Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.11 Jangan Bertanya Hal Yang Akan Menyakitimu


__ADS_3

(Bab.10-akhir)


"Ekhem ... Bisa bicara dengan pak Alang? Ini dari kantornya"


"Sebentar ya ..."


Makasih buat reader yang udah sabar, ngasih komen, like, vote dan share nya.***


Kulihat dia sudah terbangun, dan memperhatikan sikapku dengan penasaran.


"Dari kantor mu" ucapku sambil menyerahkannya telpon.


Diraihnya hape dari tanganku dan berbicara.


"Bagaimana?"


"...."


"Awasi terus. Jika ada perkembangan, laporkan segera"


"...."


Dia pun menaruh telpon yang sudah terputus. Memandangku dengan senyuman.


"Mau kemana? Aku masih ngantuk" sambil berbaring kembali.


"Kau istirahat lagi saja, aku harus mengantar keluarga ku ke bandara. Sarapanmu sudah diantar. Aku akan sarapan di bawah bersama keluargaku" kudaratkan ciuman di pipinya dan berlalu pergi.


Kutemui keluargaku di restoran hotel, kami sarapan bersama. Keceriaan ini sangat kunikmati. Tawaku tak lepas dari bibirku.


Kecupan di pucuk kepalaku mengejutkanku. Ternyata suamiku menyusul. Aku pun mengajaknya duduk disebelahku.


Suasana semakin ramai, ada saja candaan terlontar dari mulutnya.


\=\=\=\=


Setelah makan siang diluar, Kami langsung kembali ke apartement setelah mengantar keluargaku. Barang-barangku di hotel sudah ada yang antar dan menyusunnya kembali.


Suamiku merangkul ku di sofa ruang keluarga.


"Kamu bahagia Sayang" ku memandang sambil memeriksa keningnya.


"Lu sakit?"


"Nggak. Kenapa?"


"Manggil gua Sayang. Merinding gua dengernya"


Dia langsung membalikkan posisiku, kini dia berada diatas tubuhku dengan menopang pada tangannya agar tidak mengenai perutku.


"Udah SAAAH... jadi kuingin memanggilmu sesuai kata hatiku" sambil menatapku dalam.


"Rasanya bagai mimpi kau ada didepanku saat ini" dia mencium bibirku dengan lembut, aku membalas ciumannya.


Kami menikmati setiap gerakan permainan ini, menarik dan menggigitnya dengan lembut.


"Apa kau menyukai ciumanku?" ucapnya tanpa melepas bibirnya di bibirku.


"Hemmmm" jawabku. Senyumnya yang mengulas terasa di bibir ku.


Dia menggedongku ke kamar utama. Membaringkanku dengan hati-hati. Melanjutkan ciuman di sofa.


Tangannya bergerilya melepas pakaian yang kukenakan, melemparnya entah kemana. Kupejamkan mataku dengan rapat.


"Kenapa merem? Malu?" sambil menarik selimut tuk menutupi tubuhku yang sebagian sudah terlihat jelas.


Permainannya semakin dalam membuaiku, bermain di dalam mulut menyentuh lidahku dengan begitu lembut.


Menuntunku melingkarkan tanganku dilehernya, mengangkat sedikit tubuhku untuk memberi ruang gerak tangannya melepas pengait bra ku.


Perlahan menelusuri leherku, memberi kecupan basah dibeberapa bagian.


"Laaang"


"Heemm"


"Jangan kasih tanda merah di leher" pintaku.


"Tempat lain boleh?"


"Boleh"


Rangkulanku semakin erat, saat lidahnya menjelajahi leher dan telingaku.


Ku tidak menyadari diriku yang melenguh. Ketika jarinya menjepit ujung di dadaku.


Tanganku memegang bahunya erat.


Nafas kami semakin berpacu, saat wajahnya berada di dadaku. Lidahnya basah menelusuri lekukannya menggitnya dengan lembut, membuatku menggeliat.


