
“Saya akan menuruti satu permintaan terakhir sebelum kamu mati.”
“A-apa saja?”
“Ya. Tapi tidak dengan kebebasan. Jadi, Jangan minta saya agar membebaskanmu.”
“Kalau begitu, izinkan aku tetap hidup.”
Samuel tersenyum miring. “Meskipun hidup dalam penderitaan?”
gadis itu mengangguk pasrah.
“Kamu yakin?” Tanya samuel memastikan.
“Ya… aku yakin.”
“Sesuai permintaanmu sayang.”
Samuel meraih sebuah cambukan dan melayangkannya ke punggung gadis tersebut.
CLETAK
“Arhhhh….” Ringis gadis itu kesakitan.
“Lebih keras!”
CLETAK
“AARHH…”
“Lebih keras, sayang!”
CLETAK
“AAAARGHKKKK…..”
Mendengar jerit kesakitan itu membuat Samuel puas. Baginya, dengan mendengar suara jerit para gadis dapat mengatasi masalah depresi dan stress.
Pria itu melempar cambukan ke sembarang tempat kemudian berjongkok di hadapannya.
“Saya baru saja membatalkan niat untuk membunuhmu.”
“Te-terimakasih, tuan.”
Samuel mengangguk kecil lalu menghapus air matanya dengan lembut.
“Bersediakah kamu hidup bersama saya, dan menerima cambukan setiap hari?”
“A-aku… aku.. bersedia hidup bersamamu. Meski mendapat cambukan… setiap hari.”
Samuel tersenyum. “Mulai hari ini, Kamu milik saya.”
__ADS_1
“Ya..” Gadis itu meneteskan air mata. Ia tak ada pilihan lain. Ia masih ingin hidup, meski harus menderita setiap hari.
•
•
•
2 hari kemudian…
Mansion pribadi kim samuel.
Pukul 03.00 dini hari.
“Bantu saya berpakaian.”
“Ya, tuan.”
Gadis itu segera mengambil satu set pakaian dari dalam lemari kemudian membantu samuel untuk mengenakannya.
“Oh ya, Siapa namamu?” Tanya pria itu.
“Zoya, zoyara lintang.”
“Jangan gunakan nama itu lagi. Mulai sekarang, namamu adalah michell.”
“Baik, tuan.”
“Y-ya.. sam.”
“Good girl.”
Gadis yang kini bernama Michell hanya tersenyum tipis.
Tugasnya sekarang adalah memasangkan dasi, setelah itu ia bisa pergi. Ia ingin cepat cepat menyelesaikan tugasnya. Karena Berdekatan dengan samuel membuat michell keringat dingin.
“Apa kamu pernah berciuman?”
DEG DEG DEG
Pertanyaan konyol macam apa itu?
“A-aku, belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.” Jawab michell gugup.
“Kamu mau mencobanya?”
“A-apa?” Gadis itu menelan ludahnya susah payah. Seolah tak percaya dengan apa yang samuel katakan.
“Ya atau tidak?”
Michell berfikir keras dan menyadari Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan!
__ADS_1
“Menolak sama saja mendatangkan musibah.”
“Jadi?”
“Aku mau mencobanya.”
Samuel tersenyum puas mendengar itu. Tanpa berlama lama, samuel langsung menarik michell mendekat. Bibir seksi dan merah itu membuat samuel tak tahan.
Ia mengecup lembut bibir michell yang sedari tadi menggodanya. Sedangkan michell hanya diam tanpa tau harus berbuat apa. Ia cuma bisa memejamkan kedua matanya.
Perlahan lahan, Kecupan lembut terganti dengan ******* ganas. Samuel semakin terbawa nafsu. Ia bahkan mulai meraba raba tubuh michell.
“Ahh..” Desah michell tanpa sengaja.
Samuel tersenyum di sela sela adegan panas itu.
Semakin lama, nafasnya terasa sesak. Dia kehabisan nafas dan samuel tak kunjung berhenti. Karena tak dapat menahannya lagi, michell terpaksa memberanikan diri untuk mendorong bahunya.
mau tak mau, samuel harus melepaskannya.
Michell langsung mengambil nafas dengan rakus. Dadanya naik turun karena itu.
“Bukannya kamu sudah berjanji untuk membiarkan aku hidup?!”
“Ya.”
“Lalu, kenapa kamu ingin membunuhku dengan membuatku mati kehabisan nafas?!” Protes michell dengan nada kesal.
“Saya tidak ada niatan untuk membunuhmu.”
“Buktinya apa?!”
“Buktinya kamu masih ada di sini. Dan Menatap saya dengan tajam seperti itu.”
“Kamu—!” Michell langsung menunduk malu.
“Saya berangkat sekarang.” Ucap samuel sembari mengenakan jam tangan rolex nya.
“Tetap disini sampai saya pulang nanti. Saya mau, kamu menjadi orang pertama yang menyambut kepulangan saya. Jangan sampai lupa, Atau-“
“Atau apa?”
“Atau kamu mendapat hukuman.”
“Hukuman seperti apa?”
Samuel tersenyum licik. “Hilangnya kesucianmu.”
“Hah-“ michell amat shock mendengar itu.
“Good bye, honey.” Samuel melangkah pergi, meninggalkan michell yang sedang mematung di tempat.
__ADS_1