
“Pergilah. Rapihkan kamar, setelah itu bantu saya berpakaian.”
“Kamu mau pergi?” Tanya michell.
“Ya“ jawab samuel tanpa ekspresi.
Michell terdiam sebentar.
Sementara itu, samuel beranjak dari kasur. Hendak keluar dari kamar.
“Mau pergi ke mana?” Tanya michell kembali.
Samuel menghentikan langkahnya. Ia terdiam di tempat.
Tak lama ia membalikan tubuhnya. Matanya menatap michell dengan tajam.
“Apa pedulimu? Haruskah kamu tau kemana saya ingin pergi?!”
“Ah, buk-“
“Tau posisi mu sebagai seorang pelayan. Kamu nggak ada bedanya dengan mereka. Kamu bahkan tidak di gaji. Kamu lebih rendah dari mereka.”
“Kamu tidak pantas menanyakan hal itu.” Tambah samuel.
Michell yang mendengar itu langsung menunduk.
“Ma-maaf sam.”
“Tidak! Panggil saya tuan. Dan jangan bicara santai pada saya.”
“Ba-baik tuan.”
Samuel menghela nafas dengan kasar lalu keluar.
Michell tak percaya dengan apa yang ia saksikan barusan. Sikapnya seketika berubah 180 derajat. Ia tak mengerti. Kemana sikap lembut sebelumnya?
Dia seakan orang yang berbeda.
Tapi, entah mengapa hatinya terasa sakit mendengar ucapannya. Ia tak serendah itu.
“Teganya dia..”
…
Michell mengganti seprei yang dikotori oleh darahnya semalam. Baunya amis dan sangat menyengat.
Selagi menunggu samuel keluar dari kamar mandi, ia menyiapkan satu set pakaian dan jam tangan yang akan samuel kenakan tadi.
“Ehem..”
__ADS_1
“Tuan, aku sudah menyiapkan pakaian.” Kata michell sambil menunduk. Ia tak berani menatap samuel.
“Keluar. Tunggu saya di meja makan.”
“A-apa?”
“Saya tak perlu mengulang lagi bukan?” Sinis samuel.
“Ah, baik tuan.”
Michell pun akhirnya menuruti perintah tuannya itu. Belum ada 2 langkah, samuel memanggilnya.
“Ya tuan?”
“Seprei kotor itu, jangan di cuci.”
Michell yang mendengar itu mengerutkan dahinya. Ingin sekali ia bertanya, namun ia teringat ucapan samuel tadi.
Lebih baik ia tak usah bertanya.
“Tak usah tanya mengapa, berikan saja ke kepala pelayan.”
“Baik tuan. Ada lagi?”
Samuel menggeleng.
“Baik.” Michell membungkuk hormat kemudian berjalan keluar dari kamar sambil membawa seprei kotor tersebut.
Ia sempat kesulitan karena seprai itu menutupi wajahnya. Hingga ia tak bisa melihat anak tangga dengan jelas.
Tapi untungnya ia turun dengan selamat.
Sesampainya ia di belakang, ia langsung mendapat tatapan tajam dari orang orang.
“Enaknya dia, kita dihukum habis habisan sedangkan dia tidur bersama tuan.”
“Namanya juga ******.”
Michell mendengar bisikan itu hanya menggeleng kepala. Memangnya mereka saja yang di hukum. Michell juga tau!
ia menjadi penasaran, hukuman apa yang di berikan pada mereka.
“Permisi kepala pelayan.” Ucap michell saat di depan kamarnya.
“Ada apa?”
“Tuan ingin aku menyerahkan ini padamu.”
“Letakan disana.”
__ADS_1
“Baik.” Michell meletakan seprai itu di ujung ruangan.
Saat michell ingin pergi, tiba tiba kepala pelayan menahan tangannya.
“Kamu baik baik saja?”
Michell sempat kebingungan harus menjawab apa.
“Iya. Aku baik baik saja.” Bohong michell.
“Syukurlah. Kalau begitu mandi lah.”
“Ah, aku harus menunggu tuan di meja makan. Aku akan mandi setelah itu.”
“Kamu serius?!” Tanya kepala pelayan tak percaya.
“Iya.. memangnya ada apa?” Heran michell melihat raut wajah kepala pelayan.
Kepala pelayan menggeleng cepat. “Yauda sana. Cepatlah sebelum tuan datang.”
Punggung michell di dorong dorong, hal itu membuat michell kebingungan sendiri.
“Ada apa sih?” Michell bertanya pada dirinya sendiri saat sedang berjalan menuju ruang makan.
“Cih.”
Gadis itu menengok.
Rupanya rachell.
“Senang?”
“Maksudmu?”
“Kamu senang bisa tidur bersama tuan, huh?!”
Michell terdiam sejenak, setelah itu ujung bibirnya terangkat.
“Ya. Sangat menyenangkan. Tubuhnya hangat. Aku sangat nyaman tidur dalam pelukannya.”
Rachell mengepalkan tangannya penuh dengan emosi.
“Kamu iri?” Tanya michell meledek.
”dengar. Tak selamanya kamu berada di pelukannya. Cepat atau lambat, Dia akan membuangmu!”
“Lalu berakhir sama seperti mu, hm?”
“Nggak akan!” Sambung michell.
__ADS_1
Setelah itu, michell pergi begitu saja. Meninggalkan rachell yang sedang mematung di tempat.