
Setelah menunggu 15 menit, ramen yang Michell minta pun datang. Yang memasak adalah koki yang bekerja di sana. Akan sulit jika membeli ramen di Rusia karena jarang sekali ada restoran yang menjual ramen.
“Hati hati, masih panas.” Kata samuel sambil menyodorkan semangkuk ramen.
Michell menerimanya. Ia hanya diam sambil menatapi ramen tersebut tanpa berniat memakannya.
“Kenapa?” Tanya samuel heran.
Michell tetap diam. Sepertinya Michell sedang memikirkan sesuatu.
“Buat kamu aja.” Katanya tiba tiba.
“Loh? Kenapa sih? Tadi katanya mau makan ramen. Pas udah dibuatin malah dikasih ke aku.”
Michell hanya mengendus kasar.
“Kamu kenapa, Michell?” Tanya Samuel sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
“Kamu mau aku suapin?” Tambahnya.
“Michell mau cuma ada kita berdua di ruangan ini.” Ujar Michell.
Samuel yang mendengar itu langsung melirik julio yang sedari tadi hanya berdiam diri di dekatnya.
“Tunggu apa lagi?”
Julio yang mengerti akan itu, langsung pamit mengundurkan diri. Pdahal, ia masih ingin melihat Michell. Ia khawatir dengan keadaannya.
Setelah julio menghilang dari sana, Michell menatap lekat mata samuel.
“Michell tau, pasti ada alasan lain kenapa kamu bawa Michell ke sini.”
Samuel yang mendengar itu segera membuang mukanya.
“Sam, liat Michell!” Seru Michell.
“Kita bicarain abis kamu makan ya.”
“Enggak sam. Michell itu nggak ngerti. Michell mau kamu ngejelasin semua.” Rengek Michell dengan matanya yang sudah berkaca kaca.
__ADS_1
“Kenapa kamu bawa Michell ke sini?” Tanyanya dengan nada serius.
Melihat ekspresi Michell, membuatnya merasa bersalah. Dengan berat hati, samuel menjelaskannya.
“Ayah aku, mau kamu jadi anak angkatnya. Alias, adik angkat aku.”
“Tapi kenapa?”
“Dia merasa bertanggung jawab atas kehidupan kamu, karena…”
“Aku udah ngebunuh kakak kamu.” Sambungnya.
JLEP
“Kakak kamu itu, udah jadi sekertaris ayah sejak lama. Dia nganggep kaka kamu sebagai anaknya sendiri. Untuk itu, ayah mau kamu jadi anaknya supaya kehidupan kamu lebih baik.”
“Dia bakal nyekolahin kamu, dia bakal ngasih tempat tinggal dan fasilitas yang mewah. Apapun akan dia berikan. Hal itu dia lakukan agar bisa menembus kesalahannya atas kematian kakak kamu.” Jelas samuel panjang lebar.
Michell terdiam. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menangis di hadapannya.
“Kamu nggak mau aku punya kehidupan yang lebih baik. Kamu maunya aku hidup dalam sesengsaraan. Karena itu kamu bawa aku kesini kan? Supaya aku nggak jadi anak angkatnya.” Kata Michell sesugukan.
“Aku bisa aja nurutin semua kemauan kamu. Aku bisa ngasih segala fasilitas mewah. Aku bisa ngasih pendidikan paling tinggi untuk kamu. Aku bisa jadiin kehidupan kamu lebih baik.”
“Kehidupan yang lebih baik…? Justru Kehadiran kamu itu ngebuat hidup Michell jadi nggak baik!” Bentak Michell. Pecah sudah tangisnya.
“Kamu ngebunuh kaka Michell cuma karena nafsu kamu. Kamu ngejauhin Michell dari oma. Kamu ngurung dan nyiksa Michell di rumah kamu yang besar itu!!”
“Setiap hari Michell mikir, apa hari ini kamu bakal ngebunuh Michell atau engga. Emang sih, sampai detik ini Michell masih bisa bernafas. Tapi kamu selalu nyiksa Michell dan nggak mau Michell meninggal begitu aja. Kamu jadiin Michell mainan. Michell cuma pemuas nafsu kamu yang nggak ada ujungnya itu!” Keluar sudah kekesalan yang ada di hati Michell.
Samuel hanya diam.
“Kenapa sih harus Michell..?! Kenapa harus Michell yang ngalamin ini. Kenapa hah?!!” Michell menangis tersedu sedu.
“Maaf. Aku cuma nggak pengen kamu pergi.” Kata samuel yang mengakui kesalahannya.
“Tapi kenapa?”
“Aku cinta kamu.” Tiga kata itu berhasil keluar dari mulut samuel.
__ADS_1
“A-apa?” Tanya Michell tak percaya.
“Ya. Aku sudah tertarik padamu sejak awal kita bertemu.”
“Maaf.” Sambungnya.
“Jangan bohong sam! Nggak lucu.”
“Kamu ini pura pura nggak tau kalo aku cinta sama kamu ya?” Tanya samuel.
“A-apa?”
“Aku udah bunuh kamu dari lama, kalo misalnya aku nggak cinta sama kamu. Untuk apa nahan satu orang untuk dijadiin pelampiasan nafsu. Masih banyak orang yang masih bisa aku jadiin pelampiasan. Nggak cuma kamu doang.”
“T-tapi. Bagaimana… bisa…” bisik Michell kebingungan.
“Aku tau saat ini kamu benci aku. Tapi, beri aku waktu untuk membuat kamu jatuh cinta padaku.”
Michell menggeleng. “Michell nggak mungkin jatuh cinta sama pembunuh kaya kamu.”
“Please, kasih aku kesempatan nembus kesalahan aku. Aku minta maaf.”
Michell berfikir sejenak. Memaafkan itu tidak sulit. Tapi mengikhlaskan itulah yang sulit. Namun, masa lalu biarlah berlalu. Michell tidak bisa stuck di situ situ saja.
Bukankah bagus, dengan kesempatan ini Michell bisa merubah samuel menjadi lebih baik.
“Ok, Michell setuju. Dengan satu syarat.”
“Kamu nggak boleh melukai seseorang. Apalagi membunuh.”
“Itu berat.” Pikir samuel.
“Kamu keberatan dengan syarat itu?!” Tanya Michell.
“Ok. Aku terima syarat itu.”
“Deal?”
“Deal!”
__ADS_1