Sweet Psycho

Sweet Psycho
16


__ADS_3

Saat ini Michell dan samuel berada di ruang kerja milik samuel. Ruangan itu berbanding kebalik dengan sel sel yang dia lewati tadi.


Ruangannya bersih, dan wangi. Terdapat beberapa pajangan disana.


Michell terduduk lemas di sofa. Tatapannya jatuh kebawah dan jarinya memainkan satu sama lain.


Mulutnya bungkam. Dia memikirkan segala hal yang dia lihat tadi.


“Sekarang Michell tau alasannya.” Kata Michell tanpa menatap samuel.


Samuel yang sedang sibuk dengan layar komputernya langsung menoleh.


Selang beberapa detik, Michell mendongak dan menatap pria tersebut.


“Michell jadi nggak heran kenapa kamu bunuh orang dengan gampang setelah ngeliat kantor kamu ini.”


“Ternyata kerjaan kamu emang ngebunuh orang.” Sambungnya.


Sedikit shock dengan keberanian Michell. Namun, samuel malah tersenyum.


“Ya. Itu bagian dari pekerjaan. Aku ngebunuh orang yang seharusnya aku bunuh. Liat? Mereka semua itu penghianat. Mereka jahat dan mereka pantas mendapat itu.” Jawab samuel.


“Terus kenapa kamu bunuh kaka Michell. Dia bukan orang jahat. Dia juga bukan penghianat.” Balas Michell dengan nada lemah tak berdaya.


Tiba tiba air matanya menetes, membasahi pipinya. Michell tidak suka ini. Michell tidak mau menangis di hadapan orang lain. Tapi sepertinya air matanya tidak mau berhenti keluar. Michell tidak bisa mengontrol air matanya untuk berhenti.


Michell mengelap air matanya dengan kasar.


“Kamu- kamu-“ ah sial. Ia tidak bisa berkata kata lagi.

__ADS_1


Dia justru berdiri dan hendak keluar dari sana.


“Mau kemana?” Tanya samuel dengan dingin. Menggetarkan hati michell agar segera menghentikan langkahnya.


Michell membalikan tubuhnya dan saat itu samuel berjalan ke arahnya. Tepat Dihadapannya, samuel meraih tangan Michell dan mendorong tubuhnya hingga terbentur dengan tembok.


“Mau pergi, hm?”


“Y-ya. Michell nggak seharusnya disini. Michell bukan orang jahat, Michell juga bukan penghianat. Jadi lepasin Michell sekarang!” Jawab Michell dengan penekanan di setiap kalimatnya.


“Kamu nggak tau terimakasih!” bisik samuel dengan kesal.


“Apa? Terimakasih? Apa yang harus aku-“


PLAK


Michell sukses mendapat sebuah tamparan dari samuel. Meninggalkan bekas kemerahan dan rasa perih di pipinya.


“Kamu nggak sadar akan itu.”


“Kenapa harus Michell?” Tanyanya sambil menahan tangis.


“Karena-“ samuel terdiam. Dia terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


“Karena aku suka sex denganmu.”


“Apa..?!!” Michell tercengang.


“Y-ya. Kamu ngebuat aku ketagihan. Aku suka tubuhmu. Aku juga suka dengan suara desahanmu.”

__ADS_1


Michell mengeraskan rahangnya. Ubun ubunnya terasa mendidih saat mendengar itu. Nafasnya pun memanas.


“Kyaaaaaaa!! Dasar mesum!!!” Teriak Michell bersiap siap untuk menendangnya.


“Kamu mau nendang aku kayak hari itu? Oh tidak bisa.”


“Julio!!” Teriak samuel.


“Julioo!!!” Teriaknya lagi.


Tak lama, julio datang ke dalam dengan terburu buru. “Ada apa?”


“Bawa dia pulang. Kurung dia dikamar!” Serunya.


“Apa..?!!” Michell mengerutkan dahinya. Tak terima dengan itu. Masa iya dirinya dikurung?!


“Kamu mau dikurung di sini? Bareng mereka?” Ancam samuel sembari tersenyum jahil.


Michell merinding melihat senyuman itu.


Dia menggeleng dan langsung mengajak julio untuk segera keluar.


Sekepergian mereka berdua, samuel langsung menendang pintu. Terlihat penyesalan diraut wajahnya.


“Sshiit!”


Dia menyesal setelah mengatakan itu. Kenapa dari sekian banyaknya alasan, dia memilih untuk mengatakan itu.


“Aaaahkkkkk!!!!”

__ADS_1


“Udah nggak waras.”


__ADS_2