
makasih buat reader yang setia menunggu. ###
Alang POV
Dokter datang bersama Iwan ke ruanganku. Memeriksa semua panca indraku. Dan memberikan beberapa pertanyaan padaku.
"Anda kehilangan sebagian ingatan anda, tapi ini tidak permanen. Melihat hasil MRI tidak ada masalah pada sistem syaraf. Jadi ini hanya sementara, butuh waktu untuk mengembalikan ingatan anda. Bersabarlah. Juga untuk orang-orang terdekat anda". Penjelasan dokter membuatku bingung. Aku merasa baik-baik saja, bagiku semua orang hanya bercanda.
Setelah dokter menyelesaikan pemeriksaan padaku, ia pergi untuk memeriksa pasien lainnya.
"Setelah menikah gua tinggal dimana Wan, tempat gua atau tempat Vina?" tanyaku penasaran.
Iwan menoleh padaku "Di kota Dyvette, karena nyonya Vina pindah kerja kesana. Dan tinggal di apartement Dyvette".
"Lalu bagaimana dengan perusahaanku?"
"Tuan membuka cabang operational di kota Dyvette, dan berhasil mengakuisisi 3 perusahaan termasuk perusahaan Desi"
"Wooow, hebat juga gua" kataku bangga.
\=\=\=
Akhirnya, Alang dibolehkan pulang.
Kamipun akan kembali ke kota Dyvette, namun kembali menempati apartement, karena itu yang diinginkan Alang.
Demi kesembuhannya, aku menyetujui semuanya.
Hubungan kami mulai terasa aneh dan kaku. Merasa saling asing.
Aku mendorong kursi roda untuk Alang, karena terkadang kepalanya sakit jika berlama-lama berdiri.
Iwan dibelakang kami membawakan tas koper. Pintu lift pun terbuka, pintu keluar lobi terlihat didepanku.
Baru beberapa langkah aku berjalan, tak menyangka kalau aku akan aku berpapasan dengan Indra. Matanya tajam melihatku dan Alang.
Aku tak mempedulikannya, berlalu dan menganggap tak mengenalnya.
Iwan sudah memarkirkan mobil diseberang lobi, dia pun memapah Alang masuk kedalam mobil, dan memasukkan tas koper ke bagasi, aku masuk kemudian
Selama perjalanan Alang hanya tertidur. Aku lega dia tertidur, karena aku tak punya banyak kata untuk menjelaskannya. Begitu banyak hal dalam pikiranku.
\=\=\=
Indra POV
Aku terkejut melihat Vina dan suaminya keluar dari lift Rumah Sakit. "Apa yang terjadi?" begitu pikirku. "Bukan Vina yang sakit, tapi suaminya..." aku merasa lega, Vina baik-baik saja. Kandungannya terlihat sudah membesar. Ada sedikit rasa sedih dihatiku. "Harusnya, itu anak kami" terasa getir saat berpikir seperti itu.
Aku kembali sadar akan tujuanku kemari, aku harus mengurus administrasi pegawai yang sedikit tersendat klaimnya.
"Roni, gua udah sampe di bagian administrasi" kataku saat menelpon sahabatku yang bertugas di RS ini.
"Ok bro, gua dateng. Satu pasien lagi." sahut Roni dari seberang telpon.
"Cepetan ya, urusan gua masih banyak" desakku pada Roni.
"Ok, ok" kututup panggilan telpon setelah mendengar jawaban Roni.
30 menit kemudian, Roni menghampiriku.
"Gimana bro urusan admistrasinya?" tanya Roni langsung.
"Ini harusnya klaim asuransi kantor lancar, permasalahan dari data input RS lu" kataku kesal.
"Sini gua urusin bentar" sambil merebut kertas ditanganku. Lalu menuju bagian adminstrasi.
"Wiiin... Wiwiiin" panggil Roni pada petugas adminitrasi yang dikenalnya.
