Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.22 Kamu Kenapa ?


__ADS_3

makasih atas kesabarannya. jangan lupa ninggalin jejak komen dan like. makasih juga vote nya, jadi penyemangat. ###


Aku sudah mempersiapkan pakaian keperluan Alang pergi ke luar kota.


Setelah sarapan dia akan langsung berangkat ke kantor pusat karena ada urusan yang penting.


"Wan" kataku memecah keheningan di meja makan.


"Iya nyonya"


"Kamu sudah pertimbangkan untuk tinggal disini?" terlihat Alang melirikku.


"Belum nyonya. Mungkin setelah kembali dari kota Caera saya baru ambil keputusan" jelasnya padaku.


"Baiklah" kataku menutup pembicaraanku.


Setelahnya kami pun beranjak dari meja makan. Semua keperluan mereka sudah dimasukkan ke dalam mobil.


"Kalian hati-hati di jalan yaaa" kataku mengingatkan.


"Kau juga baik-baik di rumah. Jaga kesehatan, karena sudah mulai musim hujan" lalu memeluk dan mencium pucuk kepalaku.


Iwan mengikuti Alang, membukakan pintu untuknya lalu memutar ke posisi pengemudi. Akupun melambaikan tangan melepas kepergiannya.


Setelah kepergian Alang, rutinas membuka toko kembali berjalan.


\=\=\=


Selama Alang di luar kota, komunikasi mereka tetap terjaga, ada pertengkaran salah paham, candaan, rayuan mewarnai LDR yang terjadi.


Tidak merasakan jarak yang jauh antara kami.


"Kapan kembali?" tanyaku padanya.


"Udah kangen yaaaa. Baru 4 hari ditinggal" godanya padaku.


"Gak boleh kangen?"


"Boleh banget beb, malah aku suka"


"Bisa dipercepat nggak sih urusan kamu. Biar cepet juga pulangnya" pintaku


"Ini lagi diusahakan. Aku, Iwan dan staff lainnya kadang harus lembur di kantor. Kamu yang sabar ya..."


"Ya sudah lah kalau begitu. Kamu jaga kesehatan disana"


"Kamu juga jangan lupa periksa debay. Debay udah 5 bulan, kamu pasti gampang capek" Alang mengingatkan.


"Baru kemaren periksa, semua kondisi baik dan sehat"


"Ya sudah, aku lanjut kerjaan dulu. Luv you beb"


"Me too"


Tak terasa, sudah 4 hari Alang di luar kota. Biasanya ada teman mengobrol sebelum tidur, dan tempatku bermanja-manja sekarang tidak ada. Aku merasa kehilangan.


\=\=\=


Alang POV


"Wan, udah berapa persen kerjaan kita?"


"Sudah 80% tuan, seperti prediksi kita. Kemungkinan lusa kita sudah balik"


"Bisa kamu yang teruskan?"


"Baik tuan"


"Vina sudah nggak betah ditinggal lama-lama" aku tersenyum bangga.


Kami pun melanjutkan pekerjaan kami.


\=\=\=


Alang mengabari kalau hari ini akan pulang. Siang dia sudah sampai dirumah, begitu pesannya. Aku gugup menunggunya. Ada rasa malu karena bilang kangen.


Jantungku berdebar-debar tidak menentu, menanti dia datang. Harusnya dia sudah sampai, karena berjanji akan sampai siang ini.


Berkali-kali kuhubungi nomor hape nya, tapi tidak tersambung. Mungkin dia lupa mengisi batrenya.


Aku merasa kesal karena tak bisa menghubunginya, kesal pada teledornya. Kesal karena membuatku menunggu, kesal karena dia tidak menghubungiku.

__ADS_1


Aku terkejut saat hape ku berdering, "Iwan? Bukankah Alang pulang sendiri?" pikirku dalam hati.


"Hallo Wan, ada apa?"


"Tuan Alang kecelakaan diperbatasan kota, saya baru mendapatkan kabarnya" seketika hape ku terjatuh. Aku limbung, lemas seluruh tubuhku. Perasaan kesalku berubah menjadi sesal dan sedih.


Aku mendengar suara Iwan memanggil-manggilku, tapi volumenya begitu jauh.


"Aku masih disini Wan" suaraku bergetar sambil mengambi hape ku, dan mendekatkan ketelingaku kembali.


"Saya sedang menuju ke Rumah Sakit tempat tuan dirawat, setelah mengetahui keadaan tuan, saya akan menghubungi nyonya kembali"


"Saya akan menyusul saja Wan. Kabari dimana RS nya".


" Nanti saya kabari nyonya setelah saya sampai"


"Baiklah Wan, terima kasih" aku menutup panggilan dengan tangan gemetar.


"Biiiii..." panggil ku. Tapi suaraku tak terdengar.


"Bibiiii" teriakku lebih kencang.


"Iya nyaaaah" sambil berlari saat melihatku terduduk dilantai.


"Bangunkan aku bi" pintaku


"Iya nyaaaah" bi Mun mengangkat ku pelan-pelan, lalu mendudukkan ku di kursi. Terlihat wajahnya cemas padaku.


"Minta tolong ambil minum bi"


Bi Mun langsung bergegas mengambilkan ku minum lalu memberikan padaku.


Masih dengan gemetaran aku menerimanya dengan kedua tanganku.


