
Esok harinya, Michell terbangun dengan samuel di sampingnya. Michell terheran heran. Ini kali pertama ia bangun lebih awal darinya. Ditambah lagi, saat ini samuel sedang memeluknya dari belakang.
Michell berusaha melepaskan diri dari pelukan samuel yang begitu erat. Namun samuel enggan melepaskan Michell.
“Iiish.. lepas.!”
“5 menit.” Bisik samuel dengan suara seraknya.
Michell tak merespon. Ia hanya diam sembari menimpa tangannya di atas tangan samuel. Dalam hatinya, Michell sedang menghitung satu sampai tiga ratus.
“Satu, dua, tiga, empat, ….” Dan seterusnya.
“Udah lima menit. Sekarang lepasin Michell.” Ucapnya.
“Sam, kamu denger gak sih?!” Tanya Michell sebal saat samuel tidak merespon.
Ia pun menengok ke belakang. Rupanya, pria itu kembali tertidur. Aish, merepotkan saja.
Michell segera menjauhkan tangan samuel. Setelah berhasil membebaskan diri, Michell berjalan keluar kamar.
Menurut Michell, tempat yang sedang ia tinggali tidak terlihat seperti hotel. Melainkan sebuah apartemen yang memiliki tiga kamar dan dua kamar mandi. Bahkan tersedia dapur untuk memasak.
Sungguh, tempat ini sangat mewah dan nyaman. Michell suka tempat ini. Pasti harganya mahal, toh letaknya juga berada di lantai paling atas.
Terlihat julio sedang menyiapkan sarapan. Kebetulan sekali, Michell sudah sangat lapar. Buru buru ia menghampirinya.
“Michell baru tau kamu bisa masak.”
Julio yang dikagetkan dengan kehadiran Michell hanya bisa tersenyum.
“Nggak. Saya beli Ini di resto.”
“Yeuh. Kirain kamu yang masak.” Kata Michell.
__ADS_1
Michell duduk berhadapan dengan julio. Ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat makanan yang disajikan.
“Nona bangun lebih awal dari biasanya.” Ucap julio.
“Entah. Mungkin karena Michell kelaparan.” Balas Michell acuh tak acuh.
“Oh ya. Nama Michell bukan nona. Jadi jangan pernah manggil Michell dengan kata itu lagi. Kamu ngerti?” Tambah Michell.
Julio mengangguk sembari tersenyum. Ia juga heran sendiri, kenapa dirinya selalu saja tersenyum saat bersama dengan Michell. Mungkinkah Michell adalah sumber kebahagiaannya?
Saat Michell ingin menyantap makanannya, tiba tiba ia mengingat sesuatu.
“Samuel selalu nungguin Michell. Dia nggak pernah makan duluan sebelum Michell dateng.” Batinnya.
“Haruskah kita menunggu samuel?” Tanyanya tiba tiba.
Seketika senyum julio menghilang. Huft, Samuel lagi, samuel lagi. Memang di dunia ini hanya ada samuel?!
“Atau enggak. Michell bangunin dia dulu ya.” Saat ia ingin bangkit dari kursinya, tiba tiba…
Michell langsung menoleh saat mendengar itu. Ia tersenyum bahagia, karena tidak harus repot repot menunggunya.
Sam masih mengenakan kaos dan juga celana santai. Rambutnya pun berantakan, namun hal itu tidak mengurangi ketampanan seorang Kim samuel.
Samuel duduk disamping Michell kemudian meminum segelas air untuk membasahi mulut dan tenggorokannya yang terasa kering.
“Hari ini, kamu pergi?” Tanya Michell yang sok sokan tidak ingin terlihat peduli dengan kehidupannya.
Samuel meliriknya. “Ya.”
“Oh.” Jawab Michell singkat.
“Emang Kenapa?”
__ADS_1
Michell menggeleng. “Nggak.”
Setelah itu, Michell kembali menatap makanannya. Ia segera menyantap hidangan tersebut, karena tak kuasa dengan rasa lapar yang ia alami.
“Emmm, ini enak bangeett.!!” Ucap Michell pada julio.
“Kamu beli ini dimana?” Tanya Michell.
“Cih. Norak.” Ketus samuel.
“Michell nggak ngomong sama kamu.” Ketus Michell balik.
Mendengar itu, Julio langsung menahan tawanya.
“Nggak jauh dari sini kok.” Jawab julio.
“Oohh. Besok besok, kamu beli di situ lagi aja.”Kata Michell.
“Nggak! Ini yang terakhir. Nggak ada yang boleh makan makanan ini lagi.” Sela samuel dengan nada kesal.
Sepertinya dia mulai emosi. Ataukah dia sedang menahan cemburu?
“Ih, kamu kenapa sih…”
“Emang kamu nggak suka sama makanannya?” Tanya Michell.
“Ya. Ini makanan terburuk.”
“Ta-tapi Kamu kan belum coba.”
“Dari bentuknya aja udah ketebak kalo ini nggak enak. Cocok untuk di buang.” Balas samuel.
“Selera yang aneh..” bisik Michell.
__ADS_1
Ia memutar bola matanya ke atas kemudian melanjutkan kegiatan sarapannya itu.