
“Sekarang apa?” Tanya Michell setelah sarapan.
“Apa?” Samuel justru balik bertanya.
“Y-yaaa.. sekarang kita mau ngapain? Atau kamu, ada urusan kah?”
“Of course. Itu alasan kenapa aku ada di sini.” Ucap Samuel setelah itu menyeruput minumannya.
“Jadi, Michell bakal ditinggal sendirian disini?”
Samuel sempat terdiam, tak lama dia tersenyum miring. “Boleh aja kalo mau ikut.”
Michell yang merasa ada sesuatu di balik senyumnya itu langsung menggeleng.
“Nggak. Michell disini aja. Sendirian juga gak papa kok.”
“Oh ya?” Samuel memastikan. “Yakin nggak mau ikut?”
“Iyaa.” Michell tersenyum dengan penuh paksaan.
Lagi lagi, julio hanya bisa diam menyaksikan kedua orang itu sedang berbincang dengan asyik. Seolah dunia itu hanya milik mereka berdua.
Samuel melirik jam tangannya.
“Aku berangkat sekarang.” Ujar samuel sembari bangkit dari kursinya kemudian Berjalan menuju pintu.
Michell ikut berdiri.
“Tunggu.!”
Samuel menoleh ke belakang. “Apa?”
“Mmmm…”
“Kapan acara pertunjukan balet itu dimulai?”
Samuel tampak berfikir lalu melirik julio sekilas.
“Diundur jadi bulan depan.” Jawab samuel santai, tanpa beban sedikit pun.
__ADS_1
“APA..?!”
“Bukannya acaranya hari ini?!!!” Michell bertanya.
Samuel mengedikan bahunya. “Entah. Tanyakan sama dia aja.”
Michell langsung melirik julio dan menghampirinya.
“Bilang kalo itu boong.” Kata Michell.
Julio menatap Michell. Wajahnya sangat cantik jika dilihat dari dekat. Membuat dadanya berdebar tak karuan.
“Ihh kok diem?.” Michell menggoyang goyangkan pundak julio.
“Ya. Acaranya di undur bulan depan.”
Seketika tubuh Michell langsung melemas.
“Kenapa nggak bilang dari awaaall… ihhhh…”
Kedua pria itu hanya bisa diam saat Michell merengek.
“Jadi Michell harus disini selama satu bulan? Gitu?!”
Michell mengepalkan tangannya dengan sebal. Ia menatap samuel dan julio dengan garang.
“Yaudah sana kalian pergi. Sana keluar.” Usir Michell, mendorong julio dan samuel secara bersamaan.
“Kamu, Jangan ngomong sama Michell lagi.!” Bentak Michell kepada samuel.
Julio yang mendengar itu langsung menahan tawanya.
“Kamu juga. Jangan senyum senyum.”
Kini gantian samuel yang tertawa.
“Pokoknya Michell nggak mau ngomong sama kalian berdua. Bye!” Michell langsung menutup pintu dengan penuh emosi.
Dada Michell naik turun saking emosinya. Dengan cepat dia mengambil alat bantu kesayangannya itu.
__ADS_1
“Huffftt…” Akhirnya Michell bisa bernafas lega.
“Sabar Michell. Jangan emosi. Tahan, tahan.”
“Tapi bisa bisanya mereka nggak bilang. Mereka sengaja ya?” Tambah Michell.
“Aahkk bikin pusing.”
Sedangkan di lain tempat, samuel sedang mengadu mulut dengan julio di dalam mobil.
“Nyerah aja dari sekarang karena kamu bakal kalah.” Ucap samuel.
“Aku sangat menyukai Michell.”
“Ah tidak. Yang benar, aku sangat mencintainya.” Tambah samuel.
“Kalau begitu, kenapa tidak menikahinya langsung saja?” Tanya julio.
Samuel sukses dibuat diam oleh pertanyaan julio.
“See? you haven't moved on.” Ucap julio.
“Jangan bawa bawa masa lalu ya, julio!” Kata samuel dengan penekanan di setiap katanya.
“Saya tau keberadaannya.”
“Apa?!” Samuel mengerutkan dahinya.
“Penasaran kan? Ingin saya beri tau dimana dia sekarang?” Tanya julio.
Samuel menatap julio dengan tajam melalui kaca. Sepertinya dia mulai terpancing.
“Semakin hari kamu semakin berani ya!”
“Mohon, jadikan hal ini hanya sebatas hubungan antara seorang teman. Bukan atasan dan bawahan.” Kata julio.
“Meskipun kita sedang bersaing, tapi kehadiran saya sangat penting disini.” Sambungnya.
Ada benarnya juga. Julio tau segala hal tentangnya. Dia sangat berjasa bagi seorang Kim samuel. Ia membutuhkan julio untuk tetap di sisinya.
__ADS_1
“Kalau kamu bukan temanku, sudah ku bunuh kamu dari lama.” Bisik samuel yang masih bisa didengar oleh julio.
“Suatu kebanggaan bisa berteman denganmu. Mr. Kim.”