku.


Lalu berbaring dan memeluknya erat.


"Kau sudah pulang?" tanya Vina padaku.


"Ya aku pulang..."


"Kau Sudah makan?" sambil berbalik padaku.


"Sudah, tadi diluar" kumenatap Vina dalam-dalam. Ada rasa sakit di dadaku.


"Panggil namaku Vin" bisikku


"Lang"


"Sekali lagi"


"Laaaang"


"Panggil aku seperti barusan ya" Vina menggnggukan kepala.

__ADS_1


Vina tertidur di pelukanku dengan nyenyak.


\=\=\=


__ADS_2