
Alang dengan wajah merah padam menatapku tajam.
"Kalo lu mau gua nikahin, robek nih surat" Alang melempar dokumen ke meja hingga berantakan.
Seketika air mataku berlinang.
"Jangan bentak-bentak dong" kataku sambil menangis sesenggukkan.
Aku sangat terkejut melihat reaksinya. Dia yang biasanya easy going, dan saling ejek denganku, berubah 180° membuatku takut.
Dia menghampiriku, dan memelukku "Shhhh ... maap. Udah jangan nangis. Shhh"
Tangisku malah semakin menjadi.
"Gua cium atau diem" ancamnya.
Seketika aku terdiam, dia masih menepuk-nepuk punggungku, menuntunku untuk duduk.
"Koq kayak gua yang tamu" bisik hatiku.
"Lu minta gua nikahin lu artinya kepercayaan lu ada di pundak gua. Gak perlu juga lu pusingin yang lain-lain. Fokus aja sama janin lu"
"Gua gak mau jadi beban lu nantinya. Ini gua bikin sebagai reminder buat gua juga" kuungkap alasannya.
"Gini ya... Biar gua yang urus surat-surat ke KUA. Siapin aja data lu, pasti nanti ada lampiran numpang nikah. Kita nikah di kota tempat lu kerja. Biar lu gak mondar mandir. Jangan keras kepala ngebantah gua mulu"
"Iya..."
"Gak usah lu ngerasa gak enakan. Kalo ngerasa gak enakan harusnya dari awal" sambil melirikku.
Ku tundukkan wajahku yang memerah malu. Kupaham maksudnya.
Aku mendongakkan kepalaku saat Alang bangkit, dengan memasukkan tangannya ke saku celana jeans nya.
"Besok gua anter lu. Sekalian cari kontrakan deket kantor lu. Lapor diri ke RT dan sekalian basa-basi soal nikah ini"
Ku hanya diam, membiarkan dia yang atur. Takut diomelin lagi.
"Jam berapa besok jalan?"
"Jam 8 pagi"
"Ya udah, jam 7 gua sampe sini. Sekalian bikinin gua sarapan"
"Gua gak bisa masak" balasku cepat.
"Pokok nya ada sarapan. Mau bikin sendiri atau beli"
"Iya..."
"Ya udah, gua balik dulu. Lu langsung istirahat"
Akupun mengantarnya hanya sampai depan pintu.
"Hati-hati ya..." kataku
"Pake cium kening gak nih?" tanya Alang dengan candanya.
"Kagak" sambil kututup pintu.
Akupun mematikan lampu ruang tamu dan menuju kamar. Kurebahkan tubuhku, memeluk guling dan menarik selimutku.
"Akhirnya masalah gua ada solusinya. Moga semua lancar tanpa halangan" do'a ku dalam hati.
\=\=\=
Alang POV
"Menikahi Vina..." kutarik nafas dengan panjang.
"Sebenarnya siapa laki-laki yang tega begitu sama lu?" kumemikirkan banyak hal yang masih dirahasiakan Vina.
"Gampang buat gua cari tau, tapi gua takut juga kalo sampai tau. Gimana reaksi gua"
"Apa Vina bisa lupain tuh laki-laki kalo nikah sama gua. Apa tuh laki-laki nggak nyari Vina lagi"
"Kenapa harus begini jalannya..."
Ada sedikit gundah dihatiku.
\=\=\=\=
Jam 5 pagi kuterbangun. Memasak air panas mandi.
Kuperiksa lagi bawaanku agar tidak ada yang tertinggal.
"Semua beres"
Terngiang ucapan Alang soal sarapan. Segera kupergi mandi. Dalam 30 menit kusudah rapi.
"Dia udah bangun belum ya"
"Beli sarapan dulu baru telpon atau telpon dulu baru beli" aku bingung sendiri.
__ADS_1
Kutekan panggilan keluar dengan nama Alang.
"Kenapa Vin...?" sahutnya dengan suara serak.
"Jadi anter gak?"
"Iya, jadi. Ini baru bangun"
"Ya udah mandi sono. Gua beli sarapan dulu" kututup telpon tanpa mendengar jawabannya.
"Bubur ayam aja deh. Sekalian kue buat ngemil di jalan"
\=\=\=
Alang sudah sampai di rumahku, sebelum aku balik dari belanja sarapan.
Wajahnya kusut melihatku.
"Kenapa bete?" tanyaku
"Kirain udah jalan. Gua ditinggal"
"Yeee, katanya mau sarapan. Nih gua beli bubur ayam" sambil kutunjukkan bungkusannya.
Kubuka pintu dan mempersilakan Alang masuk.
"Silakan masuk calon suami" cengirku padanya.
"Jangan godain gua deh"
"Diiih kenapa sensi banget sih." sambil kutuang bubur ayam ke mangkok yang sudah kusiapkan di meja.
"Mau disuapin juga?" candaku ke Alang.
"Vin ... jangan goda gua. Lu paham gak sih?"
"Perasaan gua yang bunting kenapa lu yang sensitif sih" sungutku kesal.
\=\=
Alang POV.
"Nih orang polos banget apa ****"
"Dari semalem gua nahan diri gua yang cuma berduaan. Sekarang malah mancing-mancing"
"Rasanya mau gua terkam. Gua bopong ke kamar, gua peluk. Pokoknya segala ke mesuman di otak gua"
"Sengkek dah, panas otak gua"
\=\=\=
"Mau kemana Lang?" saat kulihat Alang berdiri.
