Sweet Psycho

Sweet Psycho
3


__ADS_3

20.00


Michell sudah bersiap siap di depan pintu untuk menyambut kedatangan samuel. Ia ingin menjadi orang pertama yang menyambut kehadirannya.


Para pelayan yang lain, menatap michell dengan benci. Bahkan beberapa dari mereka berkata bahwa michell pandai mencari muka.


Terutama rachell. Ia merupakan pelayan yang sama sepertinya. Selamat dari kematian, sebagai gantinya ia harus menjadi pembantu dan rela di siksa setiap hari.


Sebelum kedatangan michell, rachell merupakan satu satunya pelayan yang bisa masuk kedalam kamar samuel. Ia bahkan sering berhubungan badan dengan tuannya.


Namun sekarang, posisinya sudah tergantikan.


Ada michell yang lebih cantik dan menggoda.


Hal itu membuat rachell iri sekaligus marah.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya rachell sinis.


“Aku akan menunggu disini, sampai samuel pulang.” Jawab michell. “meskipun aku harus menunggu selama satu jam.”


“Samuel-?! Kurang ajar! Beraninya kamu..!”


“Aah.. soal itu. Dia yang menyuruhku agar memanggilnya dengan nama itu.”


“Dia menyuruhmu?! aku yang udah tinggal selama 2 tahun disini, belum pernah sekalipun memanggilnya seperti itu.”


Michell tersenyum tipis menanggapinya.


Rachell mengepalkan tangannya. “Apa kamu ngga ada kerjaan lain?!”


Gadis itu menggeleng. “Semua sudah aku kerjakan.”


Rachell semakin kesal saja mendengar itu. Ia Iangsung melangkah pergi dari sana. Meninggalkan michell seorang diri.


Gadis itu menghela nafasnya. Ia kembali menatap pintu utama yang tertutup rapat. “Andai saja, aku bisa keluar dengan mudah melewati pintu ini.”


Tak lama, ia mendengar suara mobil dari luar.


Michell tidak bisa memastikan apakah itu samuel atau bukan.


Saat pintu terbuka, ia melihat seorang pria tampan bertubuh tinggi. Dia kim samuel.


Michell buru buru membungkuk hormat.


“Dimana yang lain?” Tanya samuel.


“A-aku kurang tau.”


Samuel mengeraskan rahangnya. “Julio.”


“Ya, tuan?”


“Panggil mereka semua kesini! Dan bawakan cambuk!”


“Baik tuan.” julio pun segera berlari ke belakang.


Kini tersisa samuel dan michell. Gadis itu masih membungkuk tanpa berani menatap wajah samuel.


Tak lama, julio kembali diikuti oleh para pelayan di belakangnya. Mereka semua langsung bersujud di hadapan samuel.


“Maafkan kelalaian kami, tuan kim.”


“Maaf? Cih.”


Samuel merebut cambukan yang ada di tangan julio dengan kasar.

__ADS_1


CLETAK


“Aaaahhhkkk…”


“Kenapa hanya dia yang menyambut?!” Bentak samuel.


“Maaf tuan..” jawab para pelayan serempak.


“Kepala pelayan bilang, tuan pulang jam 9..”


“lalu? Apa peduli saya?!”


“Sshhh… sudahlah, saya merasa muak melakukan ini.” Samuel memijit kepalanya. “Julio, lanjutkan. Hukum mereka sesukamu.”


“Baik, tuan.”


Samuel menyerahkan cambuk padanya kemudian melirik michell.


“Kamu-“


“A-aku?” Tanya michell panik.


“Ikut saya.”


Michell menelan ludahnya susah payah.


Gadis itu mengikuti samuel sampai masuk ke dalam kamar.


BRUK


Tubuh michell terjatuh di atas kasur setelah samuel mendorongnya.


Gadis itu mulai panik saat samuel merangkak naik ke atas tubuhnya. Buru buru michell mendorong dadanya dengan sekuat tenaga.


“Punishment.” Bisik samuel sambil menatap kedua mata Michell yang bergerak kesana kemari.


“A-apa? Aku bahkan nggak ngelakuin kesalahan. Aku menjadi orang yang menyambutmu.. sesuai dengan perintahmu.”


Samuel tidak mendengarkan ucapan michell. Ia fokus kepada bibir michell yang menggoda itu. Seakan ingin menciumnya.


Strett.


Tiba tiba Samuel mengeluarkan pisau kecil dari sakunya.


Michell yang melihat itu langsung melotot panik.


“Ka-kamu.. apa yang akan kamu lakukan dengan benda itu..?!”


Samuel tersenyum miring.


Pria itu mencengkram dan menyatukan kedua tangan michell di atas kepala.


Tangan kanannya membuka baju yang michell kenakan. Memperlihatkan perut mulus dan dada putih yang terbungkus bra berwarna hitam.


Perlahan samuel menggambar di atas kulitnya. Pisau tajam itu melukai kulit michell yang putih mulus.


Tubuh michell tak berhenti bergerak ke sana ke mari.


“AHHHH…” teriak michell kesakitan.


Samuel semakin bersemangat memainkan pisaunya. Ia bahkan menekan hingga menembus lapisan kulit yang paling dalam.


“ARRRHHHH…” jeritnya diikuti oleh tangisan yang keluar dari matanya.


Darah merah mengalir dengan begitu deras.

__ADS_1


“Aahh… udahh… sakit..” pinta michell memohon pada samuel.


Samuel terus menggambar dengan asyik. Ia menikmati jeritan tangis kesakitan michell.


“Udaahhhh… udahh samm… aku nggak kuat.. hiks..”


“Tahan sayang. Sebentar lagi.”


“Aahhhh….”


Tak lama samuel mengangkat pisaunya. Ia tersenyum bangga setelah melihat hasilnya. Seolah ia berkata, “lihatlah, ini karyaku.”


“Beautiful rose.” Bisik samuel sembari menjilat darah yang tersisa di pisaunya.


“Isn’t it?” Pria itu bertanya sambil menatap mata michell dengan tatapan psikopat.


Michell mengangguk pasrah.


Wajahnya basah. Dipenuhi oleh campuran air keringat dan air mata.


Cup


Samuel mengecup dahi michell dengan lembut.


“I love ur scream.”


“Hiks..” dada michell naik turun. Nafasnya tak terkendali.


Samuel beranjak dari kasur. Ia mengambil kotak obat kemudian kembali dan duduk di samping michell.


Ia mulai mengobati sayatan di perut menggunakan alkohol.


Sumpah demi apapun, rasanya sangat amat menyiksa. Perih hingga menjalar ke seluruh tubuh.


“Shhh Mmphh…”


Setelah membungkus perutnya dengan perban, samuel langsung salah fokus pada dada michell.


Besar, kencang dan putih.


Ingin rasanya samuel membuka bra yang ia kenakan. Namun, mengingat keadaan michell yang sedang sakit, akhirnya samuel membatalkan niatnya itu.


“Kita tidur di kamar sebelah.”


“A-apa?”


“Apa kamu mau tidur di atas kasur yang penuh dengan darah?”


Michell menggeleng.


“Right.”


Tanpa basa basi, samuel langsung menggendong michell dengan ala bridal style.


Michell sempat terkejut. Ia buru buru melingkarkan tangannya pada leher samuel dengan erat.


“Kamu akan terbiasa.”


“Maksud kamu?”


“Saya akan sering melakukannya.”


DEG


Tamat sudah. Apa jadinya tubuh michell kedepannya jika terus terusan di siksa. Ya tuhan…

__ADS_1


__ADS_2