"Bi, tolong bantu saya kemasi baju kedalam tas yang ada di dalam lemari" bi Mun langsung mengerjakan yang kuminta.


Aku bersandar pada sofa mencoba menenangkan hati dan pikiranku. Membuang jauh pikiran yang negatif.


Bi Mun sudah menyiapkan tas yang berisi pakaianku dan meletakkan disampingku. Aku menunggu Iwan menghubungiku.


Sudah 2 jam aku menunggu, Iwan baru mengabariku.


"RS nya dimana Wan" ku langsung bertanya.


"Keadaannya?"


"Belum sadarkan diri" terdengar suara Iwan yang tercekat dan serak.


"Aku langsung ke RS" ujarku singkat dan mematikan panggilan telpon.


Lewat aplikasi aku memesan mobil travel. Aku ingin yang cepat sampai.


.


.


Sesampainya aku di RS, aku langsung mengabari Iwan


Menanyakan kamar Alang dirawat.


Secepatnya aku berlari, walau ada yang menegurku untuk tidak berisik, aku hanya bilang "maaf" dan berlari lagi.


"Wan... Bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku setelah bertemu Iwan.


"Masih belum sadarkan diri nyonya"


"Bisa aku bertemu dengannya?"


"Bisa, setelah di ruang perawatan, saat ini dokter sedang melakukan MRI untuk menindaklanjuti tindakan berikutnya" jelas Iwan padaku.


Kami hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Aku tak ingin memikirkan hal yang buruk akan terjadi.


Satu jam aku menunggu dalam kecemasan, lalu Iwan mengabarkan kalau Alang sudah ada di ruang perawatan VVIP.


Aku melihat dan menghampirinya. Dia hanya tertidur pulas dengan perban dibeberapa bagian tubuhnya.


"Wan" panggilku pada Iwan yang berdiri diseberangku.


"Iya nyah"


"Apa kata dokter tentang kondisinya?"

__ADS_1


"Luka ringan, dan beberapa jahitan pada kepala, tangan, dan paha" jelas Iwan padaku.


Aku bersyukur hanya itu saja.


\=\=\=


Sudah 3 hari aku menungguinya bergantian dengan Iwan. Kabar baikpun datang, Iwan sudah sadarkan diri. Dari hotel tempatku menginap, aku bergegas ke RS, langsung menuju ruangannya.


Kubuka pintu kamarnya dan terlihat Alang sedang bercanda dengan Iwan.


Ku masuk dan langsung memeluknya erat.


"Alaaaaang" tangisanku tak dapat kubendung.


"Heeeii Vina..." sapanya padaku


"Mana yang sakit?" tanyaku cemas


"Nggak ada yang sakit, paling cuma luka kecil" jawabnya singkat.


"Saya permisi dulu sebentar tuan, nyonya" pamit Iwan menyela sapaan ku. Dan langsung bergegas keluar.


"Kau membuatku cemas, kenapa nggak hati-hati" lanjutku berbicara pada Alang.


"Kan udah gua bilang, gua baek-baek aja, cuma luka segini gak apa-apa" katanya sambil memperhatikanku.


"Vin... Lu lagi hamil?" tanya Alang tiba-tiba.


"Kenapa? Aneh liat gua hamil?" ketusku


"Lu kok nikah nggak ngundang-ngundang"


"Haaaaa... Lu ngigo yaaaa?"


"Udah hamil berapa bulan lu?"


"Jalan 6 bulan" jawabku pelan dan sedikit heran. Dia tau berapa usia kandunganku dan mempertanyakannya...!!?


"Tokcer juga suami lu" sambil tertawa terbahak-bahak


"Lu kenapa sih Lang, takut gua sama lu" kataku cemas.


"Takut kenapa? Wajar dong sohib lu nanya begitu..." aku terkejut mendengar ucapannya.


"Apa lu udah lupa kalo kita udah nikah?" Alang langsung tertawa terbahak-bahak lagi.


"Serius lu? Gua nikahin lu?" masih dengan tawanya.


"Lu kenapa siiiih Laaaang" ku menangis dan berlari keluar.


Aku menabrak Iwan yang hendak masuk ke kamar Alang.


Ada rasa sakit mendengar perkataannya. Bercandanya keterlaluan.


\=\=\=


Alang POV


Vina terlihat aneh dimataku. Kenapa jadi begitu perhatian.


Sempat aku terkejut mendengar perkataan Vina, kuanggap itu hanya candaannya saja.


Rasanya aneh kalo gua bisa nikah sama Vina. Walau gua suka sama dia, tapi dia sohib gua. Nggak mungkin, pasti aneh banget.


"Wan" panggilku pada Alang yang sudah kembali ke ruanganku.


"Ada apa tuan?" dia menghampiriku.


"Lu tau kalo gua nikahin Vina?" tanyaku


"Apa tuan lupa kalau kalian sudah menikah?" tanya Iwan cemas.


"Udah berapa lama gua nikah?"


"Sekitar 4 bulan tuan"


"Hemmmm, jadi aku menghamilinya duluan. Pantas saja aku menikahinya".


"Tuannn... Saya permisi sebentar tuan, saya harus memanggil dokter kemari" Iwan pun melangkah dengan cepat keluar dari ruangan itu.


\=\=\=

__ADS_1


author merasa gundah juga, duuuh gimana nantinya.


__ADS_2