"Kamar mandi. Jangan bilang lu mau nemenin apalagi megangin" kekeh Alang.
"Gilaaaa" sahutku asal.
Kulanjutkan sarapan buburku. Tak berapa lama Alangpun kembali.
"Lu nyemplung bak mandi? Kenapa basah semua tuh rambut"
"Vin... Lu bisa diem gak. Serius gua"
"Iyaaa" sahutku cepat.
"Apa Alang terpaksa nikahin gua" kataku dalam hati sambil meliriknya.
Selesai sarapan Alang mengangkat mangkuk bekas kami makan bubur ke dapur.
"Bawa masuk ke mobil semua yang mau dibawa. Jangan lupa obat apa aja, susu ibu hamil juga" teriaknya dari arah dapur.
"Kenapa ngomong teriak-teriak" gerutuku malu, waktu dia bilang susu ibu hamil.
Akupun pergi ke kamar. Mengangkat travel bag. Tiba-tiba tangan Alang merampas koperku.
"Gua lupa orang hamil nggak boleh angkat yang berat-berat" selorohnya.
"Nyonya Alang duduk manis di mobil aja yaaa" sambil mencium keningku.
Dadaku berdebar kencang, darahku berdesir. Kuberlari keluar untuk menutupi raut malu di wajahku.
Kami pun berangkat menuju luar kota setelah menitipkan kunci rumah ke tetanggaku.
Aku membayar tetanggaku untuk mengurus rumahku.
Ku menoleh ke Alang ketika dia tiba-tiba menggenggam tanganku.
"Jangan terlalu capek, jaga kesehatan, istirahat teratur. Biar calon suami lu ini nggak kuatir"
Kutautkan jariku ke telapak tangannya. Sambil tersenyum memandangnya.
Dia tersipu malu.
__ADS_1
Gua juga nahan malu, dia udah bikin gua malu berkali-kali. Gua bales.
\=\=\=
Alang membangunkanku dari tidur lelapku. Kulirik jam di tanganku.
Sudah 3 jam lamanya perjalanan. Aku celingukan tanda keheranan.
"Makan siang dulu. Gua udah laper. Sarapan bubur ayam mana kenyang" gerutunya sambil membuka pintu mobil untukku.
Akupun melangkah turun dengan sigap.
"Lu bisa lebih feminim nggak sih?" tegur Alang didepanku
"Lu yang gerak gua yang ngilu liatnya" omelnya padaku.
"Perasaan masih biasa aja. Gak kerasa apa-apa" sambil mengelus perutku yang masih rata.
"Udah berapa minggu tuh baby"
"Gak tau."
"Astaga. Kenapa lu gak tau. Katanya udah ke dokter. Jangan-jangan lu modus doang ke gua" tatapnya sinis.
"Gua buktiin tiga bulan lagi. Buncit kagak nih perut"
"Kalo perut lu nggak buncit selama tiga bulan lagi gimana?"
"Lu talak gua" sambilku berkacak pinggang
"Nih cewek kalo ngomong sembarangan mulu yaaaa" jarinya menoyor keningku.
Kutepiskan jarinya di keningku.
"Mo ngajak ribut apa ngajak makan?"
Sambilku menengok rumah makan tempat Alang memarkir mobilnya.
Aku langsung menggelayut ditangannya, masuk ke dalam rumah makan tersebut
"Gua jadi lapar, ribut sama lu buang banyak energi" sambil memanyunkan bibirku.
"Baru gua ajak ribut aja energi lu udah habis, apalagi yang laen" sambil terkekeh melihatku.
"Hemmmmm" ku malas berdebat lagi. Bawel kayak emak-emak nawar belanjaan di pasar.
Sepintas kuingat saat kumemesan makanan kemarin. Aroma nasi membuatku mabok.
Alang menyenggol lenganku.
"Kenapa bengong. Mau makan apa?"
"Jus Alpukat aja deh. Masih kenyang"
"Gak boleh. Harus makan nasi" omelnya lagi.
Pelayanpun sudah menunggu pesanan kami.
"Jus Alpukat 1, ayam bakar 2, es teh 1" kata Alang sambil menatapku tanda kode bertanya.
Aku hanya mengangguk setuju.
"Habis makan ke Rumah Sakit ya? Cek usia kandungan. Apa aja pantangan makan buat bumil." ceramahnya padaku.
"Lang... Gua blom cari kontrakan. Lu mau gua tidur depan toko orang pake kardus" omelku padanya.
Diapun tertawa terbahak-bahak menjadikan kami pusat perhatian satu rumah makan!
"Bisa gak sih lu berhenti ketawa" pintaku
Dia berhenti tertawa, namun tertawa lagi. Sampai keluar air mata.
Pelayanpun datang, membawakan pesanan kami.
"Makan dulu, nanti gua kasih tau"
Mendadak perutku bergolak, rasa mual datang lagi.
Aku berlari keluar dekat saluran air, sambil berjongkok mengeluarkan desakan diperutku.
Alang yang sudah berada dibelakangku mengurut-urut leher ku.
"Kenapa lagi?"
"Gua benci bau nasi. Bikin mual"
"Nggak ngomong tadi" sesalnya karena memaksaku.
"Bawa minyak angin atau aroma yang tajam gak?" kulihat raut wajah yang kuatir.
"Ada di dalam tas"
.
__ADS_1
makasih atas komentarnya, kritik dan saran.
😊 amatiran yang menyalurkan hobi