Dia kembali mencium bibirku dengan lembut. Mengecup keningku lama sembari memelukku erat.


Kemudian membelai keningku dengan tatapan hangatnya.


Menyandarkan tubuhnya ke ranjang, menarikku perlahan ke dalam pelukannya.


"Sudah sore, kita mandi bareng ya?"


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa berhenti?"


"Karna kuingin mandi bareng"


Kembali memelukku dengan erat.


Dia beranjak ke kamar mandi, menyiapkan air hangat di bathtub untuk kami mandi.


Dengan hanya mengenakan kimono handuk keluar dari kamar mandi, membawakan kimono handuk untukku dan memakaikannya, lalu membopong tubuhku.

__ADS_1


Menurunkanku di bathtub.


Kami berdua sudah berendam tanpa sehelai benangpun.


Menggosok punggungku perlahan. Memijatnya lembut sesekali mencium bahuku.


Ku bersandar di dadanya. Tangannya mengelus perutku.


"Lang"


"Hemmmm"


"Apa kau menyayangi nya?" sambil menaruh tanganku diatas tangannya.


"Bagaimana aku tidak menyayanginya, jika dia yang menyatukan kita?"


"Tapi dia bukan darah dagingmu"


"Ada bagian dirimu yang dimilikinya"


Dadaku terasa sesak mendengar ucapannya. Aku pun terisak tak sanggup membendung tangisku.


"Ku ingin melihat dan membesarkan part of you" pelukannya semakin erat membenamkan wajahnya di pundakku.


"Jaga dia untukku. Kalian sudah menjadi dunia ku" kubalikkan tubuhku memeluknya dan menangis keras.


"A.. Aku ..." tangisku sesenggukan membuatku tak mampu bicara.


"Shhhh ... I Love You Babe" dia membiarkanku memuaskan tangisan yang selama ini kusimpan. Menjawab keresahanku, ke khawatiranku.


"Tunggu nanti debay lahir yaaaa"


Ku anggukan kepalaku, tanda ku memahami maksudnya.


"Apaan?" godanya padaku.


"Jatah" tawanya pun mengisi ruangan.


"Kenapa tadi mancing-mancing?"


"Aku kan masih normal babe" gelaknya tertawa bahagia.


"Kalau tingkahku seperti tadi, harap maklum. Apa aku sudah mengecewakanmu?"


"Nggak"


"Yakin?"


"Iya. Yakin"


Kembali dia menggosok tubuhku dan membersihkan diri bersama.


Kami keluar bersamaan dengan kimono yang melekat.


Kusiapkan baju santai nya, dan kukenakan pakaianku. Dia menghampiriku dan mendekapku.


"Gak malu lagi kan?"


Tawanya memecah suasana kamar utama.


"Mau makan malam dimana?" tanyanya padaku.


"Terserah"


"Seafood, kita makan di tempat. Gimana?"


"Boleh"


"Biar debay pinter harus rajin makan ikan" sambil mengelus perutku.


Aku memandangnya lekat. Mencari kejujuran dari raut wajah didepanku.


"Yuk kita jalan" sambil membalas pandanganku.


Kami pun pergi ke pantai Dyvette. Setibanya disana kami jalan-jalan menikmati kawasan pantai tersebut.


Alang menggenggam tanganku selama berada disini. Seakan-akan aku akan menghilang.


"Kamu pernah kesini Vin?" tanya-nya padaku.


"Pernah"


"Berapa kali?"


"Sekali"


"Kapan?"


"Sebelum kita menikah"


"Sama siapa?"


"Apa kamu sedang mengintrogasiku?" sambil memandangnya.


"Hanya penasaran. Kenapa kamu nggak ajak aku"


"Bukan hal yang penting" kumelangkah lagi. Dia mengikuti dibelakangku.


Lama kami saling diam.


Sebenarnya aku tak ingin membahas yang terjadi saat itu.


