Sweet Psycho

Sweet Psycho
28


__ADS_3

Saat Pukul 18.50 samuel baru kembali dari pertemuannya dengan seseorang. Ia masuk dengan santainya ke dalam kamar dan melihat sosok wanita yang sedang duduk lemas di atas kasur.


Samuel kaget melihat wajah Michell yang pucat. Dengan cepat, sam menghampirinya.


“Kamu Kenapa Michell?” Tanya samuel panik. Dia menyentuh dahi Michell namun langsung di tepis olehnya.


“Gak usah nanya nanya.!” Bentak Michell menahan tangis.


“Kenapa? Masih marah karena tadi pagi?”


Michell menggeleng dengan cepat.


“Terus kenapa?”


Rupanya manusia ini tidak menyadari perbuatannya.


“Kenapa Michell? Kamu sakit?” Tanya samuel kembali.


“Iya. Michell mau mati karena kamu.!” Jawab Michell dengan emosi.


Tak lama, ia menangis begitu saja. Bahkan ketika samuel mengelus rambutnya pun, Michell langsung menepis dengan kasar.


Lantas samuel pun kebingungan. Apa salahnya hingga Michell nangis seperti ini?


“Kenapa sih? Jelasin dong, aku nggak ngerti.” Tanya samuel dengan lembut.


“Hiks, kamu pergi dari pagi dan baru pulang pas langit udah gelap. Kamu sengaja bikin Michell mati kelaparan disini ya..!!” Ucap Michell.


“Astaga.!”


Demi apapun, samuel lupa.


“Kamu Kenapa nggak ke tempat kita sarapan tadi aja?”


“Michell mana tau. Kamu aja nggak bilang. Hiks.” Jawab Michell diikuti oleh cegukan.


“Lagian, Michell kan nggak ngerti bahasa Rusia. Nanti Michell harus bilang apa ke mereka? Huaaa” tangis Michell semakin pecah.


Samuel langsung menarik Michell ke dalam peluknya.

__ADS_1


“Kamu nggak tau kan, Michell berjuang hidup selama berjam jam di kamar ini. Kamu nggak tau rasanya nahan laper tanpa tau harus ngapain.” Curhatnya.


“Yaudah, sekarang kita makan ya. Michell mau makan apa?”


“Kamu minta maaf dulu kek, sama Michell. Michell hampir mati disini karena kamu tau!” Rengek Michell.


Satu hal yang Michell tidak tau. Samuel tidak pernah mengucapkan satu kata ringan tapi terasa berat di lidah. Ya, kata maaf.


Namun, karena seseorang itu adalah Michell, maka samuel pun, rela mengucapkan kata itu.


“Iya, maaf ya.”


Samuel menghapus air mata Michell dengan lembut.


Michell menatap pria itu dengan tatapan puppy eyes nya. Hal itu membuat samuel jadi salah tingkah sendiri.


“Michell nggak mau makan makanan Rusia.”


“Rasanya nggak enak” sambungnya.


Samuel mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iyaa, honey. Kamu mau makan apa? Pasti semuanya di turutin.”


“Eh?” Samuel tercengang mendengar itu.


“Masa itu? Yang lain dong.”


“Emang kenapa? Katanya kamu bakal nurutin apa yang mau Michell makan.!” Balas Michell.


Nah loh. Tuhkan. Salah sendiri ngomong gitu.


“Ya.. nggak gitu juga.”


Michell mengendus kesal. “Yaudah Michell makan mie aja.”


“Nggak! Cari penyakit aja.”


“Ish, Terus Michell harus makan apa?!!”


“Apa aja selain itu.”

__ADS_1


“Yaudah masakan oma!” Jawab Michell.


Samuel langsung menatap Michell dengan tajam. Jadi Michell sedang bermain main dengannya ya?


Michell yang mendapat tatapan maut dari samuel langsung menggeleng. “Ma-maksudnya makan…”


“Ahk, terserah kamu deh. Kamu aja yang milih, nanti Michell makan.” Tambahnya.


“Bilang dari tadi, buang buang waktu aja.!” Sinis samuel.


“Hehhh?” Michell hanya bisa bengong mendengar itu.


“Kamu tunggu disini. Biar aku yang beli.” Ucap samuel.


Saat hendak pergi, Michell langsung menarik tangannya. Hal tak terduga terjadi.


Samuel justru terjatuh dan menimpa tubuh Michell. Jarak antara mereka saat ini sangat berdekatan. Terdengar deru nafas satu sama lain. Posisinya, samuel berada di atas dan Michell di bawah.


Mereka hanya saling menatap beberapa saat. Sungguh, menyebalkan sekali berada di moment awkward seperti ini.


“Kenapa, hm? Kamu ngajak aku main?” Tanya samuel berbisik.


“Ma-main apa?” Tanya Michell balik. Sedetik kemudian barulah dia mengerti maksud kata ‘main’ tersebut.


Michell buru buru menggeleng. “Maaf, Michell nggak sengaja.”


Samuel tersenyum melihat ekspresi Michell yang sedang panik.


Kalau saja Michell sedang tidak membutuhkan makanan, beuh. Habis sudah, Michell di buat kelelahan.


“Terus, kenapa narik tangan segala?”


“I-iya. Tadinya Michell mau ikut.” Jawab Michell dengan nada pelan. Hampir tidak terdengar.


“Yaudah ayo.”


“Tapi sekarang enggak. Michell mau disini aja.”


“Hm.”

__ADS_1


__ADS_2