
Michell membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan matanya berkali kali. Kepalanya masih terasa pusing, tapi tidak separah sebelumnya.
“Michell butuh dibawa ke rumah sakit! Nyawa taruhannya.”
Michell menoleh saat mendengar suara teriakan julio dari luar.
“Tuh tau, nyawa taruhannya! Kalo kita ke rumah sakit ujung ujungnya diminta kartu pengenal diri. Kamu mau identitas kita kebongkar?!!” Balas samuel yang tidak kalah emosinya. Suaranya terdengar sangat kencang.
Sepertinya terjadi peperangan saat Michell masih tidak sadarkan diri.
“Bukan cuma aku, tapi kamu dan yang lain ikut dalam bahaya.” Tambahnya.
“Kamu lupa siapa dirimu yang sebenarnya? Kamu Kim samuel. Semua bisa kamu lakuin termasuk pemalsuan identitas diri!”
“Kamu pikir semudah itu hah? Kita ini di negara orang.” Bentak samuel kesal.
Julio terdiam selama beberapa detik.
“Semua ini nggak bakal terjadi kalo kamu nggak bawa Michell ke Rusia! Yang jelas jelas tempat ini berbahaya.”
“Kalo kamu beneran cinta sama Michell, kamu nggak akan mungkin ngebiarin dia disini.” Sambungnya.
“Kalo aku ngebiarin dia, aku nggak bakal mungkin bawa belasan dokter ke sini cuma buat nge rawat satu orang.”
“Nggak kaya kamu yang bisanya nyalahin keadaan. Egois! Kamu harusnya bisa mikir kedepannya kaya apa.” Tambahnya.
“Egois? Kamu yang lebih egois. Kamu udah ngejauhin Michell dari keluarganya dan sekarang kamu mau ngejauhin Michell dari tanah kelahirannya.” Jawab julio tak mau kalah.
“Itu cara terbaik agar Michell tidak bertemu dengan ayah. Tidakkah kamu sadar, ayah jauh lebih berbahaya dari pada aku. Belum lagi anak anaknya yang lain. Nanti Michell akan diperlakukan seperti apa disana?”
“Nikahkan saja. Itu cara terbaik selain membiarkan Michell menjadi adik angkat mu.”
__ADS_1
“Rupanya kamu ini belum sadar. Michell masih sekolah. Dia masih di bawah umur untuk menikah. Dia pasti akan menolak.”
“Jadi kamu akan terus disini? Sampai kapan? Sampai Michell cukup umur untuk menikah?” Tanya julio bertubi tubi.
“Kenapa Michell harus jadi adik angkat kamu?” Tanya Michell tiba tiba.
Kedua pria itu langsung menoleh ke belakang. Rupanya Michell mendengarkan perdebatan mereka sedari tadi.
“Michell, kamu udah sadar?” Tanya samuel sambil mendekatinya.
“Kamu harus ngejelasin semuanya ke Michell. Alasan kenapa Michell harus jadi adik angkat kamu, alasan kenapa Michell harus nikah sama kamu, dan alasan kenapa kita ada disini.”
“Michell…”
“Michell nggak mau tau! Pokoknya kamu harus ngejelasin semuanya. Dari awal sampai akhir!” Bentak Michell dengan matanya yang sudah berkaca kaca.
“Iya nanti aku jelasin. Sekarang kita masuk dulu ya.” Tanpa aba aba, samuel langsung menggendong Michell begitu saja.
Ia kembali di tidurkan di atas kasur. Dahinya disentuh oleh samuel.
“Masih pusing?” Tanya samuel.
“Hm.”
“Mau makan?” Tanya nya lagi.
“Ya.”
“Mau makan apa? Bubur?”
“Nggak.”
__ADS_1
“Terus mau apa?”
“Terserah.”
Samuel menyapu wajahnya dengan kasar. Dalam hatinya, “sabar.. sabar…”
“Nasi goreng ya? Mau?” Tanya samuel sekali lagi.
“Nggak.”
“Kamu nggak mau makan?”
“Mau.”
“Terus mau makan apa?”
“Terserah.”
Ahkkk, sesulit inikah menghadapi wanita.
“Michell…”
“Apasih?!”
“Ramen? Kamu mau makan ramen nggak?”
Michell menelan ludahnya dengan kasar. Ia ingin makan ramen. Ia sama sekali belum pernah makan ramen semenjak tinggal bersamanya.
Melihat reaksi Michell, membuat samuel tersenyum.
“Ok, ramen.”
__ADS_1