
Makasih buat reader yang udah sabar, ngasih komen, like, vote dan share nya. 🙏🙏🙏
Ku menelusuri tepi pantai. Membuat jejak kaki diatas hamparan pasir pantai.
"Andai Alang punya waktu, kami disini sekarang. Membuat apapun dengan pasir"
Dengan sebatang kayu, ku menggambar pemandangan. Lalu hilang ditelan ombak. Kubuat lagi gambar lainnya, hilang lagi.
"Asik juga main pasir" gumamku tersenyum. Setelah bosan, akupun ke tempat yang aku suka, dermaga buatan. Disana aku merasa berdiri disinggasana dan melihat laut sebagai kekuasaanku.
Ku langsung duduk ditanggulnya, dan melihat batu yang dihempas ombak, ada kepiting yang berlarian juga yang berkelompok. Angin laut mengacak-acak rambutku. Membuat rambutku modelnya nggak jelas, berantakan.
Kuambil lagi foto selfieku di dermaga.
Denga laut menjadi latar belakangnya.
Segera ku kirim ke medsos.
Sudah bisa kubayangkan apa komentar teman-teman medsosku.
Kulihat ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Gambar apa ini?" pikirku. Sengaja aku mengatur pesan tidak otomatis download. Kubaca captionnya.
Kemesraan kebersamaan untuk selamanya
Setelah di download
"Aakhhh" seketika tanganku menutup mulutku. Rasa mual membuncah hingga terbatuk-batuk, tanganku bergetar.
"Kau sibuk dengannya" bisikku sambil berlinang air mata. Telponku terjatuh bersamaan dengan tubuhku yang limbung jatuh dari dermaga.
\=\=\=
Alang POV
Aku masih berkutat dengan semua dokumen pengalihan perusahaan. Perusahaan Desi yang dikuasai mantan suaminya lebih sulit dari yang kukira.
"Tuan" Iwan memanggilku
"Ada apa lagi" kataku kesal masih dengan membaca dokumen dimejaku.
"Pengawal tidak dapat menemukan nyonya di pantai Dyvette" tampak wajah kecemasan.
"Selama tiga jam pergi, dan tidak menemukan Vina?" ucapku sinis.
Kutelpon Vina untuk menanyakan keberadaannya. Berkali-kali kuhubungi telponnya diluar jangkauan atau tidak aktif.
"Apa-apaan ini..!" geramku memukul meja.
"Kerahkan semua divisi pengawalan, cari sampai ketemu..!!" perintahku.
"Vina kalau ngambek selalu mematikan telpon, kebiasaan buruk" gerutuku kesal. Mengacak-acak rambutku, kepalaku semakin pusing memikirkan semua masalah.
"Wan, kau urus disini. Aku akan pergi mencarinya." sambil merapikan jas ku
Aku keluar kantor sambil memakai jas ku kembali.
\=\=\=
Di RS. Dyvette
Seseorang membawa tubuh yang ditemukan tergeletak ditepi karang pantai ke ruang IGD RS. Dyvette. Tampak ketakutan menyelimuti wajahnya.
Pihak RS langsung menangani dan meminta mengisi data pasien. Namun nalayan itu tidak mengenal siapa orang yang dia tolong. Terpaksa dia membuat data palsu.
Nama : Marina Kesuma
Usia : 24 tahun
Kelahiran : kota Dyvette, 16 Agustus 19**
Ayah : Kesuma Wiharjo
__ADS_1
Pekerjaan : nelayan
Ibu : Sri Siti Ningsih
Pekerjaan : IRT
Setelah menyerahkan data pasien, dia menunggu dengan cemas. Waktu seakan berjalan sangat lama.
"Pak Kesuma" panggil perawat padanya.
"Saya bu suster"
"Bapak keluarga pasien?"
"I.. Iya bu suster, saya bapaknya"
"Kondisi pasien sudah ditangani, bayinya juga baik-baik saja. Anak bapak sedang diruang perawatan"
Pak Kesuma terduduk lemas, mendengar wanita yang dia tolong sedang berbadan dua.
Suster terkejut dan langsung memapahnya ke bangku.
"Apa bapak baik-baik saja?" tanya suster dengan cemas.
"I.. Iya bu suster, saya baik-baik saja. Kapan saya bisa menemui anak saya?" tanya pak Kesuma.
"Sekarang juga sudah bisa, tapi anak bapak belum sadarkan diri." jelas suster ke pak Kesuma.
"Saya mau melihatnya bu suster"
"Ikut saya pak, akan saya antar bapak"
Pak Kesuma mengikuti suster menuju ruangan perawatan kelas biasa.
"Anak bapak di bangsal pinggir dekat jendela. Saya masih ada tugas... bapak saya tinggal dulu" sambil menunjuk bangsal yang dituju.
