
Bagi samuel, membunuh bukan hal yang berat. seolah nyawa itu tak berharga. baginya, hidup seseorang itu adalah sebuah permainan yang menyenangkan.
membunuh, adalah sebuah hiburan kala ia bosan.
"ha ha ha ha" tawa samuel menggema di sebuah ruang gelap yang hanya diterangi oleh obor. matanya menatap seorang pria tua didepannya. kondisinya sangat memprihatinkan. tubuhnya sudah dipenuhi luka dan kemeja putihnya dikotori oleh darah.
samuel berjalan mendekati pria tersebut sambil memainkan pistol yang ada ditangannya.
"katakan. mau mati dengan cara apa?"
"tembak saja! tembak sekarang!!!" jawabnya sambil berteriak.
samuel mendesah kesal. dia paling benci ketika seseorang tidak ingin hidup lagi. padahal samuel ingin, pria itu memohon agar diberi kesempatan untuk hidup.
lantas samuel memiringkan kepalanya sambari menatap pistol kesayangannya itu. wajahnya terlihat sedang berfikir. "mm bagaimana ya? pistol ini tidak digunakan untuk membunuh."
"apa?" pria itu menatap samuel dengan tatapan benci.
samuel menoleh dan tersenyum. dia berjongkok dengan perlahan dan mengamati wajah pria itu. telihat banyak sekali kerutan.
"ingin tau sebuah rahasia?" tanya samuel.
"apa hah?!"
samuel mendekatkan bibirnya ke telinga pria tersebut. "seorang kim samuel, tidak pernah membunuh dengan pistol." bisiknya diikuti oleh senyum sumringah.
"sialan!"
rupanya, samuel tidak ingin dia mati begitu saja. samuel ingin dia mati perlahan dengan berbagai macam siksaan yang samuel berikan.
"ini akibat karena sudah berani mengkhianati saya." samuel mengeluarkan belatinnya dan menusuk pria itu berkali kali.
"AAAAHHHHKKKKKK!!! HENTIKAN!!!!"
...
adegan berganti saat samuel keluar dari mobilnya. jas hitamnya ia kibaskan kebelakang kemudian membenarkan kaca mata hitamnya.
__ADS_1
dengan angkuh dia berjalan masuk kedalam sebuah gedung tinggi milik ayahnya yang berada di pusat kota. diikuti oleh rombongan bodyguardnya di belakang.
seluruh keluarga samuel berfokus pada perusahaan itu. mereka saling menghancurkan satu sama lain agar mendapat warisan dan tahta sepenuhnya pada perusahaan tersebut.
tapi tidak dengan samuel yang memilih jalan berbeda. ia mendirikan perusahannya sendiri. (Termasuk membuat pabrik narkoba di gedung hotel)
kedatangan samuel membuat semua orang terkejut. pasalnya, anak pertama dalam keluarga itu sama sekali tidak pernah menginjakan kaki di gedung tersebut.
"itu tuan kim! kim samuel disini!"
"dia ganteng ya. tapi sombong banget."
"ngapain sih, dia kesini?"
"ada apa nih, heboh banget!"
samuel menghiraukan bisikan tajam itu. dia tetap berjalan dengan santai memasuki lift.
TING
samuel melangkah menuju ruangan tersebut dan berhenti di depan pintu saat seorang sekertaris wanita menahannya lengannya.
sontak hal itu membuat para bodyguard panik.
"anda sudah membuat janji ?" tanya dia sambil tersenyum tanpa dosa.
samuel menoleh dan melihat lengannya yang ditahan oleh wanita ini. terlihat raut wajah samuel yang mulai marah. berani sekali pegawai sepertinya menyentuh kim samuel.
"hana bianka.." lirih samuel, membaca kartu nama yang ada di kemejanya.
"y-ya?" jawab hana kegagapan.
samuel menggeleng kemudian tersenyum. "nikmati waktumu selagi kamu masih bisa bernafas." setelah berkata itu, samuel membuka pintu dan masuk begitu saja.
hana yang mendengar itu mematung di tempat. dia kebingungan. ada perasaan takut di dalam hatinya. kenapa samuel berkata seperti itu? apa maksudnya?
seorang bodyguard menatap hana dengan kasihan. "dia tuan kim samuel. anak pertama dari tuan manuel yang akan menjadi penerus perusahaan ini."
__ADS_1
seketika tubuh hana menengang. matanya melotot seolah tidak percaya dengan apa yang bodyguard itu katakan.
"ja-jadi, barusan aku nahan.... anak tuan manuel?" dada hana berdegup kencang. ia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
di dalam ruangan, samuel menatap ayahnya yang sedang duduk di kursi kebanggannya itu. manuel sempat terkejut saat melihat putranya itu datang. dia tidak menyangka kalau samuel menerima undangannya untuk datang ke gedung.
samuel tidak dekat dengannya yang membuat suasana terasa canggung.
"bagaimana kabarmu, nak?" tanya manuel dibalas decihan oleh samuel.
"nggak usah bertele tele. langsung saja keintinya. Saya sibuk." jawab samuel acuh tak acuh.
ada benarnya juga. untuk bertemu dengan samuel saja, sangat sulit. manuel tidak boleh menyia nyiakan kesempatan ini.
manuel menghembuskan nafas dengan kasar. "ayah ingin kamu segera meninggalkan kebiasaan burukmu itu."
samuel mengerutkan dahinya lalu menahan tawa. "Sepertinya saya salah dengar.”
"sam. kamu udah berusia matang. udah saatnya kamu gantiin posisi ayah." ucap manuel dengan lembut.
"ayah tau sendiri, saya juga punya perusahaan yang harus di urus.” ketus samuel.
"samuel. cepat atau lambat semua akan kebongkar. ayah nggak mau kamu masuk penjara."'
samuel berdecak.
"anak ayah ada banyak. kasih aja ke yang lain. Saya pamit." tambahnya.
samuel sudah mulai muak berada disana. dia berdiri dari kursinya dan hendak pergi.
"sam." panggil manuel membuat langkah sam terhenti.
"datang kembali jika kamu berubah pikiran."
samuel terdiam beberapa saat. tak lama ia kembali melangkah dan keluar dari ruangan tersebut.
sebelum samuel benar benar meninggalkan tempat itu, dia sempat melirik hana kemudian tersenyum sinis.
__ADS_1