
Samuel berjalan kembali menuju kamar. Ia mengambil sebuah koper kecil yang sudah ia siapkan. Dengan perlahan, ia membuka koper tersebut.
Sebuah senjata yang sudah terisi oleh lima butir peluru. Jenisnya sniper karena nantinya samuel akan menembak dari jarak jauh.
Samuel menutup koper itu kembali kemudian membawanya keluar. Dia berjalan menaiki tangga sambil menenteng benda tersebut. Di lantai tiga sangat sepi. Bahkan tidak terlihat satu pun orang disana. Karena, valir sendiri melarang para tamu untuk naik ke lantai tiga.
Tibalah samuel di balkon. Bisa di bilang rooftop, karena letaknya berada pada bagian paling atas bangunan.
Dirinya langsung bersiap siap. Ia mencari posisi paling pas untuk menembak targetnya.
Dan Kini samuel hanya perlu menunggu sampai Reeves terlihat di bawah sana.
Sedangkan di lain tempat, valir sedang berbincang dengan sahabatnya itu, Reeves. Ia menunggu waktu yang pas untuk mengajak Reeves ke luar.
“Siapa dia?” Tanya Michell pada julio yang ada di sampingnya.
“Dia Reeves, seorang pengusaha paling berpengaruh di negara ini.” Jawab julio sambil berbisik.
“Ooo…” Michell mengangguk angguk.
“Apa yang sedang mereka bicarakan?” Tanya Michell lagi.
“Bukankah menguping pembicaraan seseorang itu tidak baik? Kamu terlalu penasaran dengan urusan orang lain.”
__ADS_1
“Em, maaf.” Ucap Michell yang menyadari kesalahannya.
“что, если мы выйдем?” Ajak valir, yang artinya bagaimana jika kita keluar?
Reeves yang mendengar itu setuju. Lagi pula, ia ingin mencuci matanya dengan melihat gadis gadis berpakaian sexy yang sedang berpesta di luar.
Akhirnya mereka berdua pun berjalan berdampingan ke luar. Terlihat banyak sekali remaja remaja yang sedang berjoget disana sambil menikmati wine yang ada di tangannya. Beberapa dari mereka juga sedang asik berenang di kolam yang luasnya minta ampun.
“Mereka mau kemana?” Tanya Michell penasaran. Ia hendak saja mengikuti kemana mereka pergi, tapi julio menahannya.
“Kenapa?” Michell mengerutkan dahinya.
“Lebih baik kita disini.” Ujar julio.
“Memang kenapa?” Michell bertanya dengan raut wajah kebingungan.
Michell memanyunkan bibirnya. “Emang kenapa Michell nggak boleh ke sana? Selama Michell disini, Michell nggak pernah ke kolam renang. Lagian… samuel nggak bakal tau kok.”
“Boleh ya… boleh ya…” rayu Michell sambil menatap julio dengan puppy eyes nya.
Julio langsung membuang muka. Ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat ekspresinya yang sangat menggemaskan itu.
“Banyak pria hidung belang di sana. Kamu mau, tubuhmu jadi tontonan? Belum lagi, ada orang nakal yang iseng nyentuh nyentuh bagian tubuhmu.”
__ADS_1
Lantas Michell yang mendengar itu shock. “Emang ada orang yang kaya gitu? Disini kan, rata rata orang berpendidikan semua. Nggak mungkin lah mereka ngelakuin hal nggak sopan kaya gitu.”
“Dia ini masih polos atau bodoh sih?” Batin julio.
“Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui hal itu. Lebih baik kamu menurut. Percaya padaku.” Kata julio sambil menepuk nepuk kepala Michell.
Michell pun mengangguk pasrah. Ada benarnya juga. Michell tidak tau apa apa tentang negara ini. Banyak orang asing yang tidak Michell ketaui apa kebiasaannya. Michell juga nggak tau, orang yang dia jumpai itu orang baik atau tidak.
Huft sudahlah. Lupakan hal itu.
“Kamu bisa berdansa?” Tanya Michell.
Julio yang mendengar itu menggeleng dengan ragu ragu.
“Michell bakal ajarin kamu sampe kamu bisa.”
Julio hanya diam seakan menolak ajakan itu.
“Kenapa? Kamu nggak mau?” Tanya Michell.
“Bukannya saya nggak mau. Saya ngerasa nggak cocok kalo berdansa.” Jawab julio.
“Sayang sekali Kamu menolak ilmu gratis.” Sinis Michell.
__ADS_1
Julio sempat berfikir. “Baiklah. Saya mau.”
“Itu baru keren.”