Sweet Psycho

Sweet Psycho
32


__ADS_3

“Apa Michell bisa bertahan sampai satu bulan kedepan? Ini baru pertama kali, tapi rasanya sakit sekali.” Ucap Michell memandangi dirinya di cermin.


Dia mengelus perutnya. Terdapat banyak sekali luka disana. Untungnya, yang terluka hanya kulitnya saja. Jadi tidak perlu sampai di jahit.


Ia menghela nafas kemudian berendam ke dalam bathtup yang sudah di isi air hangat.


“Aahkk..” ringis Michell sambil menutup matanya rapat rapat, menahan rasa perih di perutnya.


“Samuel emang bener bener pengen Michell mati perlahan.” Bisiknya.


Tak lama itu, samuel datang dengan tampang arogannya. Ia masuk begitu saja dan menatapi Michell yang sedang berendam.


“A-apa?” Tanya Michell menahan malu.


Bayangkan saja, Michell sedang telanjang bulat dan samuel berdiri di sana memandanginya. Memang gila!


“Aku harap kamu masih bisa berjalan.”


Michell menyerit.


“Kita akan pergi dari sini.” Tambahnya.


“Loh Kenapa?” Tanya Michell.


“Sudahi kegiatanmu itu. Kita pergi sekarang juga.” Kata samuel dengan nada serius. Sepertinya terjadi sesuatu hal hingga membuat raut wajah samuel tampak panik.


“Ta-tapi Michell baru aja mandi.”


Melihat tatapan tajam yang samuel berikan, membuat Michell merinding.


“I-iya. Michell selesain sekarang.”


“Bagus. Aku tunggu di luar.” Setelah berkata itu, samuel langsung keluar dari sana.


“Itu orang kenapa sih?” Tanya Michell terheran heran.


“Ahkk, bikin kesel aja. Masih pagi loh ini. Huftt..”


Setelah selesai mandi, Michell berjalan keluar menggunakan handuk kimono. Ia sempat bertanya tanya saat melihat bajunya sudah di siapkan di atas kasur.

__ADS_1


“Tumben banget….”


Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, Michell langsung mengenakan pakaian tersebut. Ia juga menata rambutnya serapih mungkin.


Setelah semuanya selesai, Michell berjalan keluar. Langkahnya sangat lambat karena rasa perih di perutnya masih terasa sangat jelas.


“Loh?” Michell menatap samuel dengan bingung saat melihat koper koper yang sudah di berjejer di depan pintu.


“Kita mau pindah?”


Tiba tiba, suara bel terdengar. Samuel yang belum sempat menjawab pertanyaan Michell, segera membuka pintu.


Disana terdapat banyak pria berpakaian jas hitam. Mereka adalah anak buah samuel.


“Kita pergi sekarang.” Ucap samuel pada julio.


Julio mengangguk kemudian menyuruh yang lain untuk membawa koper.


Samuel menyapu wajahnya dengan kasar kemudian mendekati Michell. Ia menggenggam tangan Michell kemudian membawanya pergi dari sana.


“Mmph, sam.” Panggil Michell.


Samuel berhenti sejenak. Ia menatap Michell dan langsung menggendongnya dengan ala bridal style.


Michell hanya bisa pasrah. Ia mengalungkan tangannya di leher samuel dengan erat.


“Baru pertama kali, Michell ngeliat samuel panik kaya gini.” Batin Michell.


“Sebenernya ada apa? Apa yang terjadi sampai ngebuat samuel kaya gini.” Tanya Michell pada dirinya sendiri.


Tibalah mereka di mobil. Tak seperti biasanya, samuel memilih duduk di depan. Seseorang menelfonnya.


“Tuan, ada satu hal penting yang harus anda ketahui.” Ucap seseorang di balik telfon.


“Apa?” Tanya samuel.


“Ada seseorang yang ingin membunuhmu di hotel itu. Ia sudah mengamatimu sejak hari pertama anda di Rusia. Dia sudah menaruh penyadap suara di sebuah kartu.”


“Kartu apa?”

__ADS_1


“Kartu hotel.”


“Cih. Mengada ada. Sejak kapan penyadap suara ada di kartu hotel?” Balas samuel.


“Ini memang terdengar tidak masuk akal. Tapi, kartu itu masih ada pada Michell.”


“Apa? Michell..?!” Samuel yang mendengar itu langsung menoleh kebelakang.


“A-apa?” Tanya michell gugup.


“Kamu megang kartu hotel?” Tanya samuel.


Michell menelan ludahnya dengan kasar. “Lebih baik jujur dari pada engga.” Batinnya.


“Iya.” Jawab Michell pelan.


“Ssshhh…”


“Berikan kartu itu.”


Michell sempat ragu ragu memberikan kartu itu.


“Kamu dapet kartu ini dari mana, hah?” Tanya samuel.


“Resepsionis.”


“Apa?” Sungguh, samuel semakin tidak mengerti.


“Lebih baik, buang kartu itu sekarang.” Kata julio.


Samuel pun setuju. Ia membuka jendela dan membuang kartu itu ke jalan.


“Kamu berhutang padaku, Michell. Kamu harus ngejelasin dari awal sampai akhir saat kita tiba nanti.” Ucap samuel.


Michell pun hanya bisa mengangguk. Sejujurnya ia sangat panik.


“Bagaimana dengan orang suruhan ayah?” Tanya samuel pada seseorang di telfon.


“Untuk saat ini tidak ada pergerakan. Akan lebih baik jika tuan pergi sejauh mungkin dari hotel itu.”

__ADS_1


“Baiklah.”


__ADS_2