
silakan memberikan saran dan kritik. sebagai perbaikan dalam penulisan. author akui, novel ini butuh konsentrasi dan imajinasi dalam membacanya. ###
Dibantu kedua ART, aku merapikan toko garasi ku, dan mencatat kembali belanjaan yang tadi baru saja kubeli.
Sesekali melayani konsumen yang sekedar melihat atau sekalian beli.
Aku menambah jenis daganganku dengan sprei resleting dan bad cover.
Untuk permulaan aku hanya membeli 5 stok. Aku ingin mengembangkan toko ku, hingga aku bisa memiliki bangunan toko sendiri.
Saat sore Alang sudah sampai rumah ditemani soulmate-nya, Iwan. Keduanya bergegas masuk, Iwan tampak membawa dokumen lebih banyak dari yang biasanya.
Gazebo di taman belakang jadi tempat mereka menyelesaikan pekerjaan. Mungkin karena terpisah dari rumah utama, jadi lebih tenang kalau disana.
Aku pergi membersihkan diriku sebelum kemalaman, lalu membantu menyiapkan makan malam di meja makan.
Kulihat keduanya masih sibuk serius berkutat dengan dokumen dan laptop.
Kuambil hape, dan menelpon Alang.
"Kamu dimana beb?" tanya Alang heran karena aku menelponnya.
"Di rumah"
"Kok nelpon? Nggak dateng kesini aja"
"Takut ganggu"
"Emangnya ada apa?"
"Kalian nggak laper?"
"Oooo, ya sudah kami kesana" lalu panggilan dimatikan. Kulihat keduanya kembali menuju rumah utama. Lalu duduk di meja makan, kuambilkan nasi untuk Alang dan diriku.
"Lang" panggilku membuka obrolan.
"Hemmm"
"Iwan tinggal disini aja, kan ada 2 kamar kosong diatas" kataku singkat.
Iwan yang mendengar hal itu terbatuk-batuk lalu mengambil air minum disampingnya.
"Kenapa mikir begitu?" tanya Alang padaku.
"Daripada dia mondar mandir, apa nggak capek?" sambil mengunyah makanku.
Kami menyelesaikan makan tanpa menuntaskan obrolan tadi.
Mereka kembali ke Gazebo dan melanjutkan pekerjaannya.
"Apa aku salah mengatakan hal itu" pikirku. "Sudahlah, setidaknya aku sudah mengatakannya" kuberjalan ke kamarku, menyalakan tv sambil bermain hape.
Sekitar 2 jam kemudian Alang sudah menemaniku dikamar. Menaiki ranjang dan merangkul bahuku.
"Beb, tadi kenapa kamu nyuruh Iwan tinggal disini?" sambil ku melingkarkan tanganku dipinggangnya.
"Kan sudah kubilang, daripada mondar mandir. Kalau perlu ajak juga istrinya" celetukku, Alang hanya tertawa mendengarnya.
"Dia belum menikah" sambil mencubit hidungku, aku hanya mendengus kecil.
"Lalu? Apa dia mau tinggal disini?"
"Dia akan pikirkan hal itu" sambil menoleh melihatku. "Kemarin aku menyuruhnya menempati apartement kita, kamu malah nyuruh disini. Dia jadi bingung siapa yang harus dia ikutin"
"Kenapa kamu nyuruh dia tinggal di apartement?"
"Daripada kosong, lebih baik ditinggalin. Lalu bagaimana dengan toko mu?"
"Syukurlah, lancar. Kenapa?"
"Jangan dipaksakan kalo capek, ingat debay yang ada didalam perut" sambil mengelus perutku.
__ADS_1
"Iyaaa, kalo capek aku istirahat. Ada bi Mun dan bi Sri yang bantu"
"Vitamin dan susu sudah diminum?"
"Sudah dari tadi, sehabis makan langsung minum"
"Beb"
"Hemmm"
"Minggu depan aku dan Iwan pergi ke kota Caera. Ada urusan di kantor pusat. Mungkin selama seminggu" jelasnya
"Jangan lupa mampir ketempat abangku ya?" pintaku.
"Iya, aku akan mampir setelah sampai dan akan pulang" sambil memelukku hangat.
Akupun tertidur dalam pelukannya.
\=\=\=
Kuterbangun mencari sosoknya yang tidak terlihat disampingku, "Apa Alang sudah bangun" pikirku, kulihat sudah jam 6 pagi lewat.
Bergegas kubersihkan diriku, bersiap membuka toko. Alang menghampiriku dan memelukku hangat, "kau buka toko hari ini?"
"Iya, karena kemarin aku baru saja belanja koleksi yang baru juga jenis baru. Aku mencoba jual seprei, mungkin ada pangsa pasarnya disini" ujarku.
"Kau sudah sarapan?"
"Ini baru mau menyipkan sarapan, sebentar ya, aku ambilkan dulu" ku bergegas menuju dapur dan menghampiri ART ku.
"Bi, untuk sarapan sudah jadi?"
"Sudah nyah" sahut bi Sri sambil mengambil mangkuk besar berisi nasi goreng dan menuju pintu samping ruang makan, aku mengikuti dengan membawa telur ceplok.