"Terima kasih bu suster" kata pak Kesuma. \=\=\=
Aku membuka mataku, merasa asing pada tempat ini. Entah dimana ini, tapi aroma obat begitu kencang.
Kulihat seseorang mendatangiku, dengan sumringah menatapku haru.
"Bapak siapa?" tanyaku
"Saya menemukanmu tergeletak di dekat dermaga pantai Dyvette" jelas bapak tua itu.
"Nama saya Kesuma Wiharjo" katanya memperkenalkan diri.
"Saya Vina Putri" sambil ku ulurkan tanganku.
Bapak itu menyambut uluran tangan Vina.
"Mbak Vina, anu... ummm" ucapnya ragu.
"Kenapa pak? Ada apa?"
"Saya bilang ke RS kalau mbak Vina anak saya, namanya Marina Kesuma" jelasnya padaku.
"Gak apa-apa pak, makasih udah nolong saya" kataku sambil tersenyum.
"Dan Panggil saja saya Vina jangan pake mbak".
Obrolan mereka terhenti ketika dokter dan suster mendatangi Vina.
"Bagaimana perasaan anda bu Marina?" tanya dokter sembari melihat rekam medis Vina.
"Saya baik dokter"
"Begitu ya" sambil menyenter mata dan detak jantung Vina dengan stetoskop
"Bayi saya gimana dok?" tanyaku cemas.
"Kondisi bayi ibu baik"
Aku merasa lega mendengarnya.
__ADS_1
"Kapan saya sudah boleh keluar?"
"Nanti juga sudah bisa. Tinggal urus adminstrasinya"
"Terima kasih dok" ucapku.
"Terima kasih pak dokter" kata pak Kesuma yang sedari tadi masih disana.
"Berapa lama saya tidak sadar pak?" tanyaku setelah dokter dan suster meninggalkan kami.
"Dua hari" ucapnya.
"Saya tinggal sebentar ya?"
"Iya pak, silakan"
Pak Kesuma bergegas pergi. Ke bagian adminstrasi. Membayar semua biaya perawatan Vina, dengan menjual perahunya.
Kedua keluar dari RS tersebut. Pak Kesuma mengajak Vina makan dulu.
"Neng Vina mau pulang kemana? Biar saya antar". Kekhawatiran terlihat jelas.
Vina berpikir, kemana dia akan pulang. Rumahnya sudah dijual, dan rumah yang dibelinya sertifikatnya belum dia pegang.
"Entahlah pak, saya tidak punya tempat pulang" sambil menahan tangisannya.
"Ke rumah saya saja, ke tempat saya" tawar pak Kesuma
"Saya tidak ingin merepotkan bapak lagi, terima kasih"
"Nggak merepotkan, saya juga tinggal sendirian, anak dan istri saya sudah meninggal"
"Terima kasih pak" akupun mengiyakan.
Setelah menyelesaikan makan sambil ngobrol, keduanya pergi ke rumah pak Kesuma.
"Ini kamar neng Vina, bekas kamar anak saya, maaf kalau keadaannya kurang berkenan" sambil menundukkan kepala.
"Gak apa-apa pak, yang penting saya ada tempat untuk berteduh.
"Ya sudah, istirahat neng Vina istirahat saja, saya mau berlayar lagi, nggak enak sama boss" pamit pak Kesuma.
"Iya pak, makasih" akupun berjalan ke dalam kamar, mengingat sebab apa yang terjadi. \=\=\=
Hari sudah siang, pak Kesuma baru balik dari melaut.
Kami makan apa adanya, Vina tidak pernah mengeluhkan keadaannya sekarang.
"Neng Vina, ini barang kepunyaan neng Vina" sambil menyerahkan hape dalam keadaan mati.
"Ohhh iya, makasih ya pak, saya pikir hilang"
Vina pun meletakkannya, dan melanjutkan makan.
Keduanya duduk pada dipan depan rumah yang menghadap laut. Vina membuka hape nya, dan mematahkan kartu telponnya.
Pak Kesuma yang melihatnya tidak mengerti.
"Neng Vina, itu gimana make nya, kok dirusak" sambil menunjuk ke hp.
"Oooo, ini karena kartu saya sudah tidak saya pakai lagi. Dan menyalakannya harus diisi batre dulu"
"Bagaimana caranya?"
"Ini ada kabel listriknya, dan kartu yang baru. Setelah itu bisa berfungsi" jelas Vina.
"Oooo begitu"
"Ya sudah, saya istirahat dulu, nanti malam saya harus melaut lagi. Neng Vina juga istirahat, biar bayinya sehat" kata pak Kesuma menasihati.
"Iya pak, nanti saya istirahat. Saya masih ingin menikmati pemandangan laut dari sini" kata Vina.
Pak Kesuma pun beranjak pergi.
Vina memandang takjub laut didepannya, dengan biru dan kilauan terpaan cahaya.
__ADS_1
"Indah sekali".
\=\=\=