"Ada apa dok?" tanya Wiwin heran
"Ini tolong urus segera, pasien udah harus keluar, cek lagi yang bener" perintah Roni ke Wiwin.
"Baik dok" segera Wiwin mengambil kertas dan memeriksa di komputernya.
Roni segera menghampiri Indra dan duduk dibangku ruang tunggu.
"Lagi diurus, lu tunggu aja. Pasti beres hari ini. Ok gua cabut lagi" pamit Roni ke Indra.
"Ok bro, thanks yaaa"
\=\=\=
Di dalam mobil
__ADS_1
Alang POV
Aku pura-pura tertidur di mobil. Karena aku bingung bagaimana harus bersikap padanya. "Apa Vina marah dengan sikapku di RS kemarin?" begitulah pikiranku, sebelum aku tau kenyataan kalau ku telah menikahinya.
Kupikir hanya candaan kami seperti biasanya.
\=\=\=
Kami sudah memasuki apartement, Iwan memapah Alang yang masih sedikit lemas, aku hanya membawa diri. Tas koper kami akan Iwan angkat setelah mengantarkan Alang ke kamar.
Kami berdua saling diam, larut dalam pikiran masing-masing. Aku merasa risih. "Mau kemana?" tanya Alang saat ku akan beranjak keluar. "Keluar, ambil minum dan merapikan pakaianmu ke lemari" kataku.
"Iwan aja yang ngerjain. Lu disini temenin gua" perintahnya.
"Keadaan anak kita gimana?" tanyanya singkat
"Sehat"
"Berapa lama lagi lu lahiran?"
"Sekitar 3 bulan lagi".
Kemudian kami terdiam lagi cukup lama.
"Laaaang".
"Hemmm".
"Lu istirahat aja dulu, gua mau rapihin semua. Nggak semua hal bisa dikerjain sama Iwan".
"Ya udah, gua istirahat dulu"
Akupun pergi meninggalkannya.
Kulihat Iwan sedang duduk di sofa. Ku hampiri duduk disampingnya.
"Wan..." kataku sambil menoleh padanya. "Lu tidur dikamar sebelah, biar lu bisa bantu ingatannya. Dia gak banyak bicara sama gua. Mungkin dia masih shock".
"Tapi nyonya".
"Udahlaaah" kataku memotong ucapannya.
Aku kembali ke kamar.
Alang menoleh padaku "Ngapain lu?" tanyanya melihat sikapku.
"Gua capek, badan gua pegel semuaaaa." dan memunggunginya hingga ku terlelap tidur.
Kuterbangun karena rasa lapar menyerangku. Kulangkahkan kaki menuju dapur, ku melihat Alang dan Iwan sedang di sofa, keduanya menatapku seakan takut aku mendengar pembicaraan mereka.
Aku mengambil makanan, dan membawanya ke kamar. Kemudian tidur lagi.
\=\=\=
Sudah hari ke 3 aku kembali ke apartement ini.
Hari ini jadwal check up. Aku pergi sendiri karena kondisi Alang tidak memungkinkan. Aku juga ingin memberi ruang bagi kami berdua.
"Ada batas tipis yang bisa terputus" begitulah dipikiranku.
Menjelang sore aku baru kembali.
Sengaja aku berlama-lama diluar apartemen.
Setelah dari RS aku pergi ke pantai Dyvette. Meluaskan pikiranku seperti bentangan cakrawala dibatas langit.
Begitu aku masuk ke dalam apartemen, Alang terlihat memandangku kesal. Aku berlalu ke kamar untuk membersihkan diriku dan istirahat.
"Vin..." panggil Alang saat menyusulku ke kamar.
"Apa?"
"Kamu mau ngapain?"
"Mandiiiii. Mau mandi bareng?" godaku
"Nggak mau, sono mandi" sambil mendelik ke arahku.
Kulewati dirinya yang berdiri dipintu kamar mandi. Kututup pintu dan menguncinya.
Setelah selesai berganti pakaian, ku pergi ke meja makan, makan sendirian. Karena mereka berdua terlihat sibuk bekerja.