"Nyah" panggil bi Sri padaku.
"Ada apa bi?"
"Nanti setelah sarapan, buat catatan apa yang mau dibelanjakan, nanti uangnya saya kasih. Kalian harus sarapan sebelum jalan". Jelasku pada bi Sri.
"Iya nyah, kami baru mau sarapan"
"Ya sudah, lanjutkan sarapannya"
Bi Sri pun bergegas kembali ke dapur untuk sarapan.
Kulihat Alang menghampiriku dan bertanya "Ada apa? Kayaknya kalian serius banget" tanya Alang penasaran.
"Bi Sri tadi cuma bilang, kalau nanti mau belanja, itu doang" sambil menyendok nasi goreng ke piring Alang, lalu untukku.
.
.
Setelah kami sarapan, aku langsung ke kamar mengambil duit untuk belanja dapur.
"Beb" panggil Alang padaku
"Ada apa?"
"Hari ini nggak usah buka toko, besok aku sudah pergi ke luar kota. Hari ini aku ingin berduaan aja sama kamu beb".
"Kamu kan bisa temenin saya di toko" sambil ku berlalu menuju dapur.
"Bi mana catatannya?" setibaku di dapur
"Ini nyah" menyerahkan catatan belanjaan padaku. Kuteliti apa yang mau dibeli dan mengingatkan apa yang perlu ditambahkan.
"Oh iya bi, hari ini toko tutup aja. Hari ini tolong bikinin sop jamur ya bi" pintaku malu.
"Iya nyah, nanti bibi bikinkan" sahut bi Mun.
__ADS_1
"Ini duitnya, kalian hati-hati dijalan" sambil kuserahkan yang tadi sudah kusiapkan.
"Kami berangkat dulu nyah" pamit keduanya padaku.
Aku mengantar sampai depan pagar, dan kembali masuk mencari Alang yang sedang bermalas-malasan di ranjang.
"Mending kamu telpon Iwan, suruh kesini temenin kamu" ucapku asal.
"Dia kan juga butuh istirahat beb" sambil berjalan menghampiriku, menutup pintu dan mendesakku sampai ke tembok.
"Mandi bareng yuk. Aku mau mandiin kamu beb" ujarnya berbisik ditelingaku sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Tadi udah mandi, keseringan mandi nanti masuk angin".
Tanpa peduli omonganku, Alang langsung mengangkat dan membawaku ke kamar mandi.
"Kamu kenapa sih Lang? Aneh banget deh" tanyaku padanya sambil menepis tangannya yang mulai melepas pakaianku.
"Apa kamu nggak kangen?" sambil terkekeh malu.
"Kagaaaak" celetukku
"Ya udah, aku aja yang kangen" sambil memegang tanganku untuk ikut masuk bathtub bersamanya.
Aku membelakanginya karena dia membersihkan punggungku, sesekali mendaratkan ciuman di bahuku.
"Besok jam berapa kamu jalan?" tanyaku soal perjalannya ke luar kota.
"Berangkat seperti biasa. Kamu jangan kangen aku dulu yaaaa" ujarnya percaya diri sambil meremas dadaku.
"Yang tadi bilang kangen siapa yaaaa" balasku menyindirnya.
"Aku selalu kangen kamu dan debay" sambil mengusap perutku dan beralih ke bagian intiku. Seketika seperti ada aliran listrik menjalari tubuhku. Secara refleks aku menengadahkan kepalaku, Alang yang menyadarinya langsung mendaratkan ciumannya dengan lembut.
Ciumannya semakin dalam, memainkan lidahku cukup lama hingga nafasku tak beraturan.
.
Kusemakin bersandar di dadanya sambil melingkarkan tanganku.
"Alaaang" desahku halus sebelum akhirnya ku mencapai pelepasan dengan nafas terengah-engah.
Alang mencium bahuku sambil memelukku dari belakang.
"Aku kangen kamu saat begini beb" bisiknya ditelingaku lalu menciumi kepalaku.
Aku hanya tersenyum memejamkan mata, mencoba mengatur nafas dan jantungku yang berpacu cepat.
"Alang" panggilku lembut
"Hemmm. Kenapa?" tanyanya padaku. Sambil menggeser tubuhku menghadapnya.
"Gak pa-pa"
"Mau lagi?" godanya padaku, aku hanya tertawa.
"Nggak" ucapku singkat.
"Lagi juga nggak apa-apa kok" aku langsung menutup mulutnya. Ucapannya kadang membuatku malu.
Alang melepaskan tanganku yang menutupi mulutnya. Sambil menatapku dalam.
"Udahan yuk, nanti kamu masuk angin" katanya lembut. Lalu mengangkat ku keluar kamar. Merebahkanku di kasur. Sambil terus menatapku.
"Kenapa sih ngeliatinnya begitu?"
"Ngeliatin kamu tuh nggak ngebosenin, semakin dilihat semakin menarik" jelasnya padaku.
Diambilnya pakaian untukku, dan memakaikan. Aku menepisnya, melingkarkan tanganku di lehernya. Tubuh kami menyatu terasa panas, lalu aku menciumi dadanya dan turun.
\=\=\=
__ADS_1
makasih atas semua saran dan kritiknya.