
Aku tersadar di ruang perawatan kelas 1 Rumah Sakit kota Santania.
Kulihat Laila disampingku yang tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke ranjangku.
"Laaa..." bisikku.
Mungkin Laila letih menungguiku, aku ingin ke toilet. Ku bergeser dengan pelan, krn tubuhku terasa masih lemah. Pelan-pelan kuberanjak dari ranjang rumah sakit, berjalan menuju toilet.
Begitu ku kembali ke ranjang, Laila sedang mengusap-usap matanya.
"Lu sudah bangun beb..." tanyanya.
"Iya, gua baru dari toilet" jawabku.
Laila membantu naik ranjang, merapikan bantal dan selimutku.
"Gua kenapa disini?" tanyaku penasaran.
"Lu tadi jatoh pingsan di toko" ujarnya.
Laila mendekati wajah ku, meneliti dan menatap tajam mataku.
"Mulai detik ini, lu nggak gua ijinin ke toko lagi..!! Biar gua sama Dita yang urus. Lu dirumah gua, jaga kesehatan dan pikirin baby lu aja..!" terdengar kecemasan pada setiap ucapannya.
Kuhanya mengangguk, tak ingin membuatnya semakin mencemaskanku.
"Sudah berapa lama gua nggak sadar?" kubertanya pada Laila yang kemudian melihat jam di tangannya.
"Udah 12 jam, sekarang dini hari. Lu istirahat lagi, sekitar 3 jam lagi perawat pasti dateng meriksa lu" sambil mengusap kepalaku.
Melihat aku bergeser berbaring, Laila membantu menggeser bantal untukku. Lalu kembali menarik bangku dan memangku wajahnya ditepi ranjangku.
Kucoba memejamkan mata, mengingat-ingat hal terakhir.
"La..." panggilku.
"Hmmm apa Vin"
"Hape gua mana?"
"Tiduuur nggak usah liat hape lagi" sungutnya masih berbaring di ranjang.
"Bentar, ada yang mau gua liat" pintaku memelas. Laila bangkit dan mengeluarkan hape ku dari tas nya.
"Gua lanjut tidur ya? Capek banget" ijinnya padaku. Aku hanya tersenyum mengangguk.
Kubuka kunci password di hape ku.
Tujuanku untuk melihat medsos.
Kuberbaring memunggungi Laila, saat ku terisak melihat medsos yang diposting Alang.
Alang juga mengirimkan pesan yang sering hanya kubaca.
📩 : Vin, lu ngambek sama gua ya?
📩 : Vin, ketemuan yuk. Kangen gua sama lu.
📩 : Gua sayang sama lu Vin. Cinta banget malah.
📩 : Jangan ngambek lama-lama beb, tersiksa gua.
⬜ Delete all
"Hmmmm..."
Aku merindukannya, tapi ku takut merespon tindakannya. Aku tak ingin merusak hubungannya dengan Tara.
Aku sadar hubunganku dan Alang karena masalah yang kuhadapi.
Alang hanya ingin menolongku.
📨 : Gua nggak ngambek, kita nggak usah ketemuan, nggak usah bilang sayang-sayang segala.
☑ Pesan terkirim
Kubalas semua pesannya dengan singkat dan jelas, dalam 1 kalimat.
\=\=\=
Alang POV
__ADS_1
Kuterbangun mendengar nada pesan masuk, sekitar pukul 1 pagi.
Dengan menahan kantuk kubaca isinya.
01:13
📨 : Gua nggak ngambek, kita nggak usah ketemuan, nggak usah bilang sayang-sayang segala.
Kutersenyum membacanya, dadaku berdebar-debar.
01:15
📨 : Emang gua sayang sama elu kok. Makanya gua kangen banget.
01:16
📩 : Nggak usah gombal deh, malu sama umur.
Aku terkekeh membaca balasannya.
01:17
📨 : Kan lebih enak sama yang umurnya lebih tua. Lu bisa manja-manja. Dipeluk biar nggak ngambek lagi.
01:20
📩: Enak ya kalo dipeluk, terus mangku pacar di ruang meeting. Terus ciuman, dunia jadi kayak milik berdua.
01:22
📨 : Enakan sama kamu beb. Meluk kamu, manjain kamu dan debay.
Mataku menggenang mengungkapkan isi hatiku.
01:24
📨 : Jam segini kok belom tidur? Jaga kesehatan kamu dan debay. Bentar lagi kamu lahiran, bisa lihat debay terus denger nangisnya debay.
01:27
📨 : Beb, aku telfon ya?
01:35
Sudah beberapa pesan ku kirim, hanya dibaca. Mungkin Vina mengantuk.
Akupun melanjutkan tidurku kembali.
\=\=\=
Alang membalas pesan yang kukirim.
Ternyata dia masih bangun, pasti sibuk dengan laptopnya.
Kubalas pesannya kembali dengan menyindirnya.
.
.
Kumenahan tangis saat dia menulis memikirkan anakku. Aku tak bisa membalas pesannya dengan kata-kata seperti apa lagi.