Alang menghampiriku begitu aku menyelesaikan makanku.
__ADS_1
"Tadi lu kemana aja? Kenapa nggak ngomong-ngomong?" tanyanya dengan nada kesal.
"Pergi check up kehamilan ke RS. Dyvette, lalu ke pantai Dyvette" sahutku menjawab introgasinya.
"Lain kali kalau mau pergi ngomong dulu. Jangan pergi begitu aja".
Aku hanya menghela nafas mendengarnya. Mengetahui aku tak menjawab omongannya lagi. Dia pun menarikku ke kamar, "Wan, gw tidur dulu" sambil menoleh ke Iwan.
"Lu kenapa sih Lang? Marah-marah mulu, heran gua..." ketusku setelah di dalam kamar.
"Perhatian kok dianggap marah-marah?"
"Nadanya itu loooh".
"Kan emang begini nada gua kalo ngomong".
Aku pun mulai malas meladeni setiap omongannya. Kumenaiki kasur dan memejamkan mataku.
"Vinnn..." panggilnya setelah berada dibelakang ku.
"Hemmm" sahutku
"Lu gak terima kalo gua gak inget kita udah nikah?" tanyanya serius.
"Bukan gua gak terima"
"Terus apa?"
"Nggak tau, aneh aja rasanya" jawabanku dibalasnya dengan pelukannya dibelakangku.
"Si debay udah mulai gerak-gerak..!" ucapnya merasakan pergerakan di dalam perutku.
"Sakit gak Vin?" tanyanya lagi.
"Nggak, biasa aja"
"Viiinn" panggilnya sambil mencium tengkukku.
"Apa lagi?"
"Lu kalo ngambek begini banget" protesnya
"Gua gak ngambek" sergahku
"Tapi kenapa gua dipunggungin?"
"Hemmm" sambil ku ubah posisiku telentang.
Kurasakan bibirnya menyentuh bibirku, aku terbelalak "ngapain lu?" kataku dengan bibir yang masih menyatu.
"Ssshhh... nikmatin aja" ucapnya singkat sambil manarik tanganku kebelakang lehernya.
"Apa ingatannya sudah kembali?" pikirku dalam.
Aku menikmati perlakuannya padaku yang seperti biasa. Menenggelamkan wajahnya diantara kakiku.
Hingga tubuhku menegang saat mencapai pelepasanku. Kulihat dia tersenyum puas kearahku, kembali menelusuri tubuhku hingga tatapan kami bertemu.
Aku terkejut saat kurasakan dirinya memasuki ku
"A...ng" pekikku tertahan dengan tangannya yang menutup mulutku.
"Sshhh... ada Iwan disebelah, jangan berisik" bisiknya ditelingaku. Membenamkan wajahnya disampingku.
Kupukul tubuhnya dengan sekuat tenagaku, meronta-ronta agar dia menjauh. Kedua tanganku tertahan oleh tangannya, seiring tubuhnya yang semakin dalam memasuki diriku.
Suara teriakkanku keluar dari hidungku, berontakku malah membuatnya semakin membuatnya berpacu. "Vinaaa" memanggil namaku lirih dalam pelepasannya.
Melepas tangannya yang menahanku, membaringkan tubuhnya disampingku dengan nafas tak beraturan.
Segera kukenakan lagi pakaianku. Sambil menatapnya, "B*d*h...!" akupun pergi keluar.
Kuberbaring di sofa dengan berlinang air mata. Aku tak terima perlakuannya yang seperti itu.
Dia menghampiriku ke sofa.
"Kenapa Vin? Apa gua tadi kasar?" ucapnya sambil mengusap keningku.
"Lu mau tidur di sofa atau kamar?" tanyaku tegas.
"Sofa aja" katanya, setelahnya aku beranjak ke kamar. Membersihkan dan mendinginkan diriku menahan kesal.
\=\=\=
__ADS_1
deg-degan ...