Sweet Psycho

Sweet Psycho
23


__ADS_3

Selama dalam masa penerbangan, Michell tak berhenti mengeluh kepada samuel. Dia merasa bosan berjam jam hanya duduk. Sesekali melihat film atau sekedar membaca sekilas buku yang samuel punya.


Sampai akhirnya, yang di tunggu datang juga. Dia sampai pada transit pertama. Betapa bahagianya Michell saat ini.


Ia sempat makan saat di bandara. Benar kata samuel, makanan di pesawat tidak enak. Rasanya hambar.


Setelah menunggu selama 90 menit, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Rusia.


….


Michell terbangun saat mendengar suara pengumuman. Ia tanpa sengaja tertidur, padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak tidur yang ke 3 kalinya.


Michell seperti orang yang kebingungan. Ia menoleh ke arah samuel dengan mata yang masih mengantuk.


“S-sam.” Panggilnya.


“Hm?”


“Kita udah sampe ya?” Tanya Michell.


“Iya.” Jawab samuel dengan wajah datarnya.


“Aaah..” Michell menutup mulutnya ketika menguap. Ia segera menggelengkan kepalanya agar kesadarannya kembali sepenuhnya.


Disaat orang orang sudah meninggalkan pesawat, barulah mereka keluar. Memang sengaja agar keluar paling akhir Karena, samuel sendiri tidak suka berdempetan dengan orang lain.


Saat Michell meninggalkan pesawat, langsung terasa betapa dinginnya udara di Rusia.


Michell langsung memeluk dirinya sendiri. “Dinginnya..”


Samuel pun juga merasakan hal yang sama.


“Maaf, saya lupa dengan ini. Jaketnya ada di dalam koper.” Bisik julio.


Samuel hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia mendekatkan diri pada Michell kemudian merangkul tangannya di lengan Michell.


hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghangatkan tubuh Michell.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan bersama menuju terminal. Rupanya anak buah samuel sudah menunggu di sana dengan segala perlengkapan yang mereka butuhkan.


Dengan cepat, mereka langsung memberikan jaket tebal yang terbuat dari bulu domba.


“Selamat datang, mr Kim.” Ucap salah satu dari mereka.


“Hm.”


“Kami sudah menyiapkan hotel, biar kami yang mengantar anda agar sampai ke tujuan.”


Samuel tidak merespon ucapan itu. Dia justru menoleh kepada Michell yang kesulitan memakai jaket karena terlalu besar di tubuhnya.


Lantas, ia pun segera membantunya.


“Mau makan lagi?” Tanya samuel selagi membantunya.


Michell menggeleng. “Michell udah makan di pesawat tadi.”


“Itu dua jam yang lalu, Michell.” Kata samuel.


“Yakin?” Samuel memastikan.


Michell mengangguk dengan mantap. “Iyaa.”


Samuel yang mendengar itu, langsung mengajak Michell masuk ke dalam mobil.


Mobil mereka di kelilingi oleh rombongan samuel. Bahkan, mobil yang tidak berkepentingan pun disuruh mengalah.


Setibanya mereka di hotel, Michell tidak sengaja menabrak seorang lelaki ketika dia sedang menuju kamar.


Samuel yang selalu berada di samping Michell langsung panik.


“Michell!”


“U okey?” Tanya nya.


Michell mengangguk. “Ya, Michell nggak papa.”

__ADS_1


Samuel mengelus rambut Michell dengan lembut kemudian menoleh pada seorang lelaki yang menabraknya barusan.


“How dare you..!” Geram samuel.


“U have to die.” Tambah samuel dengan marah.


“S-sorry sir. I didn’t see.” Ucapnya. Jika dilihat lihat, lelaki itu sepantaran dengan Michell.


“Kalian tau harus apa kan?” Kata samuel dengan Tajam, dan menusuk.


Michell yang mendengar itu buru buru menahan samuel.


“Michell yang nabrak dia. Michell minta maaf.” Lirih Michell pada samuel.


“Emang aku buta? Jelas jelas, dia yang nabrak kamu, micheeel..!”


“I-iya. Tapi, Michell baik baik aja.”


“Udah ya, Michell laper. Michell mau makan.” Kata Michell memelas, berusaha mengalihkan perhatian samuel.


“Tadi katanya enggak.”


“Iya, itukan tadi. Sekarang beda.”


“Yaudah, mau makan apa, honey?” Tanya samuel lembut. Sangat Berbeda dengan tadi.


“Apa aja deh. Yang penting Michell makan.” Jawab Michell menanggapi.


Samuel mengangguk kemudian berjalan bersama dengannya. Dia seperti sudah melupakan kejadian tadi, yang membuat emosinya meluap.


Michell senang saat dirinya berhasil meredakan amarah samuel. Walau disisi lain, Michell merasa cemas dan khawatir saat melihat sisi lembut samuel.


Ada sesuatu yang di rencanakan oleh samuel di balik senyumnya itu. Sepertinya, samuel menginginkan sesuatu, untuk itulah dia mengajak Michell.


Sedangkan lelaki tadi, terus memperhatikan Michell dengan rombongan pria berjas di belakangnya.


Dia terlihat mencurigakan.

__ADS_1


__ADS_2