
Dua hari setelah itu, keadaan mansion berubah 100%. Suasana rumah terasa lebih ramai. Orang orang sibuk menata dan mendekorasi rumah. Para koki sibuk memasak di dapur.
“Uh..” hampir saja Michell tertabrak oleh seorang pelayan yang membawa setumpuk piring.
“Sorry.” Ucapnya.
“Ya.” Michell mengangguk sebagai jawaban.
Michell kembali berjalan sambil bertanya tanya. Sebenarnya hari ini ada apa?
“Sam..” panggil Michell sesampainya ia ke kamar.
“Kamu ngapain?” Tanya Michell terkejut saat melihat senapan yang ada di tangannya.
Samuel hanya mengangkat sebelah alisnya. Acuh tak acuh.
Michell mendekatinya. “Samuel, kamu mau ngapain?!”
Samuel menatap Michell kemudian mengarahkan senapan itu ke kepala Michell. “Bummm…”
Michell mematung saat samuel melakukan hal itu.
“Bercanda.” Samuel tersenyum sembari mengacak acak rambutnya.
Pria itu memasukan senapannya ke dalam sebuah koper. “Aku akan ngebunuh seseorang.” Kata samuel santai. Seolah hal itu bukanlah yang berat untuk di lakukan.
“Ini pertama kalinya aku ngebunuh menggunakan senapan.” Tambahnya.
Michell menelan ludahnya dengan kasar.
“Emang, sebelumnya engga?” Tanya Michell.
Samuel menggeleng. “Aku membunuh dengan tanganku sendiri.”
“S-siapa yang bakal kamu bunuh?”
“Reeves.”
“Kapan?” Tanya Michell penasaran.
“Hari ini.”
“Dimana?”
“Disini.”
Samuel berjalan mendekati Michell kemudian menutup mulutnya menggunakan jari telunjuk.
“Dont tell anybody.” Bisiknya.
__ADS_1
Michell hanya bisa mengangguk pasrah.
“Good girl.”
“Tapi sam…”
“Apa?” Tanya samuel sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa, kamu mau ngebunuh… dia?” Tanya Michell pelan. Sejujurnya ia terlalu nekat untuk menanyakan hal seperti itu.
“Karena ini pekerjaaanku.”
“Ya. Benar juga. Aish, kenapa harus nanya itu sih.” Batin Michell.
“Kenapa? Kamu takut?”
“Eh, engga.” Michell menggelengkan kepalanya.
“Jadi kamu nggak takut sama aku?”
“Iya, ngapain juga Michell takut sama kamu.” Jawab Michell.
“Hmmmm, berarti kamu berani sama aku?”
“Duh, bukan gitu. Michell mana berani sama kamu.”
“Jadi yang bener yang mana?” Tanya samuel sambil tersenyum jahil.
“Bercanda.” Samuel tersenyum.
“Aku udah siapin gaun.” Sambungnya.
“Buat apa?”
“Buat kamu pake lah.”
“Iya, maksud Michell di pake buat apa?” Kata Michell berusaha menahan emosinya.
“Samuel ini kaya cewe aja deh. Michell yang jadi serba salah ngadepin dia.” Tambahnya dalam hati.
“Hari ini ada pesta. Dont you know, honey?”
Michell menggeleng. “Ohh, pantes orang orang pada sibuk. Ternyata ada pesta ya…”
“tunggu disini. Nanti ada orang yang dateng buat dandanin kamu.” Ucap samuel yang hendak keluar dari kamar.
“Kamu mau kemana?”
“Banyak tanya.” Sahut samuel.
__ADS_1
“Ihh… apa apaan dia.” Sewot Michell dalam hati.
….
“Be carefull. Don’t let it fall.” Ucap julio yang sedang mengawasi para pelayan yang sedang bekerja.
“Yes sir.”
“You too!”
“Yes sir..”
“Oh, sekarang udah jadi kepala pelayan ya?”
Julio langsung menoleh saat mendengar itu. Rupanya samuel sudah berdiri di sampingnya.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Sinis samuel.
“Tuan akan tetap melakukan itu?”
“Melakukan apa sih?” Tanya samuel yang sok polos.
“Membunuh Reeves.” Jawab julio dengan lantang. Untung saja tidak ada yang mendengar.
“Kenapa tidak?” Tanya samuel balik.
“Aku akan ngebuktiin, kalo kamu salah. Aku benar benar mencintai Michell sampai rela mempertaruhkan nyawaku.” Tambahnya.
Cukup. Julio sudah lelah dengan itu.
“Sampai kapan tuan sadar, kalau semua itu hanyalah nafsu bukan cinta.” Kata julio.
“Tuan tidak benar benar mencintainya.” Sambungnya.
“Apa yang ngebuat kamu beranggapan seperti itu sih?!” Ucap samuel sebal.
“Semua orang pun akan beranggapan yang sama seperti saya. Kalau tuan benar benar mencintainya, maka nikahkan saja.” Balas julio tak mau kalah.
“Bagaimana denganmu. Bukankah kamu akan merasa sedih saat Michell menikah denganku?!”
“Saya bekerja setengah mati. Apapun saya berikan untuk tuan. Nyawa sekali pun.”
“Saya tau, tuan belum move on. Tuan belum bisa melepaskannya karena itu tuan masih ragu untuk menikahkan Michell.” Ujar julio.
“Lancang! Beraninya kamu ngomong gitu.” Bentak samuel.
“Saya tau dimana keberadaannya. Tanyakan saja, kalau tuan merindukannya. Saya pamit.”
“Dia udah kelewatan!” Geram samuel sambil menatap punggung julio yang mulai menjauh.
__ADS_1
“Aaarghkkkk…”