Beberapa saat ku hanya melihat postingannya.
Aku sangat merindukannya.
\=\=\=
Alang POV
Kuterbangun kesiangan dan memeriksa hapeku, berharap ada pesan masuk dari Vina.
Setelah membersihkan diriku dan sarapan, kumelihat Iwan yang juga sudah bersiap ke kantor.
Selama perjalanan ku hanya membaca ulang pesan Vina padaku.
Mampir ke kantor menandatangani Berita Acara Pekerjaan yang sudah rampung. Setelahnya aku dan Iwan pergi ke Santania. Mendatangi Vina untuk menjemputnya. Rasanya tidak sabar.
Perjalanan memakan waktu 4 jam, setibanya di toko sudah jam 3 sore.
Semua mundur dari perkiraanku, karena aku terlambat bangun.
__ADS_1
Aku dan Iwan langsung masuk toko, disambut karyawan disana yang menyapa dengan sopan.
"Selamat sore pak, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya saat kami memasuki pintu toko.
Aku dan Iwan melihat sekeliling, kuberharap melihat Vina dan dia berlari memelukku. Sungguh hayalanku ingin dia tidak ngambek lagi padaku.
Iwan membalas ucapan pegawai toko, "Saya yang kemarin pesan beberapa kodi pakaian, bisa bertemu dengan pemilik toko?" tanya Iwan lugas.
"Ibu lagi di rumah sakit" jawabnya singkat. Aku terkejut mendengarnya.
"RS mana?" tanyaku cepat.
"RS. Santania pak".
Aku pun bergegas keluar diikuti Iwan.
Jantungku berdegup kencang, khawatir terjadi apa² dengan Vina.
Setelah mengetahui ruangan rawat inap Vina, aku langsung bergegas kesana. Sampailah aku didepan pintunya. Dengan menarik nafas untuk menenangkan diri.
Kubuka pintu dan melihat-lihat, ada 2 pasien diruangan ini. Setelah merasa tidak mengenali pasien yang sedang ditemani keluarganya. Kudatangi ranjang satunya.
"Cari siapa pak?" dengan nada pelan.
"Vina" bisikku
"Siapa ya? Kayaknya pernah lihat?"
"Saya Alang Asmadi"
"Oooo iya, teman medsosnya. Tapi Vina baru saja istirahat" jelasnya padaku.
"Boleh saya tunggu?"
"Tunggu diluar ya, nggak enak kalo ruangan penuh. Kalo Vina bangun saya panggil" katanya memohon.
Aku dan Iwan akhirnya keluar ruangan. Setelah memastikan pasien yang sedang tertidur adalah Vina.
"Wan, urus pindahan ruang inapnya. Masukkan VVIP" perintahku singkat.
Iwan menuju bagian administrasi dan kumenunggu dibangku bagian ruang tunggu, yang berjarak beberapa meter.
Kurang dari 2 jam Vina dipindahkan keruang VVIP setelah mengurus ketersediaan ruang VVIP yang kosong dan kelengkapan adminstrasi.
Teman Vina menghampiriku yang masih didepan pintu kamar VVIPnya.
"Maaf pak, rasanya anda lancang memindahkan teman saya tanpa bertanya pada saya..!" kesalnya padaku.
Tampak Iwan kesal mendengar ucapannya, aku maju selangkah agar Iwan tidak memancing emosi.
"Maaf... nama Ibu?" sambil menjulurkan tanganku.
"Laila, saya Laila".
"Maaf bu Laila, saya sudah lancang. Saya hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anak saya" jawabku menjelaskan statusku.
Laila terkejut mendengar statusku, "Tampaknya Vina tidak bercerita apa-apa tentangku" bisikku.
Aku menunggui Vina disamping ranjangnya, menggenggam tangannya sesekali mengelus perut dan pipinya. Aku ingin dia terbangun dan melihat aku disini memenuhi janjiku.
Tapi dia tampak masih terlelap dengan tenang.
Laila gemas dengan ulahku yang seakan menggangu Vina.
"Bisa nggak sih duduk manis di sofa sana. Jangan pegang-pegang pasien yang lagi istirahat" tegurnya padaku.
"Nggak bisa pindah, tangannya udah nempel karena kangen banget lama nggak ketemu" candaku membalas tegurannya.
Wajahnya terlihat kesal padaku, aku hanya tersenyum dan mengajaknya ikut ke sofa.
Aku membuka obrolan setelah duduk bersama.
"Panggil saya Alang, saya juga akan memanggil dengan nama Laila" sambil menaikkan kedua alisku.
"Kenapa istri saya sampai masuk RS?"
"Dia pingsan, karena terlalu lelah bekerja di toko" ucapannya menekankan kata bekerja.
"Aku sudah melarangnya, tapi sangat keras kepala. Aku khawatir padanya makanya ku memarahinya".
"Akan kubawa dia pulang, bantu aku merayunya. Dia sangat keras kepala. Membuat keputusan tanpa mendengar penjelasanku" pintaku.
__ADS_1
Laila hanya mengangguk setuju.
\=\=\=