Sweet Psycho

Sweet Psycho
31


__ADS_3

Michell menatap jendela sambil senyum senyum sendiri. Lelaki itu memenuhi pikirannya. Bayang bayangnya membuat Michell serasa ingin terbang.


“Kira kira, namanya siapa ya?” Batin Michell bertanya.


Jari telunjuknya menyentuh jendela. Membayangkan wajah lelaki itu disana.


“Michell bakal tanyain besok.”


“Tanya apa?” Kata samuel secara tiba tiba.


Michell menoleh sekilas lalu memutar bola matanya ke atas.


“Ish, ganggu aja.” Katanya dalam hati.


Samuel mendekati Michell sembari mengendurkan dasinya. Tangannya memeluk pinggang Michell dari belakang. Setelah puas menciumi lehernya, samuel langsung memutar tubuh Michell agar berhadap hadapan dengannya.


Michell berusaha menahan emosi atas kemesuman yang samuel lakukan.


“Sabar, sabar, nyawa taruhannya.” Batin Michell yang hanya bisa pasrah.


Samuel mengecup lembut bibir Michell sembari menatap lekat kedua matanya.


“Kamu tau, ini hari apa?” Tanyanya sambil berbisik.


“Ka-Kamis?” Jawab Michell ragu ragu.


“Hm.” Samuel mengangguk. Terlihat dengan jelas sebuah senyuman terukir di wajahnya.


“Kamu tau kan, apa yang bakal aku lakuin di setiap malam jum’at?” Tanya samuel sambil menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Michell.


“Enggak!” Jawab Michell yang mulai panik.


“Haha.” tawa samuel.


“Malam itu, saat kamu mengenakan seragam sekolah. Apa kamu lupa?”


Melihat Michell yang mulai ketakutan, membuat samuel semakin bersemangat.

__ADS_1


“Baiklah. Mungkin kamu lupa. Biar aku yang mengembalikan ingatan itu. Saat itu…”


“Y-ya! Michell inget. Terus kamu mau apa..?!!” Sela Michell dengan nada kesal.


Mendengar itu, membuat samuel kembali tersenyum. Ia menepuk kepala Michell seraya berkata. “Good.”


“Sejujurnya, tangan aku ini udah gatel banget. Aku nggak sanggup nahan lagi. Tapi, aku sadar ini negara orang. Aku nggak mungkin jadi penjahat di sini.” Jelas samuel.


“Jadi, bersediakah kamu menjadi tempatku menyalurkan nafsu sampai satu bulan ke depan?” Tambahnya.


“Bajingan!” Lirih Michell menahan tangis.


“di bagian ini aja.” Samuel mengelus perut Michell.


“Enggak! Michell nggak mau dijadiin tempat buat nyalurin nafsu kamu.” Bentak Michell.


“Rasanya nggak sesakit yang kamu bayangin, Michell. Percaya sama aku.”


“Kamu udah gila! Pokoknya Michell gak maaau!!!” Teriak Michell sekencang kencangnya.


“You've promised me to be a good girl” bisik samuel.


“Aku bisa jadi pria kasar sesuai keinginan kamu.”


Tanpa berlama lama, Michell langsung di seret ke dalam kamar. Tubuhnya di lempar ke atas kasur oleh samuel. Baju yang ia kenakan pun langsung di robek begitu saja. Tak peduli dengan harga yang dikeluarkan untuk baju itu.


“Sam… pliss jangan..” kata Michell sesugukan.


Sungguh, ia tak kuasa menahan tangisnya setelah melihat betapa ganasnya samuel.


Apalagi, saat samuel mulai mengeluarkan pisaunya. Kecil, tapi tajamnya minta ampun.


Michell menggeleng geleng. Ia mencoba melepaskan diri, namun kekuatan Michell tak sebanding dengan samuel.


“Ini akibatnya, honey. Gadis nakal harus diberi hukuman.”


Perlahan, kulit Michell mulai tergores oleh pisau itu. Michell langsung menutup matanya rapat rapat, menahan rasa sakit yang ia rasakan. Perih sekali. Rasanya sangat amat menyakitkan.

__ADS_1


“Ahhkkkkk, Udah. Sakit.” Pinta Michell.


“Udah sam. Michell mohon. Ini Sakit banget.”


Samuel masih bermain main di perut Michell bersama dengan pisau kesayangannya itu. Dia menggambar sebuah bunga kemudian menulis sesuatu di sana.


“Michell is mine.”


Ia tersenyum puas setelah melihat hasil karyanya. Perut Michell sudah dibanjiri oleh darah segar yang terus mengalir. Bahkan mengotori kasurnya.


Ia menjilat darah Michell yang ada di pisaunya. Dia benar benar seorang psikopat yang tidak punya otak.


“hiks, udah sam…”


“Iya sayang.” Balas samuel lembut.


Nafsunya sudah terpenuhi. Kini waktunya ia membereskan apa yang sudah ia perbuat.


Samuel mengambil obat yang sudah ia siapkan sebelumnya kemudian mengoleskannya ke perut Michell.


“Mmmphh,, sakit.” Ringis Michell.


“Aaahhkk, sakit sam.”


Samuel tersenyum. Ia yang melukainya, ia juga yang mengobatinya. Ia memang sengaja melakukan ini agar, rasa sakit yang Michell alami bertambah dua kali lipat.


Karena obat yang dia oleskan, mengandung alkohol kadar tinggi. Kebayang kan, seberapa sakit yang Michell rasakan.


Samuel menghapus air matanya kemudian mengecup dahi Michell dengan lembut.


“Janji jangan gitu lagi?”


“I…iya. Hiks. Michell nggak bakal gitu lagi.”


“Good girl.”


Masa bodoh dengan taruhan yang sedang ia lakukan. Lagi pula, orangnya tidak ada di sini juga. Jadi, buat apa samuel menahan diri.

__ADS_1


__ADS_2