"Apa kau menemui ayah dari anakmu"


Deg...


Aku pun tertawa gundah dan kecewa.


"Ya. Dia mengajakku menikah dan pergi dari sini" sambil kupandangi langit senja dibatas laut.


Genggaman tangannya begitu kuat memegangku.

__ADS_1


Kulanjutkan bicaraku.


"Apa kau akan terus bertanya hal yang akan menyakitimu?"


Lama kami terdiam, tidak ada jawaban darinya.


Kucorongkan tanganku ke mulutku.


Dan berteriak.


"Aku lapaaaarrrr..." dia tertawa dan menggamit tanganku menuju resto di sekitar pantai.


Kami menikmati makan malam dengan menu udang saus padang, ikan bakar dan cah kangkung. Nafsu makanku sangat besar. Dengan menambah porsi cumi bakar.


Kami pun pulang, karena udara sekitar pantai sudah mulai dingin.


Dibukanya pintu mobil aku duduk dan dipasangkan seatbelt.


Dia mencium perutku lama.


Selama perjalanan, sesekali dia menepikan mobil karena menerima panggilan telpon.


Ku hanya menguping apa yang dibicarakan. Tapi tetap saja aku tak mengerti.


Sesampainya di apartement dia langsung ke kamarnya. Ku duduk diruang keluarga menonton tv.


Kadang terdengar kalau dia bicara ditelpon dengan seseorang.


Dia menghampiriku setelah menyelesaikan pembicaraan ditelpon.


Aku dipangkunya, melingkarkan tangannya dan menyandarkan dagunya di bahuku.


"Mau bulan madu?" tanyanya kemudian.


Aku hanya tertawa.


"Nggak mau ya?" nadanya kecewa.


"Nggak usah bulan madu segala. Apa kamu lagi cari madu? Sama aku kan gak ada jatah" cetusku menyindirnya. Bahuku digigitnya


"Sakiiiittt" keluhku.


"Gemes, kalo ditanya ada aja balasannya" aku hanya tertawa mendengarnya.


"Kita pindah dari apartement ya? Kita beli rumah" tanyanya padaku.


"Beli dimana?"


"Kamu mau rumah yang seperti apa?"


"Yang simple dengan halaman luas"


"Besok aku cari"


"Jangan buru-buru. Siapin dulu duitnya" sergahku mengingatkannya.


"Kantorku yang bayar"


"Woooow, baek banget kantornya" celetukku tanda tak percaya.


"Laaang... Apartement ini kantormu juga yang bayar?"


"Iyaaaa"


"Kalo begitu, tunggu habis kontrak apartement baru kita pindah"


"Nggak gitu. Kalo kita pindah ke rumah, nanti apartement ini pegawai lain yang tempati"


"Ooooo ..."


"Jadi gimana?"


"Tunggu bulan depan ya. Aku masih harus memikirkan hal lain"


"Ok."


\=\=\=


Alang POV


Akhir-akhir ini, bagiku terasa mencekam. Banyak hal yang harus kulakukan secara diam-diam.


Semua untuk melindungi istriku. Aku tak ingin ada yang meresahkan dan mengganggu pikirannya.


Sebagai asistenku, Iwan bekerja memuaskan. Hal yang detail didapatnya.


Aku bisa memainkan langkah antisipasi dari banyak hal.


"Ada apa Wan?"


" ... "


"Laki-laki itu masih berusaha untuk mendapatkan Vina?" tanyaku terkejut sesaat mendengar laporan Iwan di seberang telpon.


" ... "


"Apa kau masih menyimpan Paspor Vina? Sewaktu-waktu kita bisa ke LN"


"...."


"Aku akan coba cara lain. Terus kau awasi gerak-geriknya. Laporkan jika ada yang mencurigakan...".


"Ada laporan yang lain?"


"...."


"Kalau begitu, beri penawaran tertinggi"


"...."


\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2