
Tak terasa hari demi hari telah berlalu. Tiba saatnya untuk mereka berangkat menunju Moskow, Rusia.
Michell sudah siap dengan penampilannya. Dia sangat bersemangat. Terlihat raut bahagia di wajahnya.
Berbeda dengan samuel yang memasang ekspresi datarnya. Dia sudah biasa pulang-pergi keluar negri. Jadi, tidak ada yang menarik baginya.
Sedangkan julio sudah kerepotan sendiri. Dia sibuk membawa dua koper yang isinya berupa baju dan barang milik samuel dan Michell.
Mereka tiba di bandara pukul 10.00. Setengah jam lebih awal dari jam penerbangan.
“Nggak Michell sangka. Ternyata bandara sebesar ini ya..” batinnya sambil memandangi sekitar.
Ini kali pertama Michell menginjakkan kaki di sini. Sebelumnya tidak pernah.
“Kita mau sarapan di pesawat aja kali ya?” Tanya julio pada samuel.
“Gak. Disini aja.” Jawab samuel.
Julio terlihat sedang melirik jam tangannya. “Kayaknya nggak keburu. Kita cuma punya waktu 30 menit.”
“Emang kita makan selama itu? Huh?!”
Julio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “E-enggak sih. Tapi yasudah kalau begitu.”
“Kita makan di resto fast food.” Ucap samuel di balas anggukan dari julio.
Saat mereka ingin berjalan, tiba tiba samuel teringat sesuatu. Ia menoleh kebelakang dan melihat Michell yang sedang melihat lihat.
Samuel menghela nafasnya dengan kasar kemudian menghampiri Michell.
“Ngapain diem disini? Mau ilang?” Ketus samuel.
Michell menoleh. Dia hanya menatap samuel tanpa merespon. Toh, ia tidak tau harus jawab apa.
“Sini.” Samuel menggenggam jemari tangan Michell dengan erat lalu membawanya pergi bersama.
__ADS_1
“Duh, sakit. Pelan pelan dong” bisik Michell yang masih bisa terdengar olehnya.
Samuel hanya berdehem kencang. Ia sedikit melonggarkan genggaman tangannya.
“Kamu yang pesen.” Kata samuel setibanya mereka di tempat makan.
“Mau makan apa?” Julio bertanya.
“Terserah.” Sesudah menjawab itu, samuel langsung pergi, mencari tempat duduk yang kosong.
Julio hanya menggeleng geleng.
“Terserah” ia mengikuti gaya bicara samuel dengan nada meledek.
“Kayak cewe aja.” Cibirnya.
Mau tak mau, julio berjalan menuju kasir. Dia memesan makanan sekaligus membayarnya.
Tak lama, makanan yang ia pesan sudah jadi. Julio harus mengambil makanan itu sendiri di tempat ia memesan makanan tadi. Kemudian membawanya ke tempat duduk.
Michell mengerutkan dahinya. Dia melirik pakaiannya yang terlihat fine fine aja. Apa karena dia mengenakan pakaian santai, Seperti hoodie kebesaran ini?
“Emang kenapa? Bajunya bagus, nyaman juga.”
“Bukan masalah bajunya. Tapi-“
“Tapi seorang Kim samuel tidak suka dengan wanita yang memakai celana.” Potong julio yang baru saja datang.
Samuel langsung melirik julio dengan tajam.
“Hah? Tapi, celana ini longgar banget. Kayak lagi pake rok tau.” Kata Michell.
“Berani nge jawab? Lupa ya sama janji sendiri?” Tanya samuel dengan nada sinis.
“Iya iya.” Michell hanya bisa pasrah.
__ADS_1
“Hari ini, samuel sensi banget. Lagi pms kali ya?” Kata Michell dalam hati.
“Nih, makan yang banyak. Soalnya nanti di pesawat, makanan kerasa nggak enak di lidah.” Samuel menyodorkan makanan yang julio pesan tadi.
Michell mengangguk. “Mana pernah sih michell makan sedikit.”
“Oh ya? Liat aja nanti. Paling nggak di abisin.”
“OH YA? kalo ternyata Michell bisa ngabisin, gimana?” Michell menantang samuel.
“Buktiin aja dulu, kalo kamu bisa ngabisin itu.”
“Ok liat aja nanti. Michell pasti ngabisin ini semua. Cih!”
Sedangkan beberapa menit kemudian…
“Aduh, Michell nggak kuat lagi….” Michell menjauhkan piringnya dari hadapannya itu. Mendorong ke arah samuel yang ada di depannya.
“Abisin.”
Michell menggeleng tak berdaya. “Nggak, nggak. Michell nggak bisa ngabisin itu. Penyimpanan di Perut Michell terbatas. Nanti kalo meledak gimana?”
Diam diam samuel tersenyum melihat tingkah laku Michell yang sangat menggemaskan itu.
“Payah.” Samuel mengambil piring tersebut dan memakan sisa makanan Michell.
Julio melotot. Demi apapun ia terkejut. Kaget se kagetnya melihat itu. Seumur hidup dia tidak pernah melihat samuel memakan makanan bekas orang lain.
Bahkan makan dari satu sendok yang sama pun tidak pernah.
Tapi lihatlah. Dia makan begitu lahap.
Sesudah itu, samuel melirik jam tangannya. Hanya tersisa 10 menit lagi.
Mereka bertiga pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.
__ADS_1