Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.3 Mutasi


__ADS_3

Akhirnya taksi pesananku datang. Kuingin pergi ke kawasan laut sekedar melepas penat. Sambil menunggu pesananku datang. Kuambil hp.


"Begitu banyak notif masuk" bisikku pelan.


"Pada siapa aku ceritakan hal ini? Bagiku ini adalah aib" rintihku dalam hati.


Akhirnya makan siangku tiba. Kusantap dengan air mata yang berlinang. Sesekali aku terbatuk tak dapat menelannya karena tersedak.


"Aku harus kuat. Jangan jadi wanita lemah" sambil kuusap air mataku di pipi. Namun malah membuatku semakin menangisi diriku sendiri.


Kupergi ketempat yang sepi. Setelah menyelesaikan makanku. Kuhisap rokokku dalam-dalam sebagai temanku berpikir. Memori itu datang lagi.


Kubangkit dan berteriak ke arah laut "******** kau Indra ..."


"Aku membencimu ..."


Flashback


Gunawan memandang Indra sambil bertanya.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?".


"Aku sangat yakin".


"Pasal 4 yang Vina ajukan, apakah tak mengakitimu?".


Deg ...


"Apa maksudmu?"


"Boleh aku tebak?"


"Apa?"


"Sebagai sahabatmu, aku sangat paham dirimu. Tatapanmu pada Vina berbeda".


"Tak ada yang berbeda. Aku hanya kasihan padanya yang kuperlakukan salah".


"Kenapa kau tidak menikahinya sebagai tanggung jawabmu!" Gunawan mulai emosi.


"Kupikir dia akan memaksaku menikahinya" nada sesal pun terdengar.


"Sudah berapa lama kau mengenalnya?"


"Sekitar tujuh bulanan"


"Bagaimana dia?"


"Baik, ramah, ulet, pekerja keras entahlah."


"Kenapa kau bisa berbuat itu jika kau menyukainya?"


"Aku tidak tau, tak ada jawaban untuk hal itu".


"Waktumu enam hari untuk merobek surat perjanjian ini. Berjuanglah sebelum terlambat dan menyesal" dengus kesal Gunawan lalu pergi meninggalkan sahabat sekaligus client nya.


Flashback off


Indra POV


"Kemana dia? Rumahnya tampak sepi" gumam Indra yang memarkirkan mobilnya tak jauh dari Rumah Vina.


"Aku tak menyangka perubahan pada dirinya setelah malam itu" sesal Indra.


Indra terus menunggu diparkiran memantau penghuni rumah cat putih. Berharap penghuninya pulang.


Cukup lama Indra menunggu, hingga Indra pun menyalakan mobilnya untuk beranjak dari sana. Terlihat dari kejauhan sosok Vina berjalan pulang. Dilihatnya jam tangannya, waktu sudah pukul 9 malam.


"Aku menyukaimu Vin" kalimat yang tak pernah disampaikan pada Indra ke Vina.


"Kupikir kau akan memintaku bertanggung jawab atas perbuatanku. Ternyata aku salah" sesal Indra pada dirinya sendiri.


Indra meraih hp nya, menghubungi nomor Vina. Berharap akan diangkat.


"Hallo Vina ..."

__ADS_1


"Ya dengan Vina, siapa ini?"


"Ini Bossmu Indra"


"Ada apa menelpon?"


"Kuingin bertanya, apa surat penjanjian itu, kau inginkan?"


"Bukankah sudah kutandatangani?"


"Iya, tapi apa kau tak keberatan?"


"Tidak"


Indra terkesiap mendengar jawaban diluar perkiraannya.


"Apakah kutawarkan pernikahan?" gumamnya.


"Kau tak memintaku bertanggung jawab tuk menikahimu?"


" ............... Bagaimana aku memintamu menikahiku, sedangkan aku tak ingin melihatmu lagi, aku benci padamu ... Aku membencimu?"


Panggilanpun terputus.


Untuk menelpon kembali, Indra tak berani.


Indra menyalakan mobilnya kembali. Dan pergi dari tempat itu. \=\=\=


Aku kembali ke mejaku setelah makan siang. Kulupa kalau Indra menyuruh ke ruangannya setelah jam makan siang. Kulirik ruangannya, memastikan dia ada didalam.


"Hen, pak Indra ada gak?" tanyaku pada sekretarisnya.


"Ada, dia tadi pesan kalo lu dateng langsung masuk aja. Emangnya ada apa?" selidik Heni kepo.


"He .. he .. he ... Mau tauk aja" selorohnya.


Kudatangi ruangannya. Mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.


"Duduklah ..."


"Ini surat mutasi yang kau inginkan. Kusudah memenuhi yang kau inginkan" nada kesal jelas terbaca.


Aku mengambilnya dan membuka amplop itu. Terlihat kop surat dan kalimat judul "Surat Mutasi". Tertera tiga hari lagi kupindah ke kantor cabang.


Akupun memasukkan lembaran kertas itu ke amplop.


"Terima kasih pak ..." akupun tersenyum puas. Dan pamit keluar.


"Vin ..." panggilan itu menghentikan langkahku. Aku menoleh padanya.


"Kamu yakin pindah?"


"Sangat yakin pak" dan kubergegas keluar dari ruangannya kembali ke mejaku. Dan melanjutkan pekerjaanku. Aku tidak ingin meninggalkan hutang kerjaan.


.


.


Akhirnya selesai juga. Kulirik jam ditangaku, waktu pulang sudah tiba. Segera kubereskan mejaku. Karena mulai besok aku dapat cuti kerja persiapan pindah ke cabang.


Kutunggu kurir online yang sudah kupesan tuk membawa barang-barangku ke alamat tujuan tetanggaku. Kemudian taksi online menuju ke pantai tempatku terbiasa menyendiri.


Kuturunkan kaca mobil dan menarik nafas dalam-dalam sesaat setelah memasuki kawasan laut.


Kusuruh supir berhenti, aku pun turun dan membayarnya.


"Kuingin kelapa muda" bisikku semangat. Kudatangi kios kelapa muda, memesannya dan mencari tempat duduk yang nyaman.


Sambil menunggu, kubuka hpku. Sibuk dengan chat aplikasi. Kuambil sebatang rokok menyalakan dan menghisapnya, sambil asik dengan chatingan.


"Rasa rokok ini koq gak enak" kubuang rokok yang baru beberapa hisapan. Kuminum kelapa muda yang sudah ada di mejaku.


Kupandangi kejauhan laut yang mulai diterangi lampu kota.


"Vina ..." kudengar ada yang memanggilku, suaranya tidak asing bagiku. Akupun menoleh. Dengan tatapan keheranan.

__ADS_1


"Kenapa bisa ketemu disini" bisikku dalam hati.


Dia langsung duduk tanpa diminta. Aku hanya memperhatikan gerakannya.


"Apa kau mengikutiku? Mematai-mataiku?" tanyaku asal


"Maaf"


Aku terperanjat mendengar ucapannya.


"Pak ... Keputusan saya sudah bulat. Saya ikuti semua isi perjanjian yang pak Indra buat. Saya hanya menambahkan pasalnya" dia tampak terkejut dengan kalimat ketegasan yang kuutarakan.


Dia pun terdiam memandangku. Ada raut kesedihan di wajahnya tapi aku tak peduli.


Kuambil lagi sebatang rokok untuk menghilangkan grogi dan emosiku.


Indra tau aku merokok. Kuhisap dengan dalam dan menghembuskannya.


Kami pun saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Kubuang lagi rokokku, yang rasanya aneh. Kuhabiskan kelapa mudaku dengan cepat. Kuingin pergi ke dermaga buatan yang menjorok ke laut. Merasakan anginnya.


Indra terkejut melihatku bangkit dan berjalan cepat ke arah dermaga. Dia mengikuti dari belakang, karena aku tak menyahut saat dia memanggil-manggilku.


Kududuk diujung dermaga, menghadap lamgsung ke laut. Memandangi lampu kota yang mulai ramai. Laut yang gelap begitu damai,  mewakili kegelapan hatiku.


"Vina ..." suara itu membuyarkan pikiranku.


"Apa ..."


"Tak bisakah kau urungkan kepindahanmu?"


"Tidak"


"Kenapa tidak? Apa karena aku?"


Aku berdiri dan mencorongkan tanganku menghadap laut sambil teriak.


"Indraaaaa kau ********".


"Aku sangat membencimuuu".


"Aku tak ingin melihatmu lagiiii".


Seketika ada pelukan dari belakang. Aku terkejut, tapi kudiamkan. Aku tak peduli lagi.


Seseorang yang membunuh jiwaku, memelukku erat dari belakang, keningnya bersandar dibahuku. Bisa kudengar suara tangisannya.


"Vina ..." bisiknya ditelingaku, nafas hangatnya menyentuh telingaku dan tengkuk leherku.


"Bisakah pak Indra diam? Dan menikmati saja pemandangan malam disini" ucapku memotong kalimatnya.


Diapun diam dan tetap dengan posisinya. Aku sudah tak peduli.


Kugeser tangannya saat pelukannya menyakitkan, dia hanya merenggangkannya dan tidak melepaskan.


Cukup lama dia memelukku, rasanya tidak akan dia lepas. Ada sedikit rasa nyaman diperlakukan demikian.


Aku sadar butuh seseorang untuk memelukku dan bersandar disaat kuterpuruk. Tapi bukan Indra.


"Apa dia pikir gua bakal terjun dari sini" pikirku dalam hati.


Kupaksa melepaskan tangannya.


"Pak, saya mau pulang. Sudah malam" kataku beralasan.


"Kita makan malam bareng. Anggaplah salam perpisahan"


"Baiklah"


Dia menggenggam tanganku, menarikku menuju restoran seafood.


.


Sambil makan dia menjelaskan soal kantor cabang yang akan kutempati. Kuhanya mendengarkan ucapan seorang boss yang profesional. Menghilangkan urusan pribadi antara kami.


Setelah makan, Indra mengantarkanku pulang. Dia memarkirkan mobil di dekat rumahku. Mengantarku ke rumah. Ada perasaan takut menghantuiku, tapi kutepis. Kubuka pintu rumah dan hendak masuk. Indra memanggilku dengan lembut. Aku menoleh dan menunggu kalimatnya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menemaniku makan malam. Jika kau ingin kembali, beritahu aku. Aku akan segera mengabulkannya" ucapnya yang kemudian mencium keningku dengan hangat. \=\=\=


__ADS_2