Sweet Psycho

Sweet Psycho
13


__ADS_3

Seusai makan Samuel tidak langsung pergi ke kamar. Dia malah pergi ke ruang kerjanya. Disana ia membuka laptop dan mulai mengerjakan sesuatu disana.


Wajahnya tampak serius. Otaknya berfikir keras. Jemari tangannya mengetik keyboard dengan cepat.


Pada pukul 00.02 samuel sudah menyelesaikan pekerjaannya. Entah apa yang dia kerjakan, yang pastinya itu sangat penting hingga tidak bisa di tunda esok hari.


Samuel berdiri dari kursinya kemudian merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal karena duduk selama berjam jam dan matanya menatap layar non stop.


“Ahh…” sam menghela nafas lalu keluar dari ruang kerjanya.


Langkah kakinya berjalan menuju kamar. Dibuka pintu tersebut dengan perlahan, memperlihatkan seorang perempuan yang sedang tertidur pulas di atas kasur.


Samuel sangat lelah. Dia ingin tidur. Namun, nafsunya tak dapat dikendalikan. Akhirnya pria tersebut mendekat dan naik ke atas kasur.


Mungkin, dia bisa merasa lebih Relax dengan mencium aroma tubuh Michell yang sangat menenangkan itu.


Dengan perlahan, samuel melingkarkan lengannya di perut Michell. Memeluknya dengan erat seakan tak mau berpisah.


Wajahnya dia telusupkan ke leher jenjang Michell. Menghirup aroma lavender yang sangat memabukan.


“Mmphh..” Michell mulai menggeliat di dalam pelukan samuel. Ia tidak berhenti mengerang saat samuel terus menciumi lehernya. Bahkan menjilat sesekali.


Matanya mulai terbuka perlahan. Dalam pengeliatannya yang masih samar, dia melihat wajah samuel.

__ADS_1


“Aish.. sana..” Michell mendorong samuel dengan tenaganya yang masih lemas.


Samuel malah semakin kencang memeluk Michell. Ia juga semakin bernafsu menciumi lehernya.


“Kamu mau kabur tadi siang ya?” Bisik samuel dengan suara beratnya.


“Kenapa hm?” Sambungnya lalu mengigit dan menjilat daun telinga Michell dengan lembut.


Michell yang mendengar itu menjadi deg degan. Telinganya terasa panas dan sekujur tubuhnya membatu.


“Apa aku harus bunuh oma, biar kamu nurut sama aku?”


Michell mendongak, menatap samuel dengan tatapan benci. “Kamu jahat. Kamu egois.”


“Apasi yang kamu mau dari Michell? Michell orang miskin. Michell jelek. Michell juga gak punya siapa siapa selain oma sama kakak. Tapi kamu ngebunuh kakak dengan alasan yang nggak jelas. Dan sekarang kamu mau bunuh oma?”


Sungguh, demi apapun Michell sedang menahan air matanya agar tidak terlihat lemah.


Samuel mengelus pipi Michell lalu mengecupnya. Dia tidak memperdulikan ucapan Michell. Ia malah fokus pada wajahnya yang sangat menggemaskan.


Bagi samuel, Michell terlihat seperti kucing yang sedang mengamuk. Dan samuel suka ekspresi itu.


Egois memang, tapi itulah dia.

__ADS_1


“Ikut aku ke kantor, besok.” Ajak samuel.


Michell yang tadinya terlihat serius, kini berubah menjadi terkejut. Ia menyerit kebingungan.


“A-apa?” Tanya Michell terbata bata.


“Aku yakin kamu denger.” Jawab samuel.


“Mau aku ulang lagi?”


Michell kegagapan. “Engg.. ya. Ta-tapi, kenapa aku harus ikut kamu ke kantor?”


Tunggu.


Kalau Michell ikut ke kantor, dia bisa mencari celah dan melarikan diri. Rasanya kabur dari kantor lebih mudah dibanding kabur dari rumah ini.


“Nggak ada alasan. Aku cuma butuh penghibur karena pekerjaan ku sangat membosankan.” Balas samuel.


“Tapi, yasudah kalau kamu nggak mau.” Tambahnya.


“ee-eh. Mau! Aku mau ikut!.” Seru Michell bersemangat.


Samuel yang mendengar itu tersenyum kemudian membawa Michell ke dalam pelukannya. Mengelus rambutnya dengan lembut.

__ADS_1


Michell memilih pasrah. Dia harus memikirkan rencana untuk esok. Walau dadakan, tapi tak apa apa. Dia sangat bersemangat sampai tak bisa tidur.


Untuk malam ini, dia harus tetap berada dalam pelukan samuel. Dia harus membuat samuel percaya padanya.


